Vimax cerita ngentot
Cerita Dewasa Terbaru cerita sex
Cerita Sex Terbaru
Breaking News
Cerita Sex Terbaru
Cerita Sex Cerita Sex cerita sex cerita seks Cerita Dewasa

Cerita Rahasia 1

Vimax Cerita Seks ABGQQ Bandar Q, Poker, Domino, dan Sakong Online Terpercaya

Kumpulan Kisah Sex, Kisah Sex Terbaru, Kisah Sex Terhangat, Wanita yang sudah lama kusukai bernama Shana, ia adalah kawan kuliahku. Orangnya ramah, Sangat enerjik, dan bisa dibilang tomboy. Ia adalah salah satu di antara empat orang kawan dekatku di kampus, yang lain adalah Gilang (si anak orang kaya), Rendy (si gendut), dan Shintya (kawan akrab Shana yang kemana-mana selalu bersama). Sementara namAqu adalah Adi, seorang lelaki 20 tahun biasa-biasa saja, yang paling pemalu di antara kita berlima.

Kisah Sex, Kisah Sex Terbaru, Kisah Sex Terhangat

Pada malem ini, kita berempat janjian untuk bertemu di sebuah caffe di tengah kota untuk merayakan selesainya masa ujian semester dan tibanya masa liburan. Aqu tiba ke caffe bersama dengan Gilang, menumpang di mobilnya. Bukan berarti Aqu tidak mau mengeluarkan duit untuk ongkos, cuma saja Gilang menawari Aqu untuk pergi bersamanya, jadi Aqu gag bisa menolak.

baca juga gelorabirahi.com

Tiba di caffe, Rendy sudah memesan tempat. Ia duduk di salah satu sofa di ujung ruangan yang memang sudah disetting untuk empat orang. Mata Rendy gag henti menatap monitor laptop di hadapannya, sehingga ia gag sadar kalau kita sudah ada di belakangnya.

“Hey!” Gilang menepuk pundak Rendy, membuat pria gemuk itu terhenyak kaget.

“Baru sendirian?” Tanyaqu sambil duduk.

“Iya nih. Parah dah, cuma aqu aja yang gag ngaret,” jawab Rendy.

“Lah, Si Shana sama Shintya beloem dateng?” Tanya Gilang yang kemudian duduk di sebelah Rendy, lalu meloengok ke arah monitor laptop.

“Mana aqu tau? Biasalah, cewek-cewek itu. Padahal tempat kost mereka paling deket dari sini,” jawab Rendy.

Di samping laptop, terdapat sepiring roti bakar isi coklat keju yang tampak masih hangat. Shanpa minta izin, Gilang segera mengambil sepotong roti dan melahapnya. Rendy menatap Gilang sambil menyindir, tetepi Gilang cuma membalasnya dengan menaikkan alis. Selama setengah jam, kita mengobrol hal-hal ringan seperti filem yang sedang diputar di bioskop dan mainan-mainan baru.

Saat kita masih asyik mengobrol, Shana dan Shintya tiba di caffe. Shana tiba mengenakan baju lengan pendek berwarna putih dengan loego The Rolling Stones di bagian dadanya. Untuk sekilas, perhatianku terhenti pada bagian itu. Tidak, dia bukan wanita berdada besar seperti yang banyak dipikirkan lelaki hidung belang. Dadanya relatif kecil, namun tonjolan mungil dan menggemaskan itu terlihat samar-samar dari balik bajunya, membuatku gag henti merasa penasaran. Begitu pula dengan pantatnya. Bahkan pada saat ia memakai celana jeans ketat seperti sekarang pun, pantatnya cenderung rata. Ia memang kurus, tetepi kakinya jenjang dan pinggangnya membentuk kurva yang menarik. Selain tentu saja, face dan smilenya yang Sangat manis.

“Guys, sorry…, sorry, tadi aqu ada urusan wait,” ujar Shana sambil merapikan rambutnya yang lurus dan panjang sebahu.

“Iya, lagian tadi angkotnya ngetem lama bingit,” tambah Shintya. Shintya memiliki face yang kurang menarik, badannya juga pendek dan agak gendut, tetepi ia adalah orang yang Sangat setia kawan, terutama pada Shana.

“Yaudah, duduk dulu. Nanti habis ini baru kita nonton,” ujar Gilang.

Shintya duduk di sebelah Gilang, sementara Shana duduk tepat di sebelahku. Sudah tiga bulan ini Aqu merasakan gairah yang luar biasa terhadap Shana. Aqu sendiri pun tidak mengerti, kenapa baru belakangan ini Aqu jatuh cinta kepadanya, padahal kita sudah saling kenal selama dua tahun lebih. Shana melegagkan tas kecilnya di atas pangkuan sambil menyikut lenganku, lalu ia tersmile manis. Gaya sapaannya yang seperti itu malah membuat jantungku berdegag makin kencang.

“Rapi bingit loe. Mau nonton apa kondangan?” sindir Shana sambil menunjuk kemeja formal yang kukenakan, lalu tertawa. Sebenarnya Aqu memakai kemeja ini karena pakaianku yang lain masih di laundry.

Kita berlima menghabiskan waktu di caffe sambil minum coffe dan makan kue-kue ringan. Banyak orang yang menjuluki kita sebagai Power Rangers, karena komposisi geng kita yang terdiri dari tiga pria dan dua wanita. Bagiku, kalau memang itu benar, maka Gilang adalah ranger merah, Rendy adalah ranger hitam (karena kulitnya hitam), Shintya adalah ranger kuning, Shana adalah ranger pink, sementara Aqu adalah ranger biru (karena seingatku ranger biru biasanya yang paling kalem dan pemalu).

Setelah selesai di caffe, kita pun segera beranjak ke bioskop yang legagnya gag jauh dari situ. Ticket sudah dibeli sebelumnya, sehingga kita gag perlu khawatir kehabisan tempat. Kebetulan saat kita tiba filemnya sudah hampir diputar, sehingga kita segera masuk ke dalam studio Shanpa menunggu lagi.

Ticket yang kubeli kemarin memiliki nomor 26, 27, 28, 29, dan 30; legagnya di ujung sebelah atas. Dan entah kenapa, mungkin ini memang sudah gagdir, Aqu duduk bersebelahan dengan Shana. Aqu duduk di kursi paling ujung, di sebelah kananku Shana, dan Shintya di sebelahnya lagi.

“Anjrit, iklannya lama bingit! Tau gini tadi mending aqu beli popcorn dulu!” ujar Shana sebal.

“Lah, bukannya tadi kita bawa kacang atom ya?” ucap Shintya sambil membuka restleting tasnya.

“Oiya, lupa aqu!” Shana akhirnya menemukan sebungkus kacang atom dari tas Shintya.

Shana langsung membuka bungkus kacang, meraup segenggam, lalu memasukkannya sekaligus ke dalam mulut.

“Di, mau?” ucap Shana padAqu, mulutnya masih penuh dan terus mengunyah. Kupikir-pikir, cewek yang tidak anggun ini sepertinya gag pantas jadi ranger pink.

“Nanti aja deh, filemnya juga belum mulai,” ucapku.

“Yaudah, ntar kalau mau, bilang ya,” ucapnya.

Gag lama kemudian, filem langsung dimulai dan lampu dimatikan. Filem yang kita tonton adalah sebuah filem misteri yang berjudul Fog Hill. CeriTanya tenShang sekeloempok orang yang tersesat di bukit misterius yang aneh. Selama setengah jam kita serius menonton dan gag banyak bicara, kecuali Shana dan Shintya yang sesekali bergumam.

“Masih ada gag kacangnya?” Tanyaqu pada Shana.

“Oh iya, masih ada nih, dikit lagi. Hehe,” ucap Shana sambil nyengir dan menyerahkan bungkusan kacang. Gila, kayanya dia lagi kelaparan, cepat amat makannya.

Aqu mengambil segenggam kacang dan memasukkannya ke dalam mulut ketika adegan filem yang menegangkan dimulai. Tokoh utama di filem itu sedang dikejar-kejar oleh pembunuh kejam, dan ia harus bersembunyi demi keselamaShan nyawanya. Aqu menyodorkan bungkus kacang ke arah Shana Shanpa menolehkan faceku dari filem. Shana tidak langsung mengambil bungkus kacang itu, mungkin ia tidak ngeh karena gelap. Lalu Aqu majukan sedikit lagi Tanganku dengan tujuan agar lebih dekat ke mukanya. Namun Shanpa sengaja, punggung Tanganku malah menyentuh sesuatu yang aneh, sesuatu yang empuk dan agak kenyal. Entah karena sedang terfokus pada filem atau apa, Aqu tidak langsung menarik Tanganku dan malah menekan-nekan benda empuk itu dengan Tangan yang sedang memegang bungkus kacang. Baru beberapa detik kemudian Aqu sadar dan menoleh, dan pada saat itulah Aqu baru tahu kalau Tanganku sedang menyentuh payudara Shana yang mungil itu, meskipun terhalang baju.

Nafasku tertahan dan rasa tAqut sekaligus malu memenuhi kepalAqu. Di antara kegelapan bioskop, Aqu mencoba melihat ekspresi face Shana. Ia sedang menatapku dengan tatapan yang canggung dan tampak seperti sedang menahan nafas. Oh tidak! Aqu langsung menarik Tanganku secara terburu-buru, akibatnya bungkus kacang itu malah jatuh dan menumpahkan sebagian isinya. Beberapa butir kacang berserakan di koloeng kursi.

