Vimax cerita ngentot
Cerita Dewasa Terbaru cerita sex
Cerita Sex Terbaru
Breaking News
Cerita Sex Cerita Sex cerita sex cerita seks Cerita Dewasa

Kisah Sex Terbaru Di Pulau Mentawai

Vimax Cerita Seks ABGQQ Bandar Q, Poker, Domino, dan Sakong Online Terpercaya

Beritaseks, Seperti biasanya, sore itu terlihat rutinitas keramaian di pelabuhan Muaro, Kota Padang. Pelabuhan itu adalah sarana perhubungan orang dan barang dari Padang ke Mentawai dan sebaliknya.Senja itu orang orang akan berangkat ke pulau Mentawai yang berjarak 80 mil tenggara pantai barat Sumatera Barat. Sebelum semua penumpang naik ke kapal terlihat orang-orang bersileweran,ada yang dengan mimik sedih,gembira saling bercampur baur.Diantara keramaian orang itu terlihat satu keluarga mengantar sanak familinya. Dengan memarkir mobil jenis kijang dan memakai plat merah menandakan orang yang mengantar itu bukanlah orang sembarangan. Terlihat juga seorang ibu yang tak henti-hentinya memeluk anak gadisnya. Rupanya ibu itu merasa berat hati melepas anaknya itu.Lalu terdengar aba aba bahwa calon penumpang di persilahkan untuk menaiki kapal karena akan segera berangkat.

Gadis itu berusaha melepaskan pelukan ibunya dan menuju kapal dengan ditemani bapaknya yang seorang pejabat didaerah tersebut.Tidak lupa si gadis meraih tangan seorang pria yang cukup tampan berdiri disampingnya saat itu.Rupanya pria tersebut adalah kekasih si gadis dan hubungan mereka telah direstui oleh orang tuanya. Saat itu si gadis dengan ditemani bapaknya menaiki kapal dan sesekali melambaikan tangannya kearah pengantarnya. Terlihat juga si ibu dan si pria itu melambaikan tangannya. Tak lama kemudian kapal mulai bergerak perlahan meninggalkan pelabuhan Muaro Padang menuju ke Pulau Mentawai.

cerita hot 2016, cerita hot terbaru, cerita hot, cerita sange 2016, cerita sange terbaru, cerita sange,

Perjalanan itu akan memakan waktu kurang lebih 12 jam pelayaran ke Mentawai malam itu dan jika cuaca memungkinkan maka akan merapat di pelabuhan Tua pejat pagi esoknya.Selama perjalanan si bapak tak henti-hentinya berbincang dengan gadisnya itu yang bernama Mayang. Usianya saat itu sudah menginjak 24 tahun. Mayang adalah seorang dokter yang akan di tugaskan PTT di pulau tersebut atau tepatnya di Pulau Sipora. Bapaknya sengaja ikut mendampingi putrinya ke pulau dengan harapan agar bisa melihat bagaimana nanti lokasi tempat kerja anak kesayangannya itu.Apalagi dari kabar yang ia tahu selama ini,daerah itu masih terisolir dan terpencil.

Deru ombak Samudera Hindia sangat kuat menguncang kapal yang mereka tumpangi.Sebagai tenaga medis,Mayang tidak terpengaruh oleh mabuk kapal saat itu,padahal di sekitar mereka banyak penumpang lain yang terserang mabuk kapal.Dia hanya tertidur disamping bapaknya,begitu juga dengan bapaknya juga terlihat amat ngantuk,untunglah mereka mendapat tempat di kelas yang cukup sederhana,karena hanya memang itu yang ada kalau ke Mentawai.Dengan beralaskan hanya sebuah bed cover yang dibawanya dari Padang,Mayang merebahkan tubuhnya di kamar kapal itu,sementara bapaknya bersilonjor di atas dipan yang ada di kamar itu.Goyangan kapal membuat mereka merasa tak nyaman,maklum terjangan gelombang ombak yang amat keras saat itu.

baca juga Kisah Sex Pelacuranku

Syukurlah mereka dapat memicingkan matanya beberapa saat selama perjalanan yang melelahkan tersebut.Hingga kapal itu akhirnya merapat di pelabuhan Tua Pejat pulau Sipora .Pantainya amat indah dan tidak jauh dari situ jika ingin menikmati pemandangan dan selancar laut bisa dengan menaiki kapal yang jika ditempuh memakan waktu kurang lebih dua jam. Setelah meSitiunkan barang bawaannya, Mayang dan bapaknya telah disambut oleh perangkat desa tempatnya akan menetap. Orang itu adalah petugas kesehatan yang bertugas di puskesmas desa tersebut bernama Pak Sitifadli, dia ditugaskan untuk menjemput Mayang dan bapaknya. Dengan sedikit basa basi, Pak Sitifadli mengemasi barang bawaan Mayang ke sepeda motornya, sedangkan Mayang dan bapaknya telah disediakan dua buah ojek yang akan membawa mereka ke desa yang akan di tuju.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan dan jalan yang tidak begitu mulus, sampailah mereka di desa tempat Mayang bertugas. Di sana Mayang dan bapaknya di bawa ke rumah yang telah disediakan. Tampak rumah itu amat bersih dan tertata dengan rapi. Rumah semi permanen itu terletak tak jauh dengan puskesmas yang akan ditempati Mayang. Dengan sopan Pak Sitifadli menyilahkan Mayang dan bapaknya memasuki rumah itu. Pak Sitifadli membukakan pintu rumah itu yang masih terkunci.

Mayang dan bapaknya memasuki rumah dinas tersebut. Di dalamnya itu telah tersedia semua perlengkapan yang dibutuhkan termasuk isi kamar dan juga perabotannya. Tak lama kemudian datanglah istri Pak Sitifadli yang membawa air minum dan makanan kecil. Pak Sitifadli mengenalkan istrinya kepada Mayang dan bapaknya.Mereka terlibat perbincangan yang mengasikkan dan ternyata istri Pak Sitifadli juga menguasai seluk beluk masalah kesehatan dan dialah yang akan membantu tugas-tugas Mayang selama disana. Tampak Bapak Mayang sedikit lega melihat keramah tamahan yang di perlihatkan suami istri tersebut. Segala kekuatirannya selama ini,mulai berkurang sebab pulau itu sudah mulai maju dengan adanya sarana telekomunikasi selular. Jadi ia tak akan kuatir lagi meninggalkan anak gadisnya di pulau itu untuk selama beberapa bulan.

Malam harinya, bapak Mayang langsung mengabarkan bahwa mereka telah sampai dengan selamat di tujuan kepada keluarganya di Padang. Begitu juga Mayang telah menghubungi kekasihnya dan mengabarkan bahwa ia telah sampai dengan selamat. Esok harinya mulailah Mayang masuk ke puskesmas dengan di dampingi oleh perangkat desa termasuk kepala desa dan ibu Sitifadli. Selama pengenalan kepada petugas puskesmas, Mayang amat senang dengan sambutan yang begitu familiar selama ini.Apalagi dari kata kepala desa tadi,bahwa hampir 2 tahun ini tidak ada lagi dokter yang masuk di puskesmas itu.Dan kedatangan Mayang dianggap telah membawa angin pencerahan dan peningkatan taraf kesehatan masyarakatnya.

Setelah melakukan ramah tamah maka mulailah Mayang melakukan tugas-tugasnya dengan sebaik mungkin.Ia banyak bertanya pada Bu Sitifadli tentang kendala dan masalah kesehatan di desa itu selama ini.Mayang juga banyak bertanya mengenai bahasa yang kurang begitu ia pahami, dan sedikit demi sedikit iapun mulai paham dengan arti bahasa masyarakat situ.Melihat Mayang sudah dapat beradaptasi dalam melaksanakan tugasnya di tempat itu,sesuai jadwal maka bapaknya kembali ke Padang.Sore itu tampak Mayang mengantar bapaknya ke pelabuhan didampingi Pak Dan Bu Sitifadli. Bapak Mayang menitipkan putrinya kepada Pak dan Bu Sitifadli.Bapaknya pun selalu memberi nasihat tentang hidup dilingkungan baru itu kepada Mayang,Ia berpesan agar Mayang bisa membawakan diri dan menjaga harkat sebagai wanita, juga sebagai dokter.Pesan bapaknya itu di terima Mayang sambil menganggukkan kepalanya.Dengan sedikit mimik sedih ia lepas bapaknya menuju Padang.

Setelah tidak lagi tampak kapal yang membawa bapaknya, Mayang kembali ke desa dengan menumpang ojek karena pak dan bu Sitifadli naik sepeda motor berboncengan. Kini selama di pulau itu Mayang larut dalam aktifitasnya,namun komunikasi dengan keluarga dan kekasihnya tetap terjalin dengan baik.Malah kekasihnya akan datang suatu saat ke pulau ini,Mayang gembira saja. Setiap hari libur misalnya hari Minggu Mayang selalu diajak pak dan bu Sitifadli keliling pulau melihat keindahan pantai yang cukup terkenal itu.Mayang pun amat menyukai pemandangan di pulau yang cantik tersebut.Biasanya mereka jalan pagi,sebelum pak dan bu Sitifadli melakukan ibadah kebaktian di gereja.Sedangkan Mayang yang seorang muslim hanya diam dirumah.

Banyak pekerjaan yang ia lakukan kadang mencuci pakaiannya yang kotor atau membersihkan rumah. Memang sebagian besar penduduk disitu memeluk agama Kristen.Mayang cukup melakukan ibadah di rumahnya saja. Selama melaksanakan tugas medis dan penyuluhan kesehatan terkadang Mayang tak hanya berada di puskesmas saja.Ada jadwal yang akan ia lakukan untuk masuk kedesa desa di pelosok. Tak jarang ia melakukan perjalanan ke pedalaman dengan menggunakan perahu motor dengan di temani Bu Sitifadli. Awalnya ia cukup kaget dan kuatir melihat hutan bakau dan suasana hutan yang tak biasa ia alami. Namun karena adanya semangat dan bantuan dari bu Sitifadli, ia pun bisa menerimanya sebab masyarakat yang berada di pedalaman juga butuh bantuan kesehatan yang memadai.

Suatu hari Mayang dan Bu Sitifadli masuk ke pedalaman, namun mereka dikejutkan oleh panggilan dari orang desa bahwa,mereka amat membutuhkan bantuan sebab baru saja seorang rohaniawan tertimpa sebuah pohon di sana. Dengan segera mereka menuju tempat yang di tunjukkan masyarakat pedalaman tersebut. Sesampai disana terlihat seorang pria yang terbaring dalam rumah kayu dengan luka yang cukup serius. Pria itu baru saja tertimpa pohon yang tumbang karena angin beberapa saat sebelumnya. Setelah mengeluarkan peralatan secukupnya mulailah Mayang dengan dibantu bu Siti melakukan pengobatan seperlunya.

Melihat kedaan pria itu yang cukup parah,maka diputuskan bahwa pria itu harus dibawa ke puskesmas. Secara beramai ramai penduduk kampung itu memapah laki laki itu ke perahu yang biasa digunakan Mayang untuk meninjau pedalaman.Setelah memberikan pengobatan darurat penghambat keluar darah pada pria itu, perahu mereka bergerak meninggalkan desa itu. Selama perjalanan tampak sekali kesibukan Mayang dan bu Siti yang berusaha menghentikan pendarahan di kepala pria itu. Untuk pertolongan pertama usaha mereka cukup berhasil dan tak lama kemudian perahu telah memasuki desa tempat Mayang bertugas. Dibantu oleh pengemudi perahu dan orang yang berada disekitar situ,mereka mengangkat tubuh pria yang luka tersebut menuju puskesmas.

Sesampai di puskesmas,pria itu dibaringkan di tempat pertolongan pertama. Dengan ditangani Mayang dan bu Siti akhirnya mereka melakukan sedikit pembedahan kecil. Tak lama kemudian pertolongan pada pria itu pun berhasil dan lega lah hati mereka karena itu pertama kalinya Mayang melakukan pertolongan darurat tampak pria itu tertidur karena pengaruh obat penenang. Lalu Mayang minta pada Bu Siti itu menjaga pria itu sebab ia mau pulang untuk membersihkan tubuhnya yang terasa mulai kotor karena perjalanan siang tadi.

Bu Siti lalu menjaga perawatan pria itu. Tak lama kemudian pria itu siuman dan Bu Siti menanyakan identitas pria tersebut.Dengan gambalang pria itu menyebutkan namanya.Ia bernama Heeldhy, berasal dari Ende NTT dan sampai di pulau Sipora itu karena dalam rangka praktek kerohanian dari Seminari di Semarang jawa Tengah.Usianya sekitar 26 tahun.Iapun menceritakan sebab kecelakaan yang menimpa dirinya pada Bu Sitifadli, tidak lupa ia mengucapkan terima kasih yang dalam atas bantuan tenaga medis di puskesmas itu. Bu Sitifadli juga bilang bahwa yang menolong Heeldhy bukan saja dirinya juga ada dokter yang saat itu sedang pulang. Bu Siti juga menceritakan nama dokter yang telah membantu Heeldhy.

Dalam keasikan bincang bincang Bu Siti dan Heeldhy saat itu, munculah Mayang yang telah kembali dari rumahnya. Dengan sapaan lembut ia pun menanyakan keadaan pasien tersebut. Dari keterangan Bu Siti,Mayang bisa mengetahui kondisi pasiennya. Tak lupa Bu Siti mengenalkan pria itu pada Mayang. Ia menjabat tangan pria itu dan menyebutkan namanya. Lalu Bu Siti minta izin pulang karena ia akan bersih bersih diri dulu. Mayang mengizinkan Bu Siti pulang sebab malamnya Bu Siti akan bertugas menjaga pasien tersebut. Setelah Bu Siti pulang, Mayang sempat menanyakan tentang sebab Heeldhy mengalami kecelakaan. Heeldhy menerangkan awal kejadian yang menimpanya.Mayang akhirnya tahu bahwa Heeldhy adalah seorang calon rohaniawan yang di tugaskan kepedalaman untuk memberikan pelayanan rohani di pulau itu. Rupanya Heeldhy bukanlah orang yang kaku dalam berbicara, ia tampak mengusai berbagai hal. Perbincangan Mayang dan Heeldhy terlihat sangat akrab, jauh dari kesan seorang dokter yang kaku dan seorang rohaniawan yang juga kaku. Mereka seperti orang yang telah kenal lama sangat familiar. Berbagai macam masalah menjadi topik perbincangan mereka saat itu, mulai dari ketelisoliran medan yang mereka jalani juga tentang prasarasa infrastruktur yang sulit. Mayang juga mengeluhkan tentang alat transport dan juga sarana komunikasi yang sering terganggu di pulau itu. Heeldhy juga menyampaikan hal yang sama.

Tak lama kemudian Mayang minta diri karena Bu Siti sudah balik ke puskesmas dan ia ingin pulang ke rumahnya untuk istirahat. Sambil mengecek kondisi Heeldhy dan keadaannya, Mayang memberi arahan pada Bu Siti tentang tindakan yang akan dilakukan pada Heeldhy.Lalu Mayang pun pulang kerumahnya,sambil minta izin pada Heeldhy dan Bu Siti yang di antar Bu Siti sampai pintu. Malam itu Heeldhy menjalani perawatan di Puskesmas itu, syukurlah peralatan di puskