Vimax cerita ngentot Cerita Seks Cerita Dewasa Cerita HOt Terbaru Cerita Sex Terbaru
Cerita Dewasa Terbaru Cerita Dewasa Terbaru
Cerita Sex Terbaru
Breaking News
Cerita Dewasa Terbaru
Cerita Sex online online online online banner-agenqq-728x90-2 banner-raja3651

Cerita Rahasia 6

Vimax

Kumpulan Kisah Dewasa, Kisah Dewasa nyata, kisah dewasa terhangat, “Bang… kalo buat aqu, Bang Adi adalah cowok yang paling spesial,” ucapnya dengan nafas yang memburu.

Kisah Dewasa, Kisah Dewasa nyata, kisah dewasa terhangat

Ia kembali melumat bibirku, ciumannya sangat brutal, sangat terlihat kalo ia sudah berpengalaman. Lidahnya masuk ke dalem mulutku dan mencoba bersentuhan dengan lidahku. Sisi binal Ghea muncul keluar, ia bahkan sesekali menggigit bibirku. Aqu jadi kewalahan, dibandingkan dengannya, aqu masih sangat culun.

baca juga Gelorabirahi.com

Tapi aqu tidak mo kalah. Langsung kubalikkan badannya sehingga ia ada di bawhhahku. Kusibak rambut panjangnya yang indah, lalu kuciumi lehernya. Ia menrintih menahan geli.

“Awhh! Geli!” ia menjerit pelan.

Tanganku terus meremas-remas payudaranya, sesekali memilin pentilnya yang sudah mulai menegang. Sejujurnya, aqu tak menyangka hal seperti ini akan terjadi sewaktu mengajaknya masuk ke dalem kamar. Tapi aqu sungguh tak bisa menolak Ghea.

Ciumanku turun dari leher ke belahan dadanya, lalu ke pentil kanannya. Kujilat-jilat pentilnya, ia pun menrintih semakin keras.

“Aaah… Mmmmh….” suaranya sangat merdu, rasanya aqu tidak ingin berhenti mendengarnya.

Aqu bergantian menghisap kedua pentilnya, dan ia terus-menerus mengelus-elus rambutku.

“Mmmh…Lebih besar mana sama punya Shana?” ia bergumam sembari menrintih, melemparkan satu pertanyaan yang tidak perlu dijawab. Aqu tak ingin membicarakan Shana, karena yang ada di hadapanku sekarang adalah Ghea. Jawabannya sudah jelas, payudara Ghea lebih besar dan lebih nikmat.

Srurrrpt!

“Awhhwwh!”

“Enak?” tanyaqu.

“Bingit!”

Ciumanku turun dari payudaranya ke parah perutnya yang ramping. Kumainkan lidahku di sekeliling pusarnya, Ghea menggelinjang kegelian. Sementara itu tanganku melepaskan celana jeans-nya secara perlahan-lahan. Ghea tampak tidak keberatan, ia bahkan membantu membubangan celananya.

Setelah celana jeans-nya terbuka, aqu dapat melihat celana dalem putih yang ia kenakan. Aqu mengelus-elus kedua pahanya yang mulus, lalu menciumi lututnya. Ghea tampak kegelian dan menggerak-gerakkan pinggulnya.

“Jangan gerak-gerak, nanti kepalaqu kena tendang!” protesku.

“Sorry! Abisnya geli!”

Ciumanku menjalar dari lutut, ke pahanya, lalu ke selangkangannya. Cuma ini cara yang kutahu untuk memuaskan perempuan, cuma sampai hal ini saja batas pengalamanku. Aqu memerosotkan celana dalem Ghea, dan terlihatlah kemaluannya yang sudah dicukur bersih dan mulus. Kepala Ghea menengadah, memandangi langit-langit kamar kostku. Dengan gerakan yang lihai, aqu langsung menjilati kemaluan Ghea. Ia pun semakin berkelojotan, terpaksa aqu memegangi kedua kakinya.

“Aaaaah… uuuh… Bang Adi.. baru pertama kalinya aqu diginiin… Uuuh… Gag tahan….”

Jilatanku semakin binal. Kumasukkan lidahku ke sela-sela lubang kemaluannya, lalu kugerak-gerakkan. Tak lupa semua teknik oral yang pernah kulihat di film dewasa kupraktekkan pada kemaluannya. Ia semakin merasa nikmat, rintihannya berubah jadi jeritan-jeritan tertahan, lalu erangan yang sangat merdu.