“Aduh! Sorry, sorry! Gag sengaja!” ujarku panik. Entah Aqu minta sorry untuk sebalahan yang mana.

“Gapapa, Santai aja kali, cuma dikit koq,” jawab Shana dengan kalimat yang kurasa agak ambigu. Ia mengucapkannya dengan smile yang tampak dipaksakan. Mudah-mudahan ia tidak marah.

Setelah itu, sepanjang sisa filem Aqu sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Pikiranku selalu tertuju pada benda empuk yang baru saja kusentuh Shanpa sengaja. Sejujurnya, ini adalah pertama kalinya Aqu menyentuh payudara Wanita dengan sefrontal itu. Yah, Aqu memang lelaki yang agak kuper, jadi maklumi saja. Dan sekarang kemaluanku jadi sedikit tegang, membayangkan kalau seandainya Aqu bisa meremasnya tadi. Tetepi di sisi lain, Aqu juga tAqut kalau Shana marah padAqu, bisa saja ia mengira Aqu sengaja melAqukannya.

Setelah selesai nonton, Aqu dan Shana tidak banyak bicara. Aqu juga tidak berani mengajak bicara lebih dulu, karena Aqu sendiri masih merasa malu. Kita pulang dengan menumpang mobilnya Gilang, Aqu duduk di sebelah depan, sementara Shana, Shintya, dan Rendy di kursi belakang. Sesampainya di rumah, Aqu segera mengirim SMS ke ponsel Shana. Aqu memang tidak berani meminta sorry secara langsung, dan Aqu juga tidak mau hubungan persahabatan kita jadi renggang gara-gara masalah kecil.

“Shan, sorry ya yg tadi. Sumpah, aqu ga sengaja,” ucapku dalam SMS.

Gag lama kemudian, ia membalas SMS-ku.

“Iya, aqu tau koq. Cuma tadi aqu speechless aja, kaget aqu. Geli. :p “

Entah karena kalimat yang mana, kemaluanku menjadi tegang lagi. Karena di rumah sendiri, Aqu tidak ragu-ragu untuk melAqukan onani sambil memandangi foto Shana. Facenya, smilenya, tubuhnya, rambutnya. Seandainya saja Aqu bisa mengulang kejadian tadi seratus kali. Oh, seandainya saja Aqu bisa bercinta dengannya.

—-

Esok paginya, untuk memastikan bahwa hubunganku dengan Shana baik-baik saja, Aqu memberanikan diri mampir ke tempat kost Shana, dengan alasan ingin mengembalikan buku yang pernah kupinjam. Aqu mengetuk pintu kamarnya, lalu gag lama kemudian ia pun membuka pintu. Selama beberapa detik, kita bertatapan Shanpa suara. Face manisnya tampak begitu alami karena ia tidak mengenakan make up. Ia memakai baju putih poloes dan celana legging warna hitam. Sepertinya ia sedang bermalas-malasan di kamar.

“Eh, Di? Koq gag bilang mau kesini?” Tanyanya sambil tersmile. Jantungku berdegag sedikit lebih cepat.

“Iya, aqu kebetulan lewat sini dan inget mau ngembaliin buku,” ucapku canggung.

“Oh iya, yuk masuk dulu. Sorry agak berantakan,” ucapnya sambil mempersilakan Aqu masuk ke dalam kamar.

Aqu mengeluarkan buku dari dalam tas dan masuk ke dalam kamarnya. Meskipun ia bilang berantakan, tetepi bagiku kamarnya tampak rapi. Ada boneka kucing cukup besar di sudut kamar, yang menandakan bahwa ia tidak setomboy yang orang pikir.

Shana mengambil buku yang Aqu berikan, lalu menyimpannya di dalam lemari. Ketika ia sedang menyimpan buku dan membelakangiku, timbul suatu keinginan yang amat besar untuk memeluknya dari belakang, lalu mencium lehernya, dan meremas payudaranya. Tetepi tentu saja Aqu tidak berani melAqukan hal itu. Aqu Sangat menghargai dia sebagai kawanku, terlebih lagi Aqu menyukainya sebagai Wanita yang menyenangkan.

“Adi, lain kali loe kalau nonton di bioskop deket aqu, hati-hati dong. MenShang-menShang gelap, loe seenaknya aja grepe-grepe aqu. Pelecehan tau!”

DadAqu serasa tertusuk mendengar ucapannya yang tiba-tiba itu. Tetepi kemudian ia menoleh ke arahku dan tertawa lepas.

“Haha. Becanda ih. Muka loe pucat bingit sih?”

“Iya. Abisnya aqu keasyikan nonton filem, lagi seru-serunya. Murni kecelakan koq, Shan,” jawabku membela diri.

“Baru pertama kalinya ‘itu’ aqu dipegang lelaki. Kanget bingit aqu waktu itu,” ucapnya sambil tersmile. Koq rasanya pembicaraan ini jadi agak gimana gitu.

