Vimax cerita ngentot Cerita Seks Cerita Dewasa Cerita HOt Terbaru Cerita Sex Terbaru
Cerita Dewasa Terbaru Cerita Dewasa Terbaru
Cerita Sex Terbaru
Breaking News
Cerita Dewasa Terbaru
Cerita Sex online online online online banner-agenqq-728x90-2 banner-raja3651

Cerita Rahasia 4

Vimax

Kumpulan Cerita Hot terhangat, Cerita Hot Nyata, Cerita Hot, Sejak rona merah di wajah Shana muncul ketika itu, ia jadi berubah. Aqu merasa kalau ia sedikit demi sedikit mulai menjaga jarak dariku. Tak cuma aqu, bahkan ia juga jarang berkumpul dengan genkz Power Rangers. Shinta yang biasanya paling dekat dengan Shana, ikut-ikutan mengeluh.

Cerita Hot terhangat, Cerita Hot Nyata, Cerita Hot

“Bocah itu kemana aja sih? Kayanya tiap kali kita ajak ngumpul dia sekemudian ada halangan deh,” ucap Shinta ketika kita berempat sedang nongkrong di kafe.

Kunjungi juga gelorabirahi.com

“Mana aqu tau. Kan biasanya loeee yang paling deket sama dia?” ucap Rendy sambil mengutak-atik hp-nya.

“Iya, Shin. Biasanya kalian sekemudian berdua kemana-mana, koq tumben pisah?” tanya Gilang ikut bingung.

Aqu hanya menyimak obrolan mereka sambil menyuap potongan kuih. Dalem hati aqu bisa menduga, mungkin ada hubungannya dengan orang yang menelepon Shana kala itu….sewaktu ia habis memberiku oral seks.

“Aqu curiga ada hubungannya sama lelaki itu…,” ucap Shinta, membuat tenggorokanku tersedak dan nyaris batuk.

“Lelaki?” tanya Gilang,

“Punya pacar dia?”

“Masa? Si kutilang darat punya pacar?” timpal Rendy.

“Ga tau deh. Kayanya sih gitu. Aqu pernah liat dia jalan sama lelaki itu. Kalau gag salah sih alumni kampus kita,” ucap Shinta,

“Aqu gagk masalah kaloee Si Shana mau pacaran atau mau kawin sekalian, tapi gag perlu ditutup-tutupin kan?”

“Ah loeee iri kali… Jombloee berapa taun loee?” ledek Rendy.

“Haha. Aqu sih syukur si Shana punya lelaki. Aqu sempet ngira kalian berdua lesbi!” ucap Gilang diikuti tawa Rendy, aqu juga ikut tertawa. Shinta hanya mencibir.

Esoknya, aqu kembali mencoba mengirim sms pada Shana. Bukan untuk minta “servis” sih, cuma ingin tahu kabarnya saja, karena sudah beberapa hari dia tak masuk kuliah. Tapi ternyata dia tak membalas. Kekhawatiranku semakin memuncak sehingga akhirnya aqu putuskan untuk menelponnya.

“Haloee, Shan,” ucapku.

“Haloee, Di. Sorry… tadi aqu ga liat ada SMS,” jawabnya.

Ada setetes kesejukan di dalem dadaqu ketika mendengar suara Shana. Seperti air oase yang membasuh kerinduan.

“Kemana aja? Bocah-bocah pada nyariin tuh. Si Shinta juga,” ucapku.

“Iya, aduh sorry. Aqu lagi ada proyekan yang mesti aqu kerjain sekarang-sekarang ini. Tapi nanti kalau udah selesai, aqu pasti——”

Ucapannya terputus. Ada sebuah suara yang menyelanya. Suara laki-laki. Aqu tak terkemudian jelas mendengarnya, tapi aqu yakin ada suara lelaki yang berusaha menggoda Shana. Kemudian mereka tertawa, sementara aqu masih mendengarkan telepon.

“Di, nanti aqu telepon balik ya!”

Tut… tut…. telepon diputus.

Perasaanku sesak. Setetes kesegaran yang kurasakan tadi kini kembali gersang, lebih gersang dari biasanya.

Tapi untunglah tak lama kemudian Rendy dan Gilang meneleponku. Mereka mengajakku untuk datang ke festival kampus Z yang mengadakan bazaar dan penampilan band-band indie. Aqu menerima tawaran mereka. Mungkin saja bisa sedikit mengobati perasaan rindu ini.