“Gilaaaa…. Arrrghhhh….!” Ghea mengerang panjang, namun aqu menghentikan permainanku. Tiba-tiba saja aqu merasa seperti mengalami de javu. Beberapa detik tadi aqu sempat lupa kalo kemaluan yang ada di hadapanku adalah milik Ghea, bukan Shana.

“Hah.. hah… Kenapa berenti…?” keluh Ghea manja.

“Ngg.. Gag apa-apa…” jawabku.

“Udah gag tahan… masukin aja Bang.”

Aqu termenung mendengar permintaannya,

“Masukin?”

Ghea menatapku, matanya seperti heran kenapa aqu bertanya.

“Iya, masukin punya Bang Adi…Kemaluan Bang Adi… uuhh.”

Aqu ingat aqu belum pernah melaqukan ini, karena Shana selalu melarangku menembus keperawannya. Mungkin Ghea memang sudah tidak perawhhan, tapi entah kenapa aqu jadi merasa agak canggung.

Melihatku yang tak juga menuruti permintaannya, Ghea bangkit dari posisi tidurnya, lalu bergegas membuka celanaqu. Dengan gerakan yang seperti sudah terlatih, ia segera mengeluarkan kemaluanku yang sudah berdiri tegang. Lalu ia menggenggamnya menggunakan tangan kanannya.

“Aqu bikin lebih tegang lagi ya Bang, tapi jangan keluar dulu.”

Ghea mengocok-ngocok kemaluanku dengan tangannya, lalu tanpa ragu ia langsung memasukkan kemaluanku ke dalem mulutnya. Ia menghisapnya dengan lembut, batang kemaluanku terasa disedot sampai ke bagian terdalemnya.

“Oooohh…” aqu menrintih tak tertahankan, Ghea masih terus menghisap kemaluanku, sesekali kepalanya maju mundur.

Lalu ia menghentikan gerakan kepalanya dan malah mendorong pinggulku ke arah mulutnya.

“Bang…. entotin mulut Ghea…” ucapnya dengan suara yg sulit terdengar karena kemaluanku masih ada di mulutnya.

Aqu terkesima dengan permintaannya yang berani itu, tapi aqu tak mungkin menolak. Dengan kedua tangan, aqu memegangi kepalanya dan rambutnya yang hitam panjang. Kudorong kemaluanku ke arah mulutnya, lalu kutarik sedikit. Kudorong lagi, tarik lagi. Semakin lama kemaluanku terdorong masuk semakin dalem ke mulutnya, hampir ke tenggorokannya. Rasanya sungguh luar biasa, tulang belakangku seperti mau lumer saja.

Dengan gairah yang membumbung tinggi, aqu menggenjot mulut Ghea, semakin lama semakin cepat. Sesekali Ghea seperti hampir terbatuk-batuk, tapi ia menolak untuk melepaskan kemaluanku. Sampai pada saat sodokan kemaluanku di mulutnya menjadi sangat kuat, Ghea menarik mulutnya, ia batuk berat dan hampir muntah, air liur menetes dari mulutnya yang sejak tadi tak bisa bergerak.

“Ghe, kamu gag apa-apa? Sorry ya, sorry!” ucapku khawhhatir melihatnya.

“Hoek! Uhuk uhuk! MMmmmng…. Gag apa-apa… Hemmm….Gag apa-apa kok,” jawabnya sembari berusaha tersenyum.

Setelah nafasnya kembali tenang, ia telentang di atas kasur, lalu menuntun kemaluanku ke dekat kemaluannya. Sembari menggenggam kemaluanku, ia menggesek-gesekkannya ke bibir kemaluannya yang sudah basah. Ia ingin aqu memasukkannya.

“Kamuu yakin, Ghe?” tanyaqu.

Mendengar pertanyaanku, Ghea tertawa cekikikan.

“Biasa aja kali, Bang. Gag usah gugup gitu.”

“Oh kamu udah sering ya?” tanyaqu.

“Gag sering, pernah sekali. Tapi buat Bang Adi, berapa kali pun boleh.”

Aqu mendorong kemaluanku ke bibir kemaluannya. Rasanya sangat sempit, aqu sampai tidak tahu harus mendorongnya seperti apa.

“Nih aqu bantuin Bang, pelan-pelan ya,” ucap Ghea.

Dengan bantuan dari tangan Ghea dan gerakan pinggulnya, akhirnya kemaluanku bisa masuk juga ke dalem kemaluannya. Rasanya sungguh luar biasa. Rasa hangat, lembut, dan jepitan dinding-dindingnya di batangku membuat pikiranku melayang entah kemana. Aqu memeluk badan Ghea dan mencium bibirnya, lalu Ghea berbisik.

“Bang Adi gag usah nungguin Shana lagi ya? Kalo sama aqu, semuanya aqu kasih…”

Aqu mulai menggerakkan pinggulku perlahan-lahan. Kemaluanku keluar masuk di kemaluan Ghea, bergesekan tanpa henti, merasakan cengkraman kemaluannya yang sangat kuat.

“Ahhh…”

“Ooohh… gimana bang rasanya kehilangan keperjakaan?” ledek Ghea sembari berusaha tertawa.

“Rasanya… rasanya kaya begini…” aqu mempercepat genjotanku, membuat sodokan-sodokanku semakin kuat.

“Ahhh! Ahh! Ohh! Nikmat!” Ghea menjerit-jerit setiap kali kemaluanku menusuk bagian dalem kemaluannya.

“Iya, nikmat. Ohh ohh!”

Lama-kelamaan genjotan pinggulku semakin stabil, Ghea juga sepertinya semakin bisa mengendalikan nafas. Aqu meremas-remas payudaranya, lalu mengecup bibirnya. Sembari terus menggenjot, aqu mengambil kacamata Ghea yang tadi ia lepas di dekat kasur. Lalu aqu memakaikan kacamata itu pada Ghea, ia tersenyum melihat tingkahku.

“Kayanya kamu lebih seksi kalo pakai kacamata,” ucapku menggodanya.

Permainan kita semakin lama semakin intens. Sesekali aqu memutar-mutar kemaluanku di dalem kemaluan Ghea, membuat dia menggelinjang. Sesekali juga aqu mencampur antara genjotan cepat dan gesekan lembut.

Setengah jam berlalu, permainan kita mulai mendekati klimaksnya. Aqu dapat merasakan kemaluanku seperti akan meledak, sementara Ghea sudah terengah-engah dan tak bisa berkata apa-apa lagi selain rintihan dari mulutnya.

“Ah… ah… ah… Bang… Ah… Ah.. oh… sebentar lagi… “

“Ugghh… Ghe… Ohhh… sama… juga… ahhh”

Dalem keadaan seperti itu suasana kamar di sekelilingku seperti lenyap. Itulah kenapa aqu tak sadar ketika ada orang yang mengetuk-ngetuk pintu kamarku. Aqu tak menggubrisnya, aqu terus menggenjot Ghea tanpa henti. Hingga aqu sadar kalo pintu kamarku tadi lupa dikunci, dan terbukalah pintu kamar itu, lalu Shana melangkahkan kakinya masuk.

Shana melihatku. Shana melihat kita. Ekspresi wajahnya sangat pucat ketika ia membuka pintu kamarku lalu memergoki aqu dan Ghea yang sedang bercinta dengan penuh gelora. Mata Shana melotot, seolah tak percaya dengan apa yang dia lihat.

Anehnya, aqu tak bisa menghentikan gerakanku. Ghea juga sepertinya sudah tak sanggup lagi memikirkan keadaan di sekelilingnya. Sembari disaksikan oleh Shana yang mematung karena shock di depan pintu, aqu mempercepat genjotanku di kemaluan Ghea, hingga akhirnya aqu dan Ghea mencapai klimaks secara bersamaan.

“Aaaaaarghhh!!! Aaaaah!” aqu dan Ghea menjerit hampir bersamaan, seolah seperti paduan suara yang sedang menyanyikan nada tinggi.

Air maniqu muncrat di dalem kemaluan Ghea, sementara Ghea mengeluarkan jeritan panjang dan punggungnya melengkung seperti busur. Badan kita lumer menjadi satu, keringat kita bercampur dalem jeritan.

Shana masih di depan pintu, seperti patung yang beku. Kecuali air matanya yang perlahan-lahan menetes keluar, memperhatikan aqu dan Ghea yang masih terengah-engah menikmati sisa klimaks kita. Air mata Shana semakin banyak keluar, dan ketika hampir membanjiri pipinya, ia pun membalikkan badan dan lari sekencang-kencangnya dari kamar kost-ku.

Aqu bertanya-tanya dalem hati. Kenapa Shana menangis? Kenapa? Entah mengapa, aqu juga jadi ingin menangis. Tapi Ghea segera memeluk kepalaqu dan mendekapnya. Kita tertidur di atas kasur, di dalem kamar, dengan pintu yang terbuka.

cerita sex terbaru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.