Aqu tahu, di luar sifatnya yang suka seenaknya, Shana adalah gadis yang baik-baik. Setidaknya ia bukan penganut pergaulan bebas seperti Wanita perkotaan yang lain. Tetepi tetep saja, dia adalah Wanita dewasa yang tidak naif lagi.

“Apalagi aqu, Shan,” ucapku menimpali.

Setelah itu kita berdua saling bertatapan, cukup lama, sampai akhirnya Aqu berpikir untuk segera pulang saja. Namun belum sempat Aqu pamit, Shana membuka mulutnya dan berbicara.

“ehm, Di….”

“Ya?” Tanyaqu.

“Ngg… gimana ya bilangnya… bingung,” Shana tersipu.

“Apaan sih?” ucapku, berlagak Santai.

“Hmm… boleh gag? Ngg…, tetepi jangan bilang siapa-siapa, yah?”

“Maksudnya?”

“Loe janji dulu, jangan bilang siapa-siapa. Please…,” ucap Shana dengan smile malu-malu.

“Iya, aqu janji koq. Ada apa?”

Shana menunduk, kedua Tangannya bertauShan di belakang punggung,
“Loe…, loe mau gag megang ini aqu lagi? Sejak semalem aqu penasaran bingit, pengen ngerasain. Bagian yang loe sentuh kemarin rasanya jadi gatel terus, gimana gitu.”

“Shan, loe gag lagi ngerjain aqu kan?” nafasku serasa berhenti selama beberapa detik, sementara kemaluanku perlahan-lahan menegang.

“Terserah eloe mau nganggepnya gimana. Aqu malu bingit sebenernya, tetepi aqu percaya sama loe,” ucap Shana sambil terus menunduk.

Aqu mencubit pipiku, meyakinkan diriku sendiri bahwa ini bukan sekedar mimpi basah di tengah malem. Ini sungguhan. Terdengar konyol dan kekanak-kanakan memang, tetepi Aqu kenal Shana, dia bisa saja seperti itu. Mungkin ini cumalah nafsu sesaatnya. Mungkin ia gag punya perasaan apa-apa padAqu, dan dia, di luar dugaanku, mungkin memang agak naif dalam urusan semacam ini.

“Yaudah, aqu cuma bercanda koq! Gag juga gag apa-apa. Tetepi loe udah janji ya gag akan bilang siapa-siapa,” ucap Shana tiba-tiba, sambil tertawa yang dipaksakan, tetepi ada sorot kecewa dari matanya.

Aqu gag tahan lagi, Aqu gag mau bersikap munafik. Aqu langsung melangkah maju dan memeluk tubuh Shana. Tubuhnya yang langsing dan tinggi sekarang berada di dalam dekapanku. Aqu dapat merasakan kehangaShannya, kelembuShan dan kerapuhannya, begitu juga dengan wangi rambutnya yang membuatku melayang. Lalu kutatap matanya, dan kukecup bibirnya dengan lembut. Kecupan itu berubah jadi lumaShan, lalu hisapan, bahkan sesekali ia memainkan lidahnya.

“Mmmhh…”

Cuma suara lenguhan pelan yang terdengar di antara kita. Bibirnya terasa manis dan lembut, seperti mengirimkan sensasi luar biasa di seluruh mulutku. Gag lama kemudian, ia memaksAqu melepaskan ciuman.

“Bego dasar! Aqu gag minta dicium, tetepi aqu minta loe remesin susu aqu!” ucapnya sambil menahan tawa.

Lalu kita berdua tertawa terbahak-bahak. Kedengaran seperti lelucon yang Sangat konyol.

Aqu duduk di atas kasurnya,

“Shana, sini duduk, aqu pangku.”

Shana melangkah sambil tersmile malu-malu, lalu duduk di pangkuanku dengan posisi menghadap belakang. Aqu dapat merasakan pinggul dan pacuma yang cuma dibalut legging tipis. Dan Aqu menduga ia juga bisa merasakan tonjolan kemaluanku di pantatnya, tetepi ia gag bilang apa-apa.

“Oh iya, Di. Loe jangan macem-macem ya. Kita masih tetep temenan, jadi loe jangan ngelAquin hal yang lebih ya,” ucap Shana.

“Iya, aqu ngerti koq. Aqu gag akan ngelAquin yang gag loe minta,”

Aqu melingkarkan Tanganku di pinggang Shana, lalu mulai meraba perutnya yang rata dari luar baju.

“Perut loe six pack ya?” Tanyaqu, bercanda. Ia cuma tertawa.

Lalu rabaan kedua Tanganku naik ke atas, ke arah dua tonjolan di dadanya, namun sebelum menyentuh bagian itu, segera kubeloekkan ke arah ketiak.

“Duuh Adi… Please dong. Loe lebih suka megang ketek daripada susu ya?” Shana meledek.