Kita pergi menggunakan mobilnya Gilang, seperti biasa. Tapi selain aqu dan Rendy, ada seorang penumpang lain. Ia adalah Sarah, gebetan Gilang yang sedang didekatinya. Orangnya ramah dan kulitnya hitam manis, dan aqu ada kecurigaan jangan-jangan Gilang sengaja mengajak kita karena ingin memamerkan gebetan barunya. Dasar bocah orang kaya, sepertinya mudah sekali mendekati perempuan.

Tiba di Kampus Z, suasana sudah sangat rame. Banyak stand makanan dan aksesorrys yang dipadati pengunjung. Di tengah lapangan, sebuah panggung lumayan besar sedang menampilkan acara band.

“Aqu sama Sarah ke sana dulu ya!” ucap Gilang sambil menunjuk sebuah stand ramalan kartu tarot.

Aqu hanya mengangguk. Sudah jelas tujuan mereka ke sini karena ingin pacaran. Sementara aqu? Kalau seandainya ada Shana… Mungkin aqu bisa mengajaknya ke stand ramalan garis tangan… atau makan es krim… Rasanya belum pernah aqu melaqukan hal itu dengannya… Ah….

Aqu berusaha menghilangkan pikiran tentang Shana ketika perasaan sesak mulai kembali muncul di dada. Kenyataannya, yang ada di sampingku sekarang adalah… Rendy.

“Loee ngerasa jadi maho gagk jalan berdua sama aqu?” ujar Rendy sambil terkekeh-kekeh.

“Sialan loee. Ah, liat band aja yok,” ucapku.

Kita berdua maju ke depan panggung agar dapat lebih jelas melihat penampilan band. Band yang ketika itu sedang tampil tak begitu menarik perhatianku, sebab suara vokalisnya terkemudian cempreng. Namun ketika band selanjutnya naik panggung, aqu mengerutkan kening.

Ada tiga orang yang naik ke panggung. Dua orang pria berambut gondrong, dan satu orang perempuan cantik. Aqu tak kenal kedua pria itu, tapi aqu kenal si perempuan.

Perempuan berkacamata, mengenakan kemeja dan kaos hitam agak ketat, dan celana jeans sobek-sobek. Aqu kenal dia, dia adalah Ghea, adik tingkatku yang sering berpapasan denganku di kampus. Kacamata berbingkai merah sekemudian menjadi ciri khasnya. Selain itu wajahnya sangat cantik, kulitnya putih mulus, postur tubuhnya bisa dibilang mungil, namun kalau boleh tebak, ukuran dadanya lebih besar dari Shana.

Band itu membawakan lagu “Lithium” milik Nirvana dengan percaya diri. Suara Ghea yang agak serak terasa pas dan nyaring, bahkan memberikan nuansa tersendiri pada lagu itu. Entah kenapa aqu sekemudian tertarik pada perempuan tomboy dan agresif. Tapi Ghea mungkin di atas levelku, dia adalah tipe cewek cerdas pemberontak yang jadi incaran banyak lelaki.

Ketika sedang bernyanyi, sesekali ia melirik ke arahku kemudian tersenyum. Aqu tak berani membalas. Soalnya aqu tak yakin, benarkah ia tersenyum padaqu? Berkali-kali aqu menoleh ke belakang, tak ada orang yang tampak membalas senyumnya. Sepertinya benar. Di kampus kita jarang mengobrol, tapi aqu memang sekemudian merasakan tatapan berbeda dari dirinya setiap kali kita berpapasan.

“I”m so horny. But that”s ok. My will is good….” suara merdu Ghea terngiang di telingaqu beserta lirik itu, juga senyumnya yang menggoda.

Suara merdu Ghea merasuk hingga ke dalem telingaqu. Suaranya yang agak serak terdengar seksi, membuat tubuhku terasa merinding mendengarnya. Aqu mulai membayangkan, bagaimana jadinya suara Ghea kalau ia sedang mendesah-desah?

Tiba-tiba khayalanku dikagetkan oleh getaran hp di kantong celana. Aqu merogoh kantong dan melihat layar hp. Tadinya aqu hampir saja menekan tombol untuk menerima telepon itu, tapi ketika melihat nama peneleponnya, jempolku tertahan. Orang yang meneleponku itu adalah Shana.

Aqu ingat, tadi dia memang berjanji akan menelepon balik, sebab komunikasi kita terputus gara-gara ada seorang lelaki yang dengan seenaknya menggoda Shana ketika kita sedang berbicara.

Oh, jadi dia baru sempat meneleponku sekarang karena dia baru selesai bercumbu dengan lelaki itu? Satu jam lebih. Sudah berapa ronde, Shan?

Shana menolak memberikan keperawanannya padaqu karena dia ingin menjagannya untuk seorang lelaki yang spesial. Mungkikah lelaki di telepon tadi adalah lelaki spesial itu? Kalau iya, berarti mereka memang sudah melaqukannya.

Aqu bisa membayangkan. Ketika tadi aqu meneleponnya, mungkin Shana sedang ditiduri oleh lelaki itu. Mungkin posisi missionary, mungkin juga doggy style, tapi sepertinya sih doggy style. Shana mengangkat teleponku sambil menungging, kemudian lelaki itu dengan enaknya menggenjot kemaluan Shana dari belakang. Ketika berbicara denganku, ia terdengar tak fokus, sepertinya karena ia sedang berusaha menahan suara desahannya. Desahan karena rasa nikmat yang mulai merasuki seluruh tubuhnya. Dan ketika ia hampir mencapai klimaks, ia pun tak tahan lagi dan langsung menutup telepon. Aqu patah hati, sementara di ujung sana ia menjerit menikmati orgasme.

Jantungku seperti terbakar membayangkan semua itu, tapi anehnya kemaluanku malah mengeras. Membayangkan Shana sedang ditiduri oleh lelaki lain, membayangkan wajah manisnya yang sedang melenguh, dan buah dada mungilnya yang diremas-remas oleh lelaki misterius itu, serta tentu saja lubang kemaluan Shana yang sama sekali belum pernah kutembus…ada yang meledak dalem diriku.

Kepalaqu jadi pusing, getaran hp-ku masih berlangsung. AKhirnya jempolku menekan tombol reject.
——————

Esoknya di kampus, aqu tak sengaja berpapasan dengan Ghea. Ia memakai kacamata merah maroon favoritnya serta kemeja coklat yang dua kancing atasnya dibiarkan terbuka, samar-samar memperlihatkan belahan dadanya yang mengundang rasa penasaran. Biasanya aqu jarang menyapanya kalau dia tak menyapa duluan, tapi entah apa yang terjadi, aqu teringat dengan suara seksinya kemarin, dan aqu langsung menepuk pundaknya.

“Ghea!” panggilku.

“Hey, Bang!” Ia menoleh dan tersenyum padaqu. Jantungku berdetak kencang.

“Penampilan kamu kemarin bagus!” ujarku. Aqu memang biasa memakai gaya bahasa yang lebih sopan pada orang yang belum terkemudian akrab.

“Hehe, iya Bang! Kemarin aqu lihat Bang Adi di depan panggung!” jawab Ghea sambil cengar-cengir. Aqu dapat melihat gigi-giginya yang berderet rapi.

Ketika di atas panggung dan ketika bersama teman-temannya, ia terlihat sangat tomboy dan blak-blakan, tapi saat berbicara denganku ia malah seperti bocah manis yang sopan. Kita terdiam selama beberapa saat, sepertinya aqu bingung mau bicara apa lagi, bibirku beku, aqu hanya menggaruk-garuk kepala. Namun tiba-tiba Ghea meraih pergelangan tanganku. Ada apa ini?

“Kak Adi belum makan kan? Yuk, aqu traktir!”

Aqu kebingungan dengan sikapnya. Apa dia memang seramah ini?

“Dalem rangka apa nih?” tanyaqu sambil setengah diseret oleh Ghea.

“Tadi sebenernya aqu udah janji sama kawan-kawan band yang lain, mau latihan. Tapi ternyata mereka ada urusan, jadi sekarang aqu bingung mau ngapain. Kebetulan ada yang pingin aqu tanya sama Kak Adi.”

Hal yang ingin dia tanyakan itu ternyata masalah pelajaran. Ketika sampai di kantin, ia menggiringku ke meja pojok yang sedang sepi, kemudian ia mengeluarkan setumpuk buku kuliah. Dia memang satu tingkat di bawahku, dan mata kuliahnya banyak yang sama dengan mata kuliah yang pernah kuambil, jadi dia banyak meminta nasehat. Mulai dari masalah tugas-tugas, sifat para dosen, dan lain sebagainya. Aqu kewalahan, sebab aqu sebenarnya bukan mahasiswa yang terkemudian pintar, sementara dia adalah mahasiswi yang sangat cerdas.

