Vimax cerita ngentot
Cerita Dewasa Terbaru cerita sex
Cerita Sex Terbaru
Breaking News
Cerita Sex Terbaru
Cerita Sex Cerita Sex cerita sex cerita seks Cerita Dewasa

Kisah Hot, Nikmat Balas Budi 1

Vimax Cerita Seks ABGQQ Bandar Q, Poker, Domino, dan Sakong Online Terpercaya

Kisah Hot, Kisah Hot Terhangat, Kisah Hot Nyata, Kisah Hot Terbaru, Namaku Andini Putri, kini aku telah berusia 26 tahun dan telah bekerja di sebuah perusahan multinasional. Kehidupan seksku masih beraliran bebas (atau mungkin lebih tepatnya liar) walau setelah lulus kuliah dan memasuki dunia kerja aku harus menguranginya seiring dengan kesibukanku di kantor dan tentunya harus lebih mampu membawa diri dong, jangan gara-gara nafsu sesaat berpengaruh buruk bagi karirku di kantor. Kisah ini terjadi tahun 2009 yang lalu ketika aku di Bandung, saat itu aku menghadiri sebuah resepsi pernikahan salah seorang anggota keluarga dari pihak mamaku.

Kisah HotKisah Hot, Kisah Hot Terhangat, Kisah Hot Nyata, Kisah Hot TerbaruKisah Hot Terhangat

Karena kedua orang tuaku berhalangan hadir aku lah yang menghadiri undangan tersebut bersama Tante Herlin, adik dari mamaku yang paling kecil atau bungsu dari 7 bersaudara keluarga mamaku. Beliau berumur 35 tahun dan telah menjanda sekitar lima tahun yang lalu dengan seorang anak perempuan yang telah berusia 8 tahun. Meskipun usianya telah kepala tiga dan pernah melahirkan, Tante Herlin masih terlihat segar dan menggairahkan, terlebih dandanannya yang modis dan natural membuatnya terlihat lebih muda dari usia sebenarnya.

Kunjungu Juga Gelorabirahi.com

Hubungannya denganku terbilang cukup akrab, obrolan kami saling nyambung satu dengan lainnya, mungkin karena usianya relatif masih muda sehingga masih bisa mengikuti gaya satu generasi di bawahnya seperti aku ini. Di Bandung kami menginap di salah satu hotel bintang tiga di jalan Pasirkaliki. Hari Sabtu malam kami berdua menghadiri undangan tersebut yang diselenggarakan di sebuah gedung serbaguna yang tidak terlalu jauh dari hotel tempat kami menginap.

Dapat dibilang hari itu sangat melelahkan, bagaimana tidak begitu sampai di Bandung siangnya kami sudah dijamu oleh keluarga yang punya pesta (kami tidak sempat menghadiri pemberkatan nikah karena terlambat) lalu disusul harus ke salon untuk menata rambut dan make up kami, kemudian kembali ke hotel untuk bersiap-siap. Pesta pernikahan yang termasuk mewah itu berjalan lancar, kami pulang kembali ke hotel jam sembilan lebih.

Setelah sikat gigi dan membersihkan make up aku langsung menjatuhkan diri ke ranjang, rasanya seperti surga saja setelah hari yang demikian padat. Aku sempat ngobrol-ngobrol sebentar dengan Tante Herlin sebelum akhirnya terlelap di ranjang hotel yang empuk.

Keesokan harinya setelah sarapan di hotel, itulah saat yang kutunggu-tunggu, apa lagi kalau bukan belanja. Herman salah satu sepupuku mengantar kami berkeliliing kota Bandung yang terkenal sebagai sorganya belanja dan kuliner. Tujuan pertama kami adalah factory-factory outlet di sepanjang jalan Dago. Yang namanya berbelanja memang sering membuat orang lupa waktu, tidak terasa waktu telah menunjukkan pukul dua siang, sudah lebih dari jam makan siang. Kami menenteng belanjaan kami memasuki sebuah kafe di sana dan makan dengan lahap.

Kulihat belanjaan Tante Herlin, wow ternyata tanteku yang satu ini gila belanja juga, beliau juga tidak segan-segan mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk pakaian atau aksesoris yang disukainya. Setelah Dago kami meneruskan perjalanan ke Rumah Mode di kawasan Setiabudi, kami tidak terlalu lama di sana sebelum akhirnya kembali ke hotel jam setengah enam sore.