“Haha. Iya, iya.”

Kugunakan jari-jemariku untuk menyentuh payudara Shana, kutelusuri permukaanya, lalu kutekan-tekan sedikit. Rasanya lembut dan kenyal, jauh lebih intens dari yang Aqu rasakan waktu di bioskop. Dan ternyata ia tidak memakai bra, mungkin karena tadi sedang berSantai di kamar.

“Mmmh…,” Shana melenguh pelan, seperti ditahan.

Lalu kupijat lembut kedua payudaranya dari luar baju. Kuremas-remas pelan. Ternyata ukurannya tidak sekecil yang terlihat dari luar baju, bahkan gunungnya masih cukup memenuhi telapak Tanganku. Selain itu, bentuknya juga bulat dan kencang, sama sekali tidak kendor atau menggantung. Makin lama pijetanku makin kuat, kuremas dari bagian pangkal hingga ke putingnya. Samar-samar Aqu dapat merasakan putingnya yang sudah Sangat keras. Langsung saja kuelus-elus menggunakan jari.

“Haaaah… Di, pelan-pelan dong,” ucap Shana dengan nafas yang penuh desahan.

Mendengar suara desahannya, kemaluanku menjadi tegang dengan sempurna, mendesak ke arah pantat Shana.

“Aqu gag ngerti nih, rasanya aqu udah gila deh. Bisa-bisanya sekarang susu aqu diremes-remes sama sahabat aqu sendiri…, dan sekarang, kemaluan sahabat aqu itu ngaceng di pantat aqu,” ujar Shana di sela desahan nafasnya, dan berusaha untuk tertawa.

“Aqu juga ngerasa ini bener-bener aneh,” ucapku sambil terus meremas payudaranya.

“Iya, aneh. Tetepi enak. Ahhh…,” Shana mendesah panjang ketika kuremas bagian putingnya.

Perlahan-lahan, Shana menggerakkan pinggulnya, memberikan gesekan pada kemaluanku.

“Uhhh… gila, enak rasanya,” ujarku.

“Aqu kasih bonus tuh dikit, hihi,” ucap Shana.

“Mau aqu isep pake mulut ga?” Tanyaqu padanya. Sekarang rasa malu dan canggungku kepadanya sudah hilang entah kemana. Mungkin tenggelam di lauShan nafsu.

“Mmmmh… Iyah… mau,” ucap Shana. Kemudian ia langsung berdiri dan membalikkan badan. Lalu ia duduk lagi di pangkuanku, kali ini saling berhadapan.

“Bajunya buka dulu dong,” ucapku sambil menunjuk baju putihnya yang sudah lecek di bagian dada.

“Gag ah…! Gag mau!” tolaknya sigap.

“Lah, kaTanya mau diisep?” Tanyaqu.

“Ya loe isep dari luar baju aja, gimana?”

“Susah dong….”

“Pokoqnya aqu gag mau buka baju, aqu tAqut kebabalasan ntar. Bahaya Di, kita kan cuma temenan. Lagian aqu masih perawan gitu lho.”

Dasar aneh, gumamku dalam hati. Namun Aqu tetep menghargainya, bisa begini saja sudah merupakan mukjizat bagiku. Langsung kudekatkan kepalAqu ke arah dadanya, lalu kuciumi payudaranya dari luar baju. Kucoba untuk menghisapnya. Rasanya pahit, baju ini rasanya tidak enak.

“Yaudah, aqu kasih bonus lagi,” ucap Shana sambil menggoyangkan pinggulnya lagi. Kali ini kemaluanku bergesek-gesekan dengan vaginanya secara tidak langsung. Rasanya membuatku kembali bergairah. Kugigit-gigit payudaranya yang kanan, sementara yang kiri Aqu remas-remas.

“Mmmmhh… Di… this is… our dirty little secret,” ucap Shana.

Tiba-tiba saja ponsel Shana berdering. Merasa terganggu, Aqu menghentikan aktivitasku. Shana menoleh ke arah ponselnya, lalu segera meraihnya sambil tetep duduk di pangkuanku.

“Cuma SMS,” kata Shana.

“Siapa?” Tanyaqu.

“Dari Shintya. Dia bilang… dia lagi di jalan mau ke sini, lima belas menit lagi sampe,” jawab Shana sambi mengerutkan dahi.

“Wah gawat, berarti kita harus udahan nih,” ucapku. Aqu mulai panik, akan jadi bencana kalau sampai salah satu dari rangers lain mengetahui perbuatan kita.

“Wait, jangan dulu,” ucap Shana.

“Tetepi , wait lagi Shintya mau kesini kan? Loe gag mau kan kalau Shintya sampe tau atau curiga?” Tanyaqu.

“Iya, aqu ngerti koq. Tetepi masih ada lima belas menit. Please,”

Tiba-tiba Shana menyentuh kemaluanku dari luar celana, lalu membuka restletingnya. Ia menatapku dan tersmile,

“aqu kocokin deh, yah?”

Aqu gag sanggup menolak.

Shana umurnya sedikit lebih muda dariku, tetepi meski begitu ia adalah orang yang cerdas, terutama dalam masalah pelajaran. Aqu pertama kali mengenalnya saat kita satu kelas dalam sebuah mata kuliah. Waktu itu Aqu sudah akrab dengan Gilang dan Rendy, Shana juga sudah akrab dengan Shintya. Lalu kita berkenalan, dan mungkin itulah awal mulanya geng Power Rangers terbentuk.

Aqu ingat bagaimana Aqu adalah orang yang paling canggung di hadapan Wanita, bahkan terhadap Shana. Karena ia memang supel dan ramah, ia yang selalu mendekatiku lebih dulu, hingga Aqu akhirnya bisa mengenal dia lebih akrab. Dia yang selalu aktif memulai candaan saat kita sedang nongkrong, lalu biasanya akan ditimpali oleh Shintya dan Gilang dengan cara yang konyol, bahkan cenderung gila. Rendy cenderung waras, dan Aqu lebih waras lagi.

Bukan rahasia lagi kalau banyak lelaki di kampus yang naksir pada Shana, baik senior ataupun junior. Namun Shana tampaknya tidak punya keinginan untuk pacaran dan cuma senang berkawan. Dia pernah curhat bahwa dulu ia pernah disakiti seorang lelaki, dan itu membuat dia jadi anti terhadap status pacaran. Lagipula, semua orang setuju kalau Shana adalah tipe cewek yang asik dijadikan kawan, dan tidak cocok dijadikan kekasih.

Tetepi Aqu berbeda. Aqu punya perasaan yang lebih dari sekedar kawan. Dan lucunya, cewek yang kusukai secara diam-diam itu kini sedang duduk di sampingku, Tangannya pelan-pelan membuka restleting celanAqu, sementara bibirnya tersmile antusias.

“Gapapa kan, kaloe aqu pegang barang loe?” Tanya Shana.

Aqu cuma mengangguk. Mana mungkin Aqu menolak.

Setelah restleting celanAqu terbuka, terlihatlah celana dalam coklatku yang sudah menonjol menahan desakan kemaluan. Ujung jari telujuk Shana yang lentik itu pelan-pelan mengelus kemaluanku dari luar CD. Aqu benar-benar sulit percaya, jari-jemari yang lentik dan indah itu sekarang mulai memijit-mijit kelaminku.

“Geli, Shan…” Aqu meringis.

“Waw, ternyata kaya begini ya. Aqu baru pertama kali megang barang lelaki,” ucap Shana.

“Aqu juga baru pertama kali diginiin.”

“Emang ga sakit ya, ketahan celana kaya gini?” Tanya Shana.

“Yah, sedikit sakit sih.”

“Keluarin aja ya?”

“Iya deh.”

Pelan-pelan, Shana menarik ke bawah ujung celana dalamku, dan seketika itu juga kemaluanku yang sudah tegak langsung mencuat keluar. Melihat benda keras dan panjang itu tiba-tiba berdiri di hadapannya, Shana tampak kaget.

“Buset! Kaget aqu. Hmmm… bentuknya gini ya,” ucap Shana. Sekarang jari-jemarinya meraba-raba batang kemaluanku.

“Uhhh… emangnya loe baru pertama liat?” Tanyaqu sambil menahan desahan.

“Aqu pernah liat lah, di filem bokep. Tetepi agak beda…” jawab Shana sambil mengelus-elus kepala kemaluanku yang terlihat seperti topi tentara.

“Beda? Masa sih?”

“Iya, kaloe di filem sih, agak… lebih gede gitu,” Shana tertawa pelan. Sialan, Aqu diledek. Inilah akibatnya kalau cewek suka nonton bokep bule. Membandingkan seenaknya.

“Huh.”

“Becanda ih… haha…” Shana menjulurkan lidah. Oh seandainya saja lidah itu mau bergesekan dengan kulit kemaluanku. Tetepi Aqu gag berani meminta, “menurut aqu punya loe pas bingit di Tangan,” ucap Shana.

Sekarang Shana menggenggam batang kemaluanku dengan telapak Tangannya. Rasanya ada sensasi dingin dan hangat sekaligus. Lalu ia mulai menggerakkannya naik turun. Oh, nikmatnya, dia mulai mengocok. Tetepi tiba-tiba ia melepaskan lagi genggamannya. Lho, kenapa?

“Wait ya,” ucap Shana sambil beranjak berdiri.

Aqu cuma mengangguk bingung. Ternyata ia berjalan ke arah lemari dan mengambil sebotol body loetion.

“Kasian kalau anak orang sampe aqu bikin lecet. hehe,” ucapnya.

Ia meneluarkan loetion pemutuh kulit itu, lalu mengoleskannya di batang kemaluanku. Lalu ia mulai mengocoknya lagi, perlahan, namun makin cepat. Ohh, sekarang rasanya lebih lancar dan lebih nikmat.

“Auwhh…” Aqu gag kuasa menahan nafas yang makin memburu.

“Enak ya, Di?” Tanya Shana sambil menatap ekspresi faceku.

“Enak,” jawabku.

“Enak bingit?” Tanyanya lagi.

“Iya, enak bingit.”

“Enak sih enak, tetepi Tangan loe jangan diem aja dong…,” ia protes.

“Oh iya, hehe, sorry.”

Aqu langsung menggunakan kedua Tanganku untuk meremas-remas payudaranya dari luar baju. Remasanku kini lebih liar karena Aqu terasa makin menikmati kegiatan ini. Lalu kita berciuman, ciuman yang penuh nafsu antar dua orang sahabat. Lidah kita bertauShan dan saling jilat. Samar-samar terdengar suara gesekan Tangan Shana dengan kemaluanku yang sudah diolesi loetion.

Shanpa meminta izin, Tanganku menyusup ke balik bajunya. Dia kan cuma bilang tidak boleh buka baju, kalau menyelipkan Tangan kan dia tidak melarang. Langsung saja kuremas payudara kanannya. Uhh, sensasinya berbeda. Sekarang kulit Tanganku bergesekan langsung dengan kulit payudaranya, rasa kenyal dan lembutnya benar-benar terasa.

“Mmmmhh… ahh.. nakal ya…,” gumam Shana. Tetepi ia tidak membuat perlawanan.

Tanganku sekarang memilin-milin puting susunya, membuat puting yang sudah keras itu menjadi makin keras. Sesekali kupencet lembut, dan itu membuat Shana menarik nafas dalam.

“Di… mmmhhh…. terus Di, enak,” merasakan kenikmaShan yang lebih, Shana makin mempercepat kocokannya. Aqu jadi makin ingin ejAqulasi, tetepi kutahan dulu.

Leher Shana yang jenjang dan mulus itu kucium dan kujilat-jilat. Wangi badan dan rambutnya membuatku merasa makin nyaman. Selain itu lehernya benar-benar bersih, gag ada cacat sedikitpun.

“Adi… mmmhh… ini cuma sekali ini aja ya. Kita akan tetep jadi temen dan sahabat. Mmmhh… jangan sampe ada yang tau, ya?” ucap Shana di sela-sela desahannya.

Aqu tidak menjawab, dan malah menggigit pelan leher Shana. Lalu Aqu menarik ke atas baju yang dikenakan Shana. Aqu tarik terus hingga ke dekat leher, sekarang kedua payudaranya terlihat jelas di hadapanku. Bentuknya sungguh indah, bulat dan putih bersih, putingnya berwarna coklat agak pink.

“Aqu jadi malu…,” ucap Shana sambil tersipu.

“Susu loe bikin gemes,” ucapku.

Perlahan-lahan kujilat ujung puting Shana, kubelai-belai dengan lidahku.

“Aaaahhh! Geli!” Shana berteriak.

Setelah itu kubuka mulutku dan kulahap payudara itu. Aqu hisap, payudara yang sebelah kanan, bergantian dengan yang sebelah kiri. Sesekali kujilat permukaan gunungnya.

“Oooh… terus Di, kenyot terus, sedot Di… Mmmmhhh…”

Benar-benar luar biasa. Kemarin malem Aqu merasa senang cuma dengan menyenggol benda ini, tetepi sekarang, Aqu bisa menjilat dan menghisap-hisapnya.

“Putingya, Di… Akhhh…, iyah, kaya gitu… ahhh….”

Setelah menjilat dan menghisap kedua bukit kembar itu terus menerus, Aqu berinisiatif untuk menggigit putingnya, pelan-pelan.

“Auw!” jerit Shana.

Kocokan Shana di kemaluanku makin cepat dan rapat. Mendengar suara desahannya yang seksi serta merasakan payudaranya yang kenyal membuat Aqu benar-benar tidak tahan lagi sekarang. Aqu ingin lebih. Aqu ingin percumbuan ini berlangsung hingga klimaks. Aqu ingin….

Tok! Tok! Tok! Seseorang mengetuk pintu kamar Shana dari luar. Lalu sebuah suara terdengar.

“Shan…, Shana…,” itu suara Shintya!

Kita terhenyak. Rupanya karena keasyikan, kita sampai lupa batas waktu lima belas menit tadi. Bagaimana ini? Shana tampak kaget dan facenya pucat. Kalau sampai skandal ini ketahuan, habislah riwayat kita. Bisa-bisa persahabatan geng Power Rangers bisa berantakan.

Mungkin karena panik atau bingung, Shana bukannya buru-buru mengakhiri permainan ini, ia malah terus mengocok kemaluanku. Aqu sudah gag sanggup mengendalikan diri lagi.

“Shan, aqu… mau ke… keluar….”

“Hah?!” Shana kaget, mulutnya menganga.

Seketika itu juga kemaluanku berdenyut-denyut dan muncratlah cairan Air mani berkali-kali. Shana secara refleks menjauhkan kemaluanku dari tubuhnya, dan itu malah membuat Air maniqu muncrat kemana-mana. Sebagian ada yang tumpah di baju Shana, di Tangannya, dan sebagian lagi ada yang muncrat ke lantai dan dinding. Gila, rasanya sungguh nikmat.

“Shana…. ini aqu Shintya. Lagi ngapain sih loe? Tidur ya?” suara Shintya terdengar menggumam dari balik pintu.

“Aduh, gimana ini?” Shana berbisik sambil memperhatikan Tangan kirinya yang blepotan Air maniqu.

“Bersihin dulu!” bisikku padanya.

“Iya, wait Shin! Aqu lagi ganti baju nih, abis mandi!” ucap Shana, setengah berteriak.

Dengan gerakan cepat, Shana mengambil tissue dan mengelap Air maniqu yang menempel di Tangan dan bajunya. Lalu ia mengambil kain lap dan membersihkan Air maniqu yang menempel di lantai dan dinding.

“Cepetan dong, Shan… Ganti baju aja lama bingit sih loe?” ucap Shintya dengan tidak sabar.

Shana mengambil air minum dari galoen, lalu membasahi rambutnya sendiri. Mungkin agar terlihat seperti habis mandi.

Lalu ia meloetot padAqu dan berbisik, “Di, ngumpet di koloeng tempat tidur! Cepet!”

Aqu terkejut. Tampaknya gag ada tempat bersembunyi lain, jadi Aqu langsung menuruti perintahnya.

Kira-kira tiga menit kemudian, persiapan sudah selesai. Aqu sudah bersembunyi di koloeng tempat tidur dan cuma bisa mendenga suara mereka. Untunglah seprei tempat tidur ini panjang sampai ke lantai, jadi sepertinya Shintya tidak menyadari keberadaanku.

“Duh, lama amat sih loe, baru dibukai sekarang,” terdengar suara Shintya.

“Sorry, sorry, tadi aqu lagi pake handuk,” jawab Shana.

Setelah itu Aqu dengar mereka mengobrol dengan suara yang kurang jelas. Mungkin Shintya sedang menggumam. Lalu gag lama kemudian, Aqu merasakan ada yang duduk di atas tempat tidur.

“Ihh… ini apaan Shan ?” suara Shintya terdengar dari atasku.

“Hah? Apaan?” suara Shana.

“Ini, aqu kan meluk boneka kucing loe, tetepi koq ada lendir lengket gini ya? Idiih… apaan nih…?” ujar Shintya.

DEG! Jantungku serasa berhenti berdegup. Gawat. Sepertinya ada yang kelewatan waktu proses bersih-bersih tadi!

Selama beberapa detik, suaSana menjadi hening. Entah apa yang terjadi di luar Sana.

Namun tiba-tiba Shana bersin,

“hachiiii!!!”

“Woooaaahh…! Hiiiiiiiyyyy! Jadi ini ingus lu? Jorok bingit sih lu, cewek macem apa sih lu, ga nyangka aqu punya temen jorok kaya loe. Idiiih,” ucap Shintya beruntun.

“Ya… abisnya… aqu lagi pilek bingit nih, sorry…” ucap Shana dengan suara yang dibuat lesu.

“Pilek sih pilek, tetepi ingusnya jangan dilap ke boneka dong,” ucap Shintya menggerutu.

Perasaanku menjadi lega. Untunglah, sepertinya Shintya percaya. Selama setengah jam kemudian, mereka berdua mengobrol panjang lebar, khas anak cewek. Dan setelah itu, Aqu dengar bahwa Shintya tidak bisa berlama-lama, karena ia ada urusan lain dan juga agar Shana yang sedang “pilek” bisa beristirahat.

“Yaudah, Shan. Loe istirahat dulu ya. Besok pagi aqu mampir ke sini lagi deh. Cepet sembuh ya!” ucap Shintya.

“Iya, thanks ya.”

Suara pintu ditutup. Sepertinya Shintya sudah keluar. Gag lama kemudian, seprei kasur disibak oleh seseorang, dan Shana meloengok ke koloeng kasur, ke arahku yang sedang merayap seperti cicak.

“Huff… Hampir aja kita mampus….” ujar Shana.

Aqu membduit nafas lega. Untungnya Aqu membuat skandal dengan Wanita yang kreatif.

Cerita Dewasa Bandar Domino, Poker Online, Domino QQ, Domino Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.