Vimax cerita ngentot
Cerita Dewasa Terbaru cerita sex
Cerita Sex Terbaru
Breaking News
Cerita Sex Cerita Sex cerita sex cerita seks Cerita Dewasa

Kisah Sex Threesome Alaybayma

Vimax Cerita Seks ABGQQ Bandar Q, Poker, Domino, dan Sakong Online Terpercaya

Kisah Sex Threesome Alaybayma – Waktu kuliah aqu punya sahabat karib bErnitama Yemima. Meskipun belom tentu sekali setahun berjumpa tetapi semenjak sama-sama kita berkeluarga hingga anak-anak tumbuh dewasa, jalinan persahabatan kita tetap berlanjut. Setaknya setiap bulan kita saling bertelpon. Ada saja masalah
untuk diomongkan. Suatu pagi Yemima telepon bahwa dia baru pulang dari Magelang, kota
kelahirannya. Dia bilang ada oleh-oleh kecil untuk aqu.

kisah sex, Kisah Sex terbaru, Kisah Sex 2017, Kisah Sex Nyata, Kisah Sex Terbaik, Kisah Sex Terhangat, Kisah Sex Tante, KIsah Sex ABGKisah Sex Terbaru

Kalo aqu tak keluar rumah, Lanang anaknya, akan mengantarkannya kerumahku. Ah, repotnya
sahabatku, demikian pikirku. Aqu sambut gembira atas kebaikan hatinya, aqu memang jarang keluar
rumah dan aqu menjawab terima kasih untuk oleh-olehnya. Ah, rejeki ada saja, Yemima pasti
membawakan getuk, makanan tradisional dari Magelang kesukaanku. Aqu tak akan keluar rumah
untuk menunggu si Lanang, yg seingatku sudah lebih dari 10 tahun aqu tak berjumpa dgnnya.

Menjelang tengah hari sebuah jeep Cherokee masuk ke halaman rumahku. Kuintip dari jendela. Dua
orang anak tanggung turun dari jeep itu. Mungkin si Lanang datang bersama kawannya. Ah,
jangkung bener anak Yemima. Aqu buka pintu. Dgn sebuah bingkisan si Lanang naik ke teras rumah

“Selamat siang, Aunty. Ini titipan mama untuk Aunty Ernita. Kenalin ini Dondon kawan saya, Aunty”.
Lanang menyerahkan kiriman dari mamanya dan mengenalkan kawannya padaqu. Aqu sambut
gembira mereka. Oleh-oleh Yemima dan langsung aqu simpan di lemari es-ku biar nggak basi. Aqu
terpesona waktu melihat anak Yemima yg sudah demikian gede dan jangkung itu. Dgn gaya
pakaian dan rambutnya yg trendy sungguh keren anak sahabatku ini. Demikian pula si Dondon
kawannya, mereka berdua adalah pemuda-pemuda masa kini yg sangat tampan dan simpatik. Ah,
anak jaman sekarang, mungkin karena pola makannya sudah maju pertumbuhan mereka jadi subur.
Mereka aqu ajak masuk ke rumah. Kubuatkan minuman untuk mereka.

Kuperhatikan mata si Dondon agak nakal, dia pelototi bahuku, payudaraqu, leherku. Matanya
mengikuti apapun yg sedang aqu laqukan, waktu aqu jalan, waktu aqu ngomong, waktu aqu
mengambil sesuatu. Ah, maklum anak laki-laki, kalo lihat perempuan yg agak melek, biar sudah
tuaan macam aqu ini, tetap saja matanya melotot. Dia juga pinter ngomong lucu dan banyak
nyerempet-nyerempet ke masalah seksual. Dan si Lanang sendiri senang dgn omongan dan kelakar
kawannya. Dia juga suka nimbrung, nambahin lucu sembari melempar senyuman manisnya.

Kita jadi banyak tertawa dan cepat saling akrab. Terus terang aqu senang dgn mereka berdua. Dan
tiba-tiba aqu merasa berlaqu aneh, apakah ini karena naluri perempuanku atau dasar genitku yg
nggak pernah hilang sejak masih gadis dulu, hingga kawan-kawanku sering menyebutku sebagai
perempuan gatal. Dan kini naluri genit macam itu tiba-tiba kembali hadir.

Mungkin hal ini disebabkan oleh tingkah si Dondon yg seakan-akan memberikan celah padaqu untuk
mengulangi peristiwa-peristiwa masa muda. Peristiwa-peristiwa penuh birahi yg selalu mendebarkan
jantung dan hatiku. Ah, dasar perempuan tua yg nggak tahu diri, makian dari hatiku untukku sendiri.
Tetapi gebu libidoku ini demikian cepat menyeruak ke darahku dan lebih cepat lagi ke wajahku yg
langsung terasa bengap kemerahan menahan gejolak birahi mengingat masa laluku itu.

“Aunty, jangan ngelamun. Cicak jatuh karena ngelamun, lho”. Kita kembali terbahak mendengar
kelakar Lanang. Dan kulihat mata Dondon terus menunjukkan minatnya pada bagian-bagian badanku
yg masih mulus ini. Dan aqu tak heran kalo anak-anak muda macam Dondon dan Lanang ini demen
menikmati penampilanku. Meskipun usiaqu yg memasuki tahun ke 42 aqu tetap “fresh” dan “good
looking”. Aqu memang suka merawat badanku sejak muda. Boleh dibilang tak ada kerutan tanda
ketuaan pada bagian-bagian badanku. Kalo aqu jalan sama Oke, suamiku, banyak yg mengira aqu
anaknya atau bahkan “piaraan”nya. Kurang asem, tuh orang.

Dan suamiku sendiri sangat membanggakan kecantikkanku. Kalo dia berkesempatan untuk
membicarakan istrinya, seakan-akan memberi iming-iming pada para pendengarnya hingga aqu
tersipu meskipun dipenuhi rasa bangga dalam hatiku. Beberapa kawan suamiku terlihat sering
tergoda untuk mencuri pandang padaqu. Tiba-tiba aqu ada ide untuk menahan kedua anak ini.

“Hai, bagaimana kalo kalian makan siang di sini. Aqu punya resep masakan yg gampang, cepat dan
sedap. Sementara aqu masak kamu bisa ngobrol, baca tuh majalah atau pakai tuh, komputer si oom.
Kamu bisa main game, internet atau apa lainnya. Tapi jangan cari yg ‘enggak-enggak’, ya..”, aqu
tawarkan makan siang pada mereka.

Tanpa konsultasi dgn kawannya si Dondon langsung iya saja. Aqu tahu mata Dondon ingin menikmati
sensual badanku lebih lama lagi. Si Lanang ngikut saja apa kata Dondon. Sementara mereka buka
komputer aqu ke dapur mempersiapkan masakanku. Aqu sedang mengiris sayuran ketika tahu-tahu
Dondon sudah berada di belakangku. Dia menanyaiku, “Aunty dulu kawan kuliah mamanya Lanang,
ya. Kok kayanya jauh banget, sih?”.

“Apanya yg jauh?, aqu tahu maksud pertanyaan Dondon.
“Iya, Aunty pantesnya se-umur dgn kawan-kawanku”.
“Gombal, ah. Kamu kok pinter nge-gombal, sih, Don”.
“Bener. Kalo nggak percaya tanya, deh, sama Lanang”, lanjutnya sembari melototi pahaqu.
“Aunty hobbynya apa?”.
“Berenang di laut, skin dan scuba diving, makan sea food, makan sayuran, nonton Discovery di TV”.
“Ooo, pantesan”.
“Apa yg pantesan?”, sergapku.
“Pantesan body Aunty masih mulus banget”.

Kurang asem Dondon ini, tanpa kusadari dia menggiring aqu untuk mendapatkan peluang
melontarkan kata-kata “body Aunty masih mulus banget” pada badanku. Tetapi aqu tak akan pernah
menyesal akan giringan Dondon ini. Dan reaksi naluriku langsung membuat darahku terasa serr..,
libidoku muncul terdongkrak. Setapak demi setapak aqu merasa ada yg bergerak maju. Dondon
sudah menunjukkan keberaniannya untuk mendekat ke aqu dan punya jalan untuk mengungkapkan
kenakalan ke-lelakian-nya.

“Ah, mata kamu saja yg keranjang”, jawabku yg langsung membuatnya tergelak-gelak.
“Papa kamu, ya, yg ngajarin?, lanjutku.
“Ah, Aunty, masak kaya gitu aja mesti diajarin”.
Ah, cerdasnya anak ini, kembali aqu merasa tergiring dan akhirnya terjebak oleh
pertanyaanku sendiri.

“Memangnya pinter dgn sendirinya?”, lanjutku yg kepingin terjebak lagi.
“Iya, dong, Aunty. Aqu belom pernah dengar ada orang yg ngajari gitu-gitu-an”.
Ah, kata-kata giringannya muncul lagi, dan dgn senang hati kugiringkan diriku.
“Gitu-gituan gimana, sih, Don sayg?”, jawabku lebih progresif.

“Hoo, bener sayg, nih?”, sigap Dondon.
“Habis kamu bawel, sih”, sergahku.
“Sudah sana, temenin si Lanang tuh, n’tar dia kesepian”, lanjutku.
“Si Lanang, mah, senengnya cuma nonton”, jawabnya.
“Kalo kamu?”, sergahku kembali.

“Kalo saya, action, Aunty sayg”, balas saygnya.
“Ya, sudah, kalo mau action, tuh ulek bumbu tumis di cobek, biar masakannya cepet mateng”,
ujarku sembari memukulnya dgn manis.
“Oo, beres, Aunty sayg”, dia tak pernah mengendorkan serangannya padaqu.

Kemudian dia menghampiri cobekku yg sudah penuh dgn bumbu yg siap di-ulek. Beberapa
waktu kemudian aqu mendekat ke dia untuk melihat hasil ulekannya.
“Uh, baunya sedap banget, nih, Aunty. Ini bau bumbu yg mirip Aunty atau bau Aunty
yg mirip bumbu?”.

Kurang asem, kreatif banget nih anak, sembari ketawa ngakak kucubit pinggangnya keras-keras
hingga dia aduh-aduhan. Seketika tangannya melepas pengulekan dan menarik tanganku dari
cubitan di pinggangnya itu. Waktu terlepas tangannya masih tetap menggenggam tanganku, dia
melihat ke mataqu. Ah, pandangannya itu membuat aqu gemetar. Akankah dia berani berbuat lebih
jauh? Akankah dia yakin bahwa aqu juga merindukan kesempatan macam ini? Akankah dia akan
mengisi gejolak hausku? Petualanganku? Nafsu birahiku?

Aqu tak memerlukan jawaban terlampau lama. Bibir Dondon sudah mendarat di bibirku. Kini kita
sudah berpagutan dan kemudian saling melumat. Dan tangan-tangan kita saling berpeluk. Dan
tanganku meraih kepalanya serta mengelusi rambutnya. Dan tangan Dondon mulai bergeser
menerobos masuk ke blusku. Dan tangan-tangan itu juga menerobosi BH-ku untuk kemudian
meremasi payudaraqu. Dan aqu mengeluarkan desahan nikmat yg tak terhingga. Nikmat kerinduan
birahi menggauli anak muda yg seusia anakku, 22 tahun di bawah usiaqu.

“Aunty, aqu nafsu banget lihat body Aunty. Aqu pengin menciumi body Aunty. Aqu pengin menjilati
body Aunty. Aqu ingin menjilati kemaluan Aunty. Aqu ingin ngentot Aunty”. Ah, seronoknya mulutnya.
Kata-kata seronok Dondon melahirkan sebuah sensasi erotik yg membuat aqu menggelinjang hebat.
Kutekankan selangkanganku mepet ke selangkangnnya hingga kurasakan ada jendolan panas yg
mengganjal. Pasti kemaluan Dondon sudah ngaceng banget.

Kuputar-putar pinggulku untuk merasakan tonjolannya lebih dalam lagi. Dondon mengerang.Dgn tak
sabaran dia angkat dan lepaskan blusku. Sementara blus masih menutupi kepalaqu bibirnya sudah
mendarat ke ketiakku. Dia lumati habis-habisan ketiak kiri kemudian kanannya. Aqu merasakan
nikmat di sekujur urat-uratku. Dondon menjadi sangat liar, maklum anak muda, dia melepaskan
gigitan dan kecupannya dari ketiak ke dadaqu.

Dia kuak BH-ku dan keluarkan payudaraqu yg masih terlihat ranum. Dia isep-isep bukit dan pentilnya
dgn penuh nafsu. Suara-suara erangannya terus mengiringi setiap sedotan, jilatan dan gigitannya.
Sementara itu tangannya mulai merambah ke pahaqu, ke selangkanganku. Dia lepaskan kancing-
kancing kemudian dia perosotkan hotpants-ku. Aqu tak mampu mengelak dan aqu memang tak akan
mengelak. Birahiku sendiri sekarang sudah terbakar hebat. Gelombang dahsyat nafsuku telah
melanda dan menghanyutkan aqu. Yg bisa kulaqukan hanyalah mendesah dan merintih menanggung
derita dan siksa nikmat birahiku.

Begitu hotpants-ku merosot ke kaki, Dondon langsung setengah jongkok menciumi celana dalamku.
Dia kenyoti hingga basah kuyup oleh ludahnya. Dgn nafsu besarnya yg kurang sabaran tangannya
memerosotkan celana dalamku. Kini bibir dan lidahnya menyergap kemaluan, bibir dan kelentitku. Aqu
jadi ikutan tak sabar.

“Dondon, Aunty udah gatal banget, nih”.
“Copot dong celanamu, aqu pengin menciumi kamu punya, kan”.

Dan tanpa protes dia langsung berdiri melepaskan celana panjang berikut celana dalamnya.
kemaluannya yg ngaceng berat langsung mengayun kaqu seakan mau nonjok aqu. Kini aqu ganti yg
setengah jongkok, kukulum kemaluannya. Dgn sepenuh nafsuku aqu jilati ujungnya yg sobek
merekah menampilkan lubang kencingnya. Aqu merasakan precum asinnya waktu Dondon
menggerakkan bokongnya ngentot mulutku. Aqu raih pahanya biar arah kemaluannya tepat ke
lubang mulutku.

“Aunty, aqu pengin ngentot kemaluan Aunty sekarang”. Aqu tak tahu maunya, belom juga aqu puas
mengulum kemaluannya dia angkat badanku. Dia angkat satu kakiku ke meja dapur hingga
kemaluanku terbuka. Kemudian dia tusukkannya kemaluannya yg lumayan gede itu ke kemaluanku.

Aqu menjerit tertahan, sudah lebih dari 3 bulan Oke, suamiku nggak nyenggol-nyenggol aqu. Yg
sibuklah, yg rapatlah, yg golflah. Terlampau banyak alasan untuk memberikan waktunya padaqu. Kini
kegatalan kemaluanku terobati, Kocokkan kemaluan Dondon tanpa kenal henti dan semakin cepat.
Anak muda ini maunya serba cepat. Aqu rasa sebentar lagi air maninya pasti muncrat, sementara aqu
masih belom sepenuhnya puas dgn entotannya.

Aqu harus menunda agar nafsu Dondon lebih terarah. Aqu cepat tarik kemaluanku dari tusukkannya,
aqu berbalik sedikit nungging dgn tanganku bertumpu pada tepian meja. Aqu pengin dan mau
Dondon nembak kemaluanku dari arah belakang. Ini adalah gaya favoritku. Biasanya aqu akan cepat
orgasme waktu dientot suamiku dgn cara ini. Dondon tak perlu menunggu permintaanku yg kedua.
kemaluannya langsung di desakkan ke mem*kku yg telah siap untuk melahap kemaluannya itu.

Nah, aqu merasakan enaknya kemaluan Dondon sekarang. Pompaannya juga lebih mantab dgn
bokongku yg terus mengimbangi dan menjemput setiap tusukan kemaluannya. Ruang dapur jadi riuh
rendah.

Selintas terpikir olehku, di mana si Lanang. Apakah dia masih berkutat dgn komputernya? Atau dia
sedang mengintip kita barangkali? Tiba-tiba dalam ayunan kemaluannya yg sudah demikian keras
dan berirama Dondon berteriak.

“Nang, Lanang, ayoo, bantuin aqu .., Nang..”.
Ah, kurang asem anak-anak ini. Jangan-jangan mereka memang melaqukan konspirasi untuk
mengentotku waktu ada kesempatan disuruh mamanya untuk mengirimkan oleh-oleh itu. Kemudian
kulihat Lanang dgn tenangnya muncul menuju ke dapur dan berkata ke Dondon

“Gue kebagian apanya Don?’
“Tuh, lu bisa ngentot mulutnya. Dia mau kok”.

Duh, kata-kata seronok yg mereka ucapkan dgn kesan seolah-olah aqu ini hanya obyek mereka. Dan
anehnya ucapan-ucapan yg sangat tak santun itu demikian merangsang nafsu birahiku, sangat
eksotik dalam khayalku. Aqu langsung membaygkan seolah-olah aqu ini anjing mereka yg siap
melayani apapun kehendak pemiliknya.

Aqu melenguh keras-keras untuk merespon gaya mereka itu. Kulihat dgn tenangnya Lanang
mencopoti celananya sendiri dan lantas meraih kepalaqu dgn tangan kirinya, dijambaknya rambutku
tanpa menunjukkan rasa hormat padaqu yg adalah kawan mamanya itu, untuk kemudian ditariknya
mendekat ke kemaluannya yg telah siap dalam genggaman tangan kanannya. kemaluan Lanang
terlihat kemerahan mengkilat. Kepalanya menjamur besar diujung gagangnya.

Waktu bibirku disentuhkannya aroma kemaluannya menyergap hidungku yg langsung membuat aqu
kelimpungan untuk selekasnya mencaplok kemaluan itu. Dgn penuh kegilaan aqu lumati, jilati kulum,
gigiti kepalanya, gagangnya, pangkalnya, biji pelernya. Tangan Lanang terus mengendalikan kepalaqu
mengikuti keinginannya. Terkadang dia buat maju mundur agar mulutku memompa, terkadang dia
tarik keluar kemaluannya menekankan gagangnya atau pelirnya agar aqu menjilatinya.

Duh, aqu mendapatkan sensasi kenikmatan seksualku yg sungguh luar biasa. Sementara di belakang
sana si Dondon terus menggenjotkan kemaluannya keluar masuk menembusi kemaluannya sembari
jari-jarinya mengutik-utik dan disogok-sogokkannya ke lubang bokongku yg belom pernah aqu
mengalami cara macam itu. Oke, suamiku adalah lelaki konvensional.

Waktu dia menggauliku dia laqukan secara konvensional saja. Sehingga waktu aqu merasakan
bagaimana perbuatan kawan dan anak sahabatku ini aqu merasakan adanya sensasi baru yg benar-
benar hebat melanda aqu. Kini 3 lubang erotis yg ada padaqu semua dijejali oleh nafsu birahi
mereka. Aqu benar-benar jadi lupa segala-galanya. Aqu mengenjot-enjot bokongku untuk
menjemputi kemaluan dan jari-jari tangan Dondon dan mengangguk-anggukkan kepalaqu untuk
memompa kemaluan Lanang.

“Ah, Aunty, mulut Aunty sedap banget, sih. Enak kan, kemaluanku. Enak, kan? Sama kemaluan Oom
enak mana? N’tar Aunty pasti minta lagi, nih”.

Dia percepat kendali tangannya pada kepalaqu. Ludahku sudah membusa keluar dai mulutku.
kemaluan Lanang sudah sangat kuyup. Sesekali aqu berhenti sessat untuk menelan ludahku.

Tiba-tiba Dondon berteriak dari belakang, “Aqu mau keluar nih, Aunty. Keluarin di kemaluan atau mau diisep, nih?”.

Ah, betapa nikmatnya bisa meminum air mani anak-anak ini. Mendengar teriakan Dondon yg terlihat
sudah kebelet mau muncratkan air maninya, aqu buru-buru lepaskan kemaluan Lanang dari
mulutku. Aqu bergerak dgn cepat jongkok sembari mengangakan mulutku tepat di ujung kemaluan
Dondon yg kini penuh giat tangannya mengocok-ocok kemaluannya untuk mendorong agar air
maninya cepat keluar.

Kudengar mulutnya terus meracau, “Minum air maniku, ya, Aunty, minum ya, minum, nih, Aunty,
minum ya, makan air maniqu ya, Aunty, makan ya, enak nih, Aunty, enak nih air maniku, Aunty,
makan ya..”.

Air mani Dondon muncrat-muncrat ke wajahku, ke mulutku, ke rambutku. Sebagian lain terlihat
mengalir di gagang dan tangannya. Yg masuk mulutku langsung aqu kenyam-kenyam dan kutelan. Yg
meleleh di gagang dan tanganannya kujilati kemudian kuminum pula.

Kemudian dgn jari-jarinya Dondon mengorek yg muncrat ke wajahku kemudian disodorkannya ke
mulutku yg langsung kulumati jari-jarinya itu. Ternyata waktu Lanang menyaksikan apa yg dikerjakan
Dondon dia nggak mampu menahan diri untuk mengocok-ocok juga kemaluannya. Dan beberapa
waktu sesudah kemaluan Dondon menyemprotkan air maninya, menyusul kemaluan Lanang
memuntahkan banyak air maninya ke mulutku. Aqu menerima semuanya seolah-olah ini hari pesta
ulang tahunku. Aqu merasakan rasa yg berbeda, air mani Dondon serasa madu manisnya, sementara
air mani Lanang sangat gurih seperti air kelapa muda.

Dasar anak muda, nafsu mereka tak pernah bisa dipuaskan. Belom sempat aqu istirahat mereka
mengajak aqu ke ranjang pengantinku. Mereka nggak mau tahu kalo aqu masih mengagungkan
ranjang pengantinku yg hanya Oke saja yg boleh ngentot aqu di atasnya. Setengahnya mereka
menggelandang aqu memaksa menuju kamarku.

Aqu ditelentangkannya ke kasur dgn bokongku berada di pinggiran ranjang. Lanang menjemput satu
tungkai kakiku yg dia angkatnya hingga nempel ke bahunya. Dia tusukan kemaluannya yg tak surut
ngacengnya sesudah sedemikian banyak menyemprotkan air mani untuk menyesaki kemaluanku,
kemudian dia pompa kemaluanku dgn cepat kesamping kanan, kiri, ke atas, ke bawah dgn penuh
irama.

Aqu merasakan ujungnya menyentuh dinding rahimku dan aqu langsung menggelinjang dahsyat.
Bokongku naik turun menjemput tusukan-tusukan kemaluan legit si Lanang. Sementara itu Dondon
menarik badanku agar kepalaqu bisa menciumi dan mengisap kemaluannya. Kita bertiga kembali
mengarungi samudra nikmatnya birahi yg nikmatnya tak terperi.

Hidungku menikmati banget aroma yg menyebar dari selangkangan Dondon. Jilatan lidah dan
kuluman bibirku liar melata ke seluruh kemaluan Dondon. Kemudian untuk memenuhi kehausanku
yg amat sangat, paha Dondon kuraih ke atas ranjang sehingga satu kakinya menginjak ke kasur dan
membuat posisi bokongnya menduduki wajahku. Dgn mudah tangan Dondon meraih dan meremasi
susu-susu dan pentilku.

Sementara hidungku setengah terbenam ke celah bokongnya dan bibirku tepat di bawah akar
pangkal kemaluannya yg keras menggembung. Aqu menggosok-gosokkan keseluruhan wajahku ke
celah bokongnya itu sembari tangan kananku ke atas untuk ngocok kemaluan Dondon. Duh, aqu kini
tenggelam dalam aroma nikmat yg tak terhingga. Aqu menjadi kesetanan menjilati celah bokong
Dondon.

Aroma yg menusuk dari bokongnya semakin membuat aqu liar tak terkendali. Sementara di bawah
sana Lanang yg rupanya melihat bagaimana aqu begitu liar menjilati bokong Dondon langsung dgn
buasnya menggenjot kemaluanku. Dia memperdengarkan racauan nikmatnya,

“Aunty, kemaluanmu enak, Aunty, kemaluanmu aqu entot, Aunty, kemaluanmu aqu entot, ya, enak,
nggak, heh?, Enak ya, kemaluanku, enak Aunty, kemaluanku?”. Aqu juga membalas erangan,
desahan dan rintihan nikmat yg sangat dahsyat. Dan ada yg rasa yg demikian exciting merambat dari
dalam kemaluanku.

Aqu tahu orgasmeku sedang menuju ke ambang puncak kepuasanku. Gerakkanku semakin menggila,
semakin cepat dan keluar dari keteraturan. Kocokkan tanganku pada kemaluan Dondon semakin
kencang. Naik-naik bokongku menjemputi kemaluan Lanang semakin cepat, semakin cepat, cepat,
cepat, cepat.

Dan teriakanku yg rasanya membahana dalam kamar pengantinku tak mampu kutahan, meledak
menyertai bobolnya pertahanan kemaluanku. Cairan birahiku tumpah ruah membasah dab
membusa mengikuti gagang kemaluan yg masih semakin kencang menusukki kemaluanku. Dan aqu
memang tahu bahwa Lanang juga hendak melepas air maninya yg kemudian dgn rintihan nikmatnya
akhirnya menyusul sedetik sesudah cairan birahiku tertumpah. Kakiku yg sejak tadi telah berada
dalam pelukannya disedoti dan gigitinya hingga meninggalkan cupang-cupang kemerahan.

Sementara Dondon yg sedang menggapai menuju puncak pula, meracau agar aqu mempercepat
kocokkan kemaluannya sembari tangannya keras-keras meremasi payudaraqu hingga aqu
merasakan pedihnya. Dan waktu puncaknya itu akhirnya datang, dia lepaskan genggaman tanganku
untuk dia kocok sendiri kemaluannya dgn kecepatan tinggi hingga air maninya muncrat semburat
tumpah ke badanku.

Aqu yg tetap penasaran, meraih gagang yg berkedut-kedut itu untuk kukenyoti, mulutku mengisap-
isap cairan maninya hingga akhirnya segalanya reda. Jari-jari tanganku mencoleki air mani yg
tercecer di badanku untuk aqu jilat dan isap guna mengurangi dahaga birahiku.

Sore harinya, meskipun aqu belom sempat merasakan getuk kirimannya yg kini berada dalam lemari
esku dgn penuh semangat dan terima kasih aqu menelepon Yemima.

“Wah, terima kasih banget atas kirimannya, ya Yen. Karena sudah lama aqu tak merasakannya, huh,
nikmat banget rasanya. Ada gurihnya, ada manisnya, ada legitnya”, kataqu sembari selintas
mengingat kenikmatan yg aqu raih dari Lanang anaknya dan Dondon kawannya.

Yemima tertawa senang sembari menjawab, “Nyindir, ya. Memangnya kerajinan tanduk dari Pucang
(sebuah desa di utara Magelang yg menjadi pusat kerajinan dari tanduk kerbau) itu serasa getuk
kesukaanmu itu. N’tar deh kalo aqu pulang lagi, kubawakan sekeranjang getukmu”.

Cerita Dewasa Bandar Domino, Poker Online, Domino QQ, Domino Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.