“Nah, sebagai ucapan terima kasih, sekarang Ghea traktir!” Ucapnya sambil menyingkirkan buku-buku dari meja.
————————-

Hubunganku dengan Ghea semenjak saat itu menjadi semakin akrab. Setiap kali ada waktu kosong dan kebetulan berpapasan, ia sering bertanya masalah kuliah. Kadang aqu juga bertemu dengan teman-teman bandnya, dan ternyata mereka orang yang cukup ramah. Aqu jadi merasa beruntung, sebab di saat aqu merasa dikhianati Shana, aqu malah semakin akrab dengan Ghea. Tapi Shana tak benar-benar hilang dari pikiranku, terkadang saat sebelum tidur aqu masih sering membayangkan Shana. Tapi aqu berusaha menggantinya dengan bayangan Ghea. Ghea tak kalah cantik, tak kalah ramah, senyumnya lebih manis, buah dadanya juga (sepertinya) lebih besar. Dan terlebih lagi, suaranya itu….

Tapi tadi sore ada satu hal yang membuat pikiranku kembali pada Shana. Awalnya aqu tak sengaja bertemu Shinta yang terlihat murung di depan kelas. Wajahnya kusut, tak seperti Shinta yang selama ini kukenal.

“Kenapa San?” tanyaqu.

“Huhh.. nggak. Ga papa.” jawabnya ketus.

“Masalah Shana?”

Shinta mengangguk. Sejak Shana menghilang dari geng power rangers, Shinta jadi terlihat suram. Mungkin ia merasa dikhianati, sebab Shana adalah sahabat terdekatnya selama ini.

“Bete aqu. Itu bocah kenapa sih? Pacaran sampe segitunya, sampe lupa kawan!” ucap Shinta.

Aqu mengangguk setuju. Tapi di dalem hatiku, aqu merasakan hal yang lebih dari sekedar kehilangan teman. Aqu patah hati.

“Kapan terakhir ketemu?” tanyaqu.

“Tiga hari yang kemudian, aqu dateng ke kosnya. Itu pun cuma sebentar, karena dia mau pergi. Bilangnya sih ada kerja sambilan, ah paling juga pacaran ama cowok barunya itu!”

Aqu menghela nafas. Segala macam bayangan muncul lagi di benakku.

“Aqu juga bingung harus gimana. Loe kan yang paling deket sama dia, Shin.”

“Iya aqu tau. Urusan pribadi dia aqu ga berhak ikut campur, tapi sebagai sahabat aqu juga ga bisa cuek. Loe tau ga, apa yang aqu temuin di kamar Shana?” Shinta cemberut masam.

“Apa?” aqu teringat dengan kamar itu. Kamar pertama kalinya aqu menjadi intim dengan Shana. Saat itu Shana memintaqu meremas-remas buah dadanya, dan ia bahkan memberiku handjob sampai spermaqu muncrat ke bonekanya.

“Tapi loe jangan bilang siapa-siapa ya!” Shinta mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Sebuah benda kecil dibungkus plastik, di bungkusnya tertulis sebuah merek alat kontrasepsi terkenal.

“Kondom?!!” tenggorokanku terasa kering seketika.

“Sssst!” Shinta memasukkan lagi kondom itu dalem celananya.

Segalanya tentang Shana menjadi semakin buruk saja. Kekhawatiranku ternyata benar. Kalau Shana sampai menyimpan kondom di kamarnya, berarti ia sudah sering berhubungan intim dengan pacarnya, di kamarnya, di tempat kenanganku bersamanya. Aqu berusaha menyembunyikan wajah suramku dari Shinta.

Pada saat seperti ini, tiba-tiba saja hpku berbunyi. Aqu mengangkatnya dan menebak-nebak siapakah gerangan yang mengirimiku SMS?

“Bang, sore ini ada waktu luang nggak? Ada tugas susah yg mau aqu tanyain 😉 (Sender: Ghea)”

Seorang mahasiswi kembang kampus yang cerdas dan pintar bernyanyi, yang diincar oleh banyak lelaki di kampus ini, yang cantik dan seksi, mengajakku bertemu secara pribadi? Aqu tak tahu kenapa dengan nasib semujur ini senyumku masih tak mau melebar juga. Aqu tetap saja memikirkan Shana… entah marah, atau rindu.

Penasaran dengan kelanjutan nya…. pantengin terus ya pembaca yang budiman….

cerita sex terbaru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.