Acara selanjutnya adalah kumpul-kumpul bersama famili lagi. Aku cukup menikmati acara itu karena dapat bertemu lagi dengan saudara-saudara dan ngobrol-ngobrol sampai lupa waktu. Sepulangnya ke hotel jam 9 malam, aku baru sadar ternyata blackberry ku tidak ada di tasku. Alat komunikasi itu biasanya kutaruh di sebuah pouch berwarna merah muda, di dalamnya juga ada sedikit uang, beberapa kartu nama, serta beberapa benda kecil lainnya.

Tentu saja aku panik setelah menyadari blackberry ku hilang karena di dalamnya ada nomor dan data-data penting. Aku mulai mengingat-ngingat di mana aku meletakkan benda itu sebelumnya. Apakah di restoran tempat acara keluarga tadi? Atau di tempat berbelanja atau tempat makan tadi siang?

“Kenapa ga hubungin langsung aja ke nomornya Ci?” usul Tante Herlin melihatku yang mulai panik.

Benar juga pikirku, kenapa tidak kuhubungi saja, siapa tahu diterima oleh orang yang memungutnya yang kuharap orang jujur dan bersedia mengembalikannya. Tante Herlin mengulurkan ponselnya padaku membiarkanku untuk memakainya menghubungi nomorku sendiri. Dengan harap-harap cemas aku menanti seseorang menerima panggilanku.

Tante Herlin

“Ya…hallo!” terdengar suara pria di seberang sana menerima teleponku.

“Hallo, ini siapa ya?” tanyaku

“Ai Mbak siapa ya?” tanyanya lagi dalam logat Sunda.

“Aku…aku yang punya blackberry Pak, eemm…maaf Pak blackberry yang Bapak pegang sekarang itu punya aku”

“Oooh…jadi Mbak yang punya hape ini teh?“

“Iya Pak, Bapak dapet barang itu darimana? Tolong Pak itu barang penting”

“ Bapak mah nemu hapenya di bangku depan Rumah Mode Mbak, kayanya si Mbak lupa bawa nya??? tanya pria itu

Rumah Mode…ya ampun aku baru ingat, setelah selesai berbelanja di sana, kami duduk-duduk dulu di bangku batu di depan FO itu sambil beristirahat dan menikmati snack. Ternyata di sana lah pouch berisi blackberryku tertinggal.

“Eeennggg…Pak apa kita bisa ketemu aku buat ngembaliin barang itu, itu penting Pak, aku bersedia ngasih imbalan kalau Bapak mau ngembaliin” ucapku penuh harap

“Bisa Mbak…bisa…Bapak juga lagi nunggu yang punya nelepon ke sini, da dosa atuh nyimpen barang yang bukan punya Bapak mah!” jawab suara di sana,

“Mbak di mana? Biar nanti Bapak anterin hapenya besok?”

“Aku di Hotel D’batoe di Pasirkaliki Pak, Bapak tau ga? Bapak besok siang bisa anterin? Soalnya aku sorenya udah harus pulang ke Jakarta”

“Ooh…boleh Mbak, jadi besok Bapak anter ke sana aja yah, jam 1an abis makan siang bisa Mbak?”

“Bisa Pak, aku tunggu ya, nanti kalau udah dateng bilang aja ke resepsionis biar nanti dia panggil aku di kamar, bilang mau ketemu Putri dari kamar 2011”

“Iya Mbak siap, Bapak pasti dateng besok!”

“Makasih ya Pak, aku tunggu besok, maaf ini dengan Bapak siapa ya?”

“Suzeno Mbak”

“Ooh…ok deh Pak Suzeno, sampai besok ya”

Setelah selesai menelepon, hatiku sedikit lega dan mengembalikan ponsel itu pada Tante Herlin. Semoga saja bapak itu menepati janjinya besok akan datang untuk mengembalikan blackberryku.

*********************

Keesokan harinya

Pagi setelah sarapan kami mulai membereskan barang-barang kami karena akan pulang sore hari jam 6.45. Aku bersama Tante Herlin menyempatkan diri berjalan-jalan di Mall Istana Plaza dekat tempat kami menginap. Dasar wanita, dari yang tadinya cuma mau jalan-jalan menghabiskan waktu menunggu kereta berangkat malah akhirnya berbelanja juga, ga tahan deh lihat barang bagus hehehe…Jam 11an ketika masih di mall, saudaraku menelepon Tante Herlin katanya akan menjemput kami untuk makan siang bersama.

Mereka datang sekitar setengah jam setelahnya. Mereka menjamu kami makan siang di sebuah restoran Thai di mall itu. Di tengah makan dan berbincang-bincang, tiba-tiba aku teringat akan bertemu dengan Pak Suzeno di hotel tempatku menginap untuk menerima blackberryku. Aku melihat jam sudah menunjukkan pukul satu kurang sepuluh menit, astaga…bagaimana kalau dia sudah datang dan menungguku? Aku pun terpaksa harus mohon diri pada saudara-saudaraku untuk kembali ke hotel dan akan segera kembali kalau sudah selesai urusannya. Mereka pun nampaknya mengerti alasanku.

“Lain kali taro barang hati-hati Ci, untung ada orang yang baik mau ngembaliin” nasehat salah seorang tanteku yang sudah berumur di atas setengah abad.

Aku hanya tersenyum kecil menanggapinya sebelum meninggalkan mereka. Hanya dengan berjalan kaki lima menitan aku sudah tiba ke hotel dan langsung ke meja resepsionis menanyakan apakah tadi ada orang mencariku.

“Belum ya Mbak, dari tadi pagi aku disini tapi belum ada” jawab si mbak resepsionis.

“O, ya udah deh Mbak, aku tunggu aja di kamar, nanti kalau sudah datang telepon aja ya, janjinya sih deket-deket jam segini” pesanku

Setelahnya aku pun kembali ke kamar dan menyalakan TV untuk menunggu kedatangan Pak Suzeno. Waktu terus berjalan, sebentar lagi sudah mau setengah dua, tapi belum ada juga yang menelepon ke sini. Kegelisahan mulai kembali menyelubungiku, jangan-jangan si bapak berubah pikiran tidak mengembalikan blackberry itu dan menjualnya, pikiran-pikiran negatif lain mulai membayangi pikiranku. Aku menelepon Tante Herlin menanyakannya apakah akan sudah mau pulang ke hotel atau masih akan kemana lagi?

Tante Herlin berkata bahwa selanjutnya mereka akan ke Kota Baru Parahyangan dan menyuruhku segera kembali ke Istana Plaza. Aku sempat agak bingung memilih apakah harus tetap menunggu atau pergi saja karena Pak Suzeno tidak akan datang mengembalikan blackberry itu. Tapi feelingku mengatakan aku harus menunggu sehingga kujawab sebaiknya mereka pergi saja tanpa aku karena masih belum datang, tidak enak pada yang lain, aku juga beralasan agak tidak enak badan, takutnya tambah parah.

“Ya ok deh Ci, kalau gitu kamu istirahat aja, Tante ga lama kok jam tiga udah balik katanya” jawab Tante Herlin.

“Ok deh tante, sori nih jadi pada nunggu, sampe nanti ya!” kataku menutup pembicaraan.

Kini aku hanya berharap supaya tidak menyesal memutuskan demikian, kuharap Pak Suzeno akan datang sesuai janjinya kemarin. Omong-omong kalau dia benar datang akan kuberi apa sebagai imbalannya ya? Hhhmmm…tiba-tiba aku mulai mupeng nih, aku berpikir bagaimana kalau mengajaknya ML saja, kan mumpung cuma aku sendirian di kamar ini.

Aku mulai terangsang membayangkan yang tidak-tidak, tanganku mulai meraba bagian selangkanganku dan membayangkan seperti apa Pak Suzeno orangnya, kalau dari suaranya sih sudah setengah baya, tapi itu tidak masalah, aku toh sudah mencoba berbagai jenis pria sebagai partner seksku. Baru saja tanganku hendak membuka resleting hotpants yang kupakai telepon di sebelah ranjangku berbunyi.

Aku segera mengangkatnya, telepon itu dari resepsionis yang memberitahukan bahwa ada seorang pria mencariku dan kini sedang menunggu di lobby hotel. Thanks God, betapa lega hatiku karena orang itu akhirnya menepati janjinya sehingga aku tidak perlu kehilangan data-data di blackberryku, di saat yang sama aku juga berdebar-debar kalau aku harus memberi hadiah ‘nakal’ pada Pak Suzeno itu.

Aku segera keluar dari kamar setelah memastikan diriku sudah rapi di depan cermin besar di dekat pintu. Saat itu pakaian yang melekat di tubuhku adalah sebuah kaos lengan pendek berwarna pink dan sebuah hotpants biru tua yang memamerkan sepasang paha jenjangku. Sejak di mall tadi memang penampilanku telah mengundang decak kagum para pria, aku dapat merasakan mereka ngiler melihat bentuk tubuhku ini. Aku melangkahkan kakiku menuruni tangga, di ruang tunggu lobby aku melihat seorang bapak setengah baya kira-kira berusia 50 tahun ke atas, berambut cepak hampir botak, sedang duduk di sofa, kutebak itulah Pak Suzeno karena tidak ada tamu lain lagi.

Pak Suzeno

“Ehehe…Mbak Putri yah?” pria itu berdiri dan memberi salam sambil tersenyum ramah.

“Iya bener…siang Pak Suzeno, makasih ya udah repot-repot nih!” aku mengulurkan tangan padanya untuk bersalaman

Aku dapat memperhatikan matanya mencuri-curi pandang tubuhku, terlebih ketika aku duduk dan menyilangkan kakiku, pasti dalam otaknya sudah mulai mupeng tuh hehehe…

“Maaf yah Mbak bapak terlambat, tadi di jalan macet, tempat bapak kan lumayan jauh, ke sini juga pake angkot!” katanya

“Gak papa kok Pak, justru aku yang maaf udah bikin Bapak datang jauh-jauh ke sini buat anterin barang aku!” kataku sambil tersenyum manis

“Ini Mbak barang punya Mbak, coba diperiksa aja dulu!” katanya seraya mengeluarkan pouch blackberry ku dari balik jaket lusuhnya.

Aku senang sekali melihat benda itu kembali, setelah menerimanya aku segera memeriksa isinya, kartu-kartu nama masih lengkap bahkan sedikit uang yang kuselipkan di situ tidak kurang sedikitpun. Dalam hati aku sangat bersyukur masih ada orang jujur di dunia ini.

“Duh makasih banget yah Pak, ini penting semua loh…Bapak nemuin ini gimana??” tanyaku

“Ya itu Mbak, ketinggalan di bangku, bapak kan tukang parkir di situ, jadi pas ngeliat, langsung diamanin sama bapak teh” ia menjelaskan sambil pandangannya terus saja menyapu tubuhku.

“Iya nih Pak keasyikan belanja sampe ceroboh, bener Pak aku berterima kasih sekali ke Bapak” aku berterima kasih lagi,

“Emm…sebagai balasannya aku sudah mempersiapkan hadiah buat Bapak, apa Bapak mau ikut aku ke kamar soalnya masih aku simpan di sana?”

“Oh gak usah Mbak ga usah, Bapak gak ngeharap hadiah kok, cuma nolongin orang aja!” tolaknya halus, “Bapak punten dulu yah!” ia berdiri hendak pergi

“Pak tolong diterima ya, ini sebagai rasa terima kasih aku pada Bapak!” aku berdiri dan menatapnya dengan penuh harap.

“Eeemmm…kalau Mbak maksa, ya udah tapi jangan lama ya Mbak kan ga enak” ia akhirnya mengiyakan juga

Akupun berjalan kembali ke kamarku di atas dengan diikuti olehnya. Aku dapat merasakan ia terus memperhatikan tubuhku terutama saat naik tangga.

“Hehehe…ga enak, ga enak apanya? Nanti juga keenakan lo!” tawaku dalam hati.

“Duduk dulu Pak, mau minum apa?” tanyaku setelah masuk ke kamar.

“Ehehe…apa aja deh Mbak” jawabnya masih agak grogi.

Aku membuka kulkas dan mengeluarkan sebotol Pulpy Orange, kubuka tutupnya dan kutuangkan isinya ke dalam gelas.

“Diminum Pak!” kataku seraya menyodorkan gelas itu padanya.

Saat ia meneguk minumannya aku dengan gerakan menggoda membuka kaosku lalu hotpantsku. Pria itu hampir tersedak melihat pertunjukan erotisku tepat di hadapan matanya. Kini tinggal bra dan celana dalam ungu yang tertinggal di tubuhku. Matanya membelakak menyaksikan kemulusan tubuhku dengan mulut melongo.

“Eee…ehhh…apa nih Mbak, kok kaya gini sih?” tanyanya tergagap-gagap.

Aku yakin perasaannya berkecamuk antara bingung dan tidak percaya, rasanya ia seperti sedang bermimpi, tidak menyangka hal ini akan terjadi. Aku mendekati dirinya yang sedang terpana, kuambil gelas yang isinya tinggal seperempatnya itu dan kuletakkan di meja di sebelahnya, lalu aku naik ke pangkuannya. Kuraih tangan kanannya dan kuletakkan di dadaku dan tanpa banyak bicara lagi, wajahku mendekati wajahnya hendak menciumnya. Tapi tanpa kuduga, ia menurunkanku dari pangkuannya dan buru-buru berdiri.

“Mbak apa-apaan nih? Jangan gini ah, ga baik Mbak, dosa…ga pantes Mbak!” katanya gugup.

“Nggak Pak…nggak apa-apa, aku cuma ingin berterima kasih ke Bapak karena sudah membantu aku, Bapak boleh nikmati aku sepuasnya” kataku sambil merangkul lengannya, tapi ia segera menepiskannya

“Iyah tapi jangan gini Mbak, Bapak udah punya istri sama anak, dosa atuh kalau selingkuh mah Mbak!” katanya dengan logat Sunda yang kental.

Kulihat wajahnya serius dan nampaknya tidak ingin berbuat selingkuh, aku pun sempat kagum dibuatnya, baru kali ini ada yang menolak kenikmatan yang kutawarkan.

“Ya udah deh Pak, maaf ya kalau aku keterlaluan, kita anggap aja kejadian barusan itu nggak ada” kami sempat saling terdiam beberapa saat lalu aku melanjutkan, “kalau sudah tidak ada apa-apa Bapak boleh pergi, sekali lagi terima kasih dan maaf ya Pak”

Ia mengangguk, tapi matanya tidak lepas memandangi tubuhku yang tinggal memakai pakaian dalam.

“Bapak permisi ya Mbak!” katanya seraya mengambil kembali topi petnya di atas meja lalu berdiri.

Aku berjalan dulu di depan untuk membukakan pintu baginya. Tapi tanpa kuduga-duga, bar u saja hendak membuka kunci, tiba-tiba tubuhku didekap dari belakang. Aku pun secara refleks meronta panik.

“Eeehhh…Pak, ngapain nih!” kataku sambil berusaha melepaskan diri.

Ia menghimpitku ke sudut ruangan sebelah pintu dan tangannya mulai menggerayangi tubuhku. Memang inilah yang sejak tadi kuharapkan, tapi aku sengaja bersikap seolah-olah menolak untuk menaikkan nafsunya dan juga menaikkan gengsiku akibat penolakkannya barusan.

“Jangan Pak…apa-apaan sih!” aku setengah berteriak dan menepiskan tangannya yang meremas payudaraku yang masih tertutup bra.

“Maaf Mbak, kan Mbak yang tadi ngajak duluan, Bapak jadi gak tahan nih ngeliat bodi Mbak bahenol gini…masih boleh kan? Hehehe” tangannya kembali mencaplok payudaraku sementara tangan satunya mengelusi pahaku hingga ke pantat.

“Uuuh…jangan gitu Pak, ssshhh!!” desisku saat tangannya yang kasar dan sudah berkeriput menyusup ke balik cup bra ku dan bersentuhan langsung dengan payudaraku.

“Kok jangan Mbak? Kan tadi Mbak yang godain Bapak huehehehe…” sahutnya sambil memencet putingku sehingga aku seperti merasakan gelombang kenikmatan mengaliri tubuhku.

Perlakuannya membuatku langsung lemas terbuai kenikmatan sehingga rontaanku pun semakin lemah. Ia kini membalik tubuhku hingga saling berhadapan dengannya lalu bibirnya melumat bibirku dengan rakusnya.

“Eeemmm…mmmhh….ssllkk…ssssllrrp!” suara desisan tertahan terdengar dari mulutku saat berpagutan dengannya.

Selama beberapa menit lamanya kami bercumbu dengan penuh gairah, lidah kami saling belit dan saling jilat, air liur kami saling bertukar, aku juga dapat merasakan bau cengkeh pada mulutnya, agaknya ia lumayan perokok juga. Selama itu pula tangannya tidak pernah diam menjelajahi tubuhku, tangan satunya masuk ke celana dalamku bagian belakang dan meremasi bongkahan pantatku dengan gemasnya sementara tangan lainya memeloroti bra sebelah kiriku lalu mempermainkan payudaraku yang sudah terbuka.

Mulut Pak Suzeno kini turun ke bawah sambil mencium dan menjilati leherku terus menuju payudaraku. Lidahnya menjalar dan meliuk-liuk pada putingku yang makin mengeras, menghisap dan meremas-remas payudaraku. Sementara itu tangannya yang tadi meremasi pantatku kini mulai merayap ke depan menyentuh kemaluanku yang ditumbuhi rambut-rambut lebat. Jari-jari nakal itu mengelus-elus bagian sensitifku dari balik celana dalam. berusaha membuka penutup terakhir itu, tapi aku sengaja pura-pura menolak agar ia semakin bernafsu padaku

“Udah ah Pak, jangan terusin!” tolakku dengan suara sedikit mendesis.

“Si Mbak ah, malu-malu mau gini malah bikin bapak tambah konak pengen ngentotin Mbak huehehehe…mmmm….slllrrpp!” katanya sambil terus mengenyot payudaraku

“Eenngghh!! Pak!” desisku dengan tubuh menggelinjang ketika dua jarinya membelah bibir kemaluanku dan mulai mengorek-ngorek liang kenikmatanku.

Jari-jari itu bergerak liar dalam kemaluanku seperti ular sehingga aku pun menggeliat dan mendesis merasakan kenikmatannya. Sebentar saja wilayah kewanitaanku sudah becek dengan lendir dibuatnya.

“Di ranjang aja Pak!” kataku sambil memegang pergelangan tangannya yang sedang mengaduk-aduk di balik celana dalamku dan kutarik ke arah ranjang.

Aku menghempaskan tubuhku ke ranjang sementara ia berlutut di lantai di tepi ranjang dan menarik lepas celana dalamku. Matanya seperti mau keluar menatapi kemaluanku yang sudah terbuka, dengan ditumbuhi rambut-rambut hitam dan bagian tengahnya yang merah merekah mengundang gairah.

“Ooohh…Pak!!!” desisku sambil meremas rambutnya yang sudah beruban ketika kurasakan nafasnya menerpa kemaluanku disusul sapuan lidahnya pada bibir kemaluanku yang menyebabkan tubuhku menggelinjang nikmat.

Aku berbaring dengan tubuh setengah terangkat dengan bertumpu pada kedua siku tanganku sehingga aku dapat melihat wajahnya yang mupeng berat saat melumat kemaluanku.

“Aaaahhh…teruss Pak, disitu enak…yahhh!!” erangku ketika pak Suzeno dengan nakal menyedot klitorisku dan menyeruput cairan cintaku yang memang rasanya sejak tadi terus mengalir.

Dan yang bisa kulakukan hanya merintih dan mengejang keenakan tanpa mampu menyembunyikan rasa nikmat yang mendera tubuhku ini. Lidah itu…lidahnya yang kasap itu terus menyapu-nyapu kewanitaanku dan kadang masuk ke dalam menimbulkan sensasi geli yang menggelitik nikmat. Ooh…rasanya cairan cintaku mau tumpah semua dibuatnya. Bukan hanya lidahnya, jarinya pun ikut keluar masuk liang kemaluanku menambah kenikmatan sensual ini. Ada sekitar sepuluh menitan ia mengulum dan mencucuk-cucukkan jarinya ke kemaluanku membuatku menggelinjang dan mendesis tak karuan.

Puas melumat kemaluanku, ia naik ke ranjang menindih tubuhku, bibirnya langsung menyosor bibirku. Kami berciuman dengan penuh gairah, sambil beradu lidah tanganku dengan lincah mempreteli kancing kemejanya lalu membuka kemeja lusuh itu. Kami berguling ke samping tiga kali hingga aku kini balik menindihnya. Tanganku bergerak ke bawah membuka sabuknya, dilanjutkan dengan resleting celananya. Baru meraba dari luar saja aku sudah merasakan kemaluannya yang menegang. Dadaku bergesekan dengan dadanya yang kurus dan tulangnya tercetak pada kulit keriputnya itu.

Walau agak kurus tubuhnya masih cukup kokoh, masih memperlihatkan keperkasaan masa mudanya dulu. Setelah pakaiannya terlepas semua, aku mulai membuka celana dalamnya. Dengan hati deg-degan kuturunkan pelan-pelan pakaian terakhir yang masih melekat di tubuhnya itu. Wow…kemaluan yang telah ereksi itu mengacung tepat di depan wajahku, lumayan keras dan panjang. Kugenggam dan kukocok pelan benda itu.

“Kenapa Mbak? Bogoh sama kontol bapak? Hehehe!” godanya karena melihatku terbengong mengamati kemaluannya itu.

Kujawab dengan membuka mulutku dan menelan benda panjang itu, hap! Mulailah aku mempraktekkan teknik oralku padanya. Pertama-tama aku mulai dari kepala kemaluannya dulu, bagian itu kujilati dan kuemut-emut sambil tanganku mengocok pelan batangnya. Pria setengah baya itu langsung mendesis nikmat sambil meremas rambutku. Kepalaku mulai naik-turun mengemuti kemaluannya yang keras itu. Tak lama kemudian aku merubah posisi, aku memutar tubuh dan menaiki wajahnya hingga kini kami dalam posisi 69.

“Jilat Pak!” perintahku sambil meMbakok ke bawah belakang, “ahhh!” tanpa kuperintah kedua kalinya lidah dan jarinya sudah menyerang kemaluanku.

Aku juga merundukkan tubuh dan kembali memasukkan kemaluan dalam genggamanku ke mulut. Kami saling jilat dan emut alat kelamin masing-masing. Pak Suzeno sangat bernafsu, ia memasukkan jari jarinya ke dalam kemaluanku dengan agak kasar. Liang kenikmatanku memang sudah basah, karena orgasme barusan.

“Wah basah betul nih Mbak, asyik ya? Nyepongnya juga Mbak jago amat yah?” kata Pak Suzeno mengomentari, “mm…wangi lagi memeknya” sahutnya lagi sambil mengenduskan hidungnya ke kemaluanku.

Ia sekarang mempermainkan klitorisku, ia gosok gosokkan jari dan lidahnya pada daging kecil yang sensitif itu. Tubuhku sampai bergetar ketika merasakan sapuan lidahnya pada klitorisku. Pijatan lembut telunjuk dan ibu jarinya pada klitorisku membuat pinggulku meggeliat-geliat. Semakin tidak tahan, akupun mengisap kemaluannya kuat-kuat. Jilatan dan coblosan jemari Pak Suzeno membuat tubuhku semakin bergetar menuntut pemuasan.

“Pakk..ohh. .sekarang yaaa…ohhh gak tahan nih!” aku mendesis tak karuan

“Apa yang sekarang Mbak?”’ Pak Suzeno menahan senyum-senyum mupeng

“Ayo Pak…entotin aku, udah pengen nih!” ujarku tanpa malu-malu sambil menggeser tubuhku ke depan, pantatku kuangkat setinggi mungkin, kedua jariku menyibak bibir kemaluanku seolah mempersilakannya menusuk lubang kenikmatanku

“Hehe…jadi Bapak ewe yang memeknya sekarang!” sahutnya sambil bangkit berlutut di belakangku.

Aku mengangguk dan nafasku makin terengah-engah menahan kobaran birahi, tidak sabar lagi aku menuggu kemaluanku ditusuk oleh kemaluannya yang sudah keras itu

“Ooohh!!” aku mendesis merasakan kepala kemaluannya melesak masuk ke kemaluanku.

Kemaluan itu secara perlahan tapi pasti semakin memasuki kewanitaanku. Aku menggelinjang merasakan ganjalan di bibir kemaluanku.

“Terus masukin Pak!” aku menarik nafas menahan ganjalan kejantanan Pak Suzeno yang terbilang keras itu.

Kemaluan itu terasa sekali dalam kemaluanku, begitu keras dan berdenyut-denyut. Tak lama kemudian kemaluan itu pun mulai menyentak-nyentak, tangan kasar pria itu merayap ke arah payudaraku dan mulai meremas-remasnya. Aku pun mendesis-desis sambil meremasi kain sprei di bawahku. Pak Suzeno mengayuh dengan perlahan tapi kuat, sekitar dua detik selang tiap hujaman dan tarikan. Batang kemaluannya sengaja agak ditekan ke dinding kemaluanku.

“Ugghh…gitu Pak, tenagaan dikit…eemmhhh….eemmhh!” sahutku sambil turut menggoyang-goyangkan pinggul.

Sodokan-sodokan yang demikian kuat dan buas membuat gelombang orgasme kembali membumbung, dinding kemaluanku kembali berdenyut, kombinasi gerakan ini dengan gerakan maju mundur membuat batang kemaluan pria itu seolah-olah diperas. Aku meMbakok ke belakang menyaksikan Pak Suzeno semakin tidak bisa menahan kenikmatan yang melandanya, gerakannya semakin liar, mukanya menegang, dan keringat meleleh dari dahinya. Melihat hal ini, timbul keinginanku untuk membuatnya mencapai puncak kenikmatan.

Pinggulku kuangkat sedikit dan kemudian membuat gerakan memutar saat ia melakukan gerak menusuk. Pak Suzeno nampaknya mendapat sensasi luar biasa dari jurusku ini, mimik mukanya yang memangnya culun itu bertambah lucu ketika menahan nikmat, batang kemaluannya tambah berdenyut-denyut, ayunan pinggulnya bertambah cepat tetapi tetap lembut. Tidak sampai lima menit kemudian, pertahanannya pun bobol. Kemaluannya menghujam makin dalam ke kemaluanku, lalu tubuhnya ambruk menindihku. Aku dapat merasakan tubuh kurus itu bergetar dan mengejang ketika spermanya keluar di dalam kemaluanku berkali-kali. Semprotan-semprotan hangat itu mengisi liang kenimatanku hingga kurasakan kemaluannya makin menyusut di dalam sana, sungguh luar biasa rasanya.

Pak Suzeno mengeluarkan kemaluannya lalu rebah di sebelah kananku. Selama beberapa menit kami beristirahat memulihkan tenaga masing-masing. Kami ngobrol ringan sambil sesekali bercanda sambil istirahat, menurut pengakuannya baru kali ini dia berkesempatan ngeseks dengan wanita secantik diriku (bukan muji diri loh, ini kata beliau kok) dan dari kelas atas pula. Aku tersenyum mendengar pengakuannya.

“Bapak masih kuat? Aku belum puas nih soalnya” kataku dengan suara mendesis erotis sambil naik menindih tubuhnya.

“Weleh…weleh si Mbak gede nafsu juga euy, masih Bapak masih bisa kok, tapi mainnya pelan-pelan aja Mbak, Bapak kan udah tua hehehe” katanya.

Tanganku ke bawah meraih kemaluannya, benda itu sudah mulai bangkit lagi tapi belum sepenuhnya. Untuk membangkitkan kembali gairahnya aku menciumnya, tanganku yang satu membelai dadanya, kucubit dan kupilin putingnya yang berrambut. Ciumanku merambat turun ke lehernya, bahu hingga dadanya, aku dapat merasakan aroma keringatnya. Aku melakukan mandi kucing padanya hingga sampai di putingnya kujilati dan kuhisap. Kemaluan dalam genggamanku pun terasa semakin mengeras.

Aku memposisikan kemaluanku di atas kemaluan itu. Kemudian secara perlahan aku menekan batang kemaluannya yang sudah sangat keras ke bibir kemaluanku yang sudah sangat basah karena cairanku sendiri. Aku menahan napas saat benda itu menurunkan tubuhku hingga kemaluannya melesak masuk. Seinci demi seinci, batang kemaluan Pak Suzeno mulai terbenam ke dalam jepitan liang kemaluanku. Ternyata si tukang parkir ini bukanlah orang yang hijau dalam hal seks, buktinya ia tidak terburu-buru melesakkan seluruh batang kemaluannya tapi dilakukannya secara bertahap dengan diselingi gesekan-gesekan kecil ditarik sedikit lalu didorong maju lagi hingga tanpa terasa seluruh batang kemaluannya sudah terbenam seluruhnya ke dalam liang kemaluanku.

Kami terdiam beberapa saat untuk menikmati kebersamaan menyatunya tubuh kami. Bibir pria itu memagut bibirku dan akupun membalas tak kalah liarnya. Aku merasakan kedutan kemaluan Pak Suzeno yang terjepit dalam

kemaluanku.

“Aaakkhh!” erangku dengan tubuhku tersentak saat tiba-tiba Pak Suzeno menyentak pinggulnya ke atas.

“Asoy kan Mbak?” katanya dekat telingaku

“Hihihi…nakal yahh…Ohh” belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, ia sudah menyentakkan lagi pinggulnya, kali ini lebih bertenaga hingga seolah-olah ujung kemaluannya menumbuk dinding rahimku di dalam sana.

Aku yang merasa tertantang mulai menggoyangkan pinggulku. Kulihat matanya membeliak-beliak ketika kemaluannya yang terjepit dalam liang kemaluanku kuputar dan kugoyang. Aku menegakkan tubuh sehingga semakin leluasa menaik-turunkan tubuhku agar kemaluannya terhujam lebih dalam ke kemaluanku

“Shh.. Oughh.. Terushh.. Mbak…enakkhh!” Pak Suzeno menceracau.

Tangannya yang kasar dan sudah keriput mencengkeram kedua payudaraku dan meremasinya. Napas kami pun semakin menderu-deru karena tubuh kami diterpa gelombang birahi yang dahsyat. Aku semakin tak dapat menahan diri lagi, tubuhku bergerak semakin liar dan kepalaku menggeleng-geleng. Dua puluh menit lamanya aku menaiki batang Pak Suzeno yang keras hingga benda itu merojok-rojok kemaluanku hingga akhirnya keasyikan kami terganggu oleh suara pintu dibuka. Kontan aku pun menyambar guling untuk menutupi tubuh telanjangku, demikian juga Pak Suzeno, pria setengah baya itu nampak kalang kabut, ia meraih bantal di bawah kepalanya dan langsung menutupi selangkangannya.

Bersambung

Cerita Dewasa Bandar Domino, Poker Online, Domino QQ, Domino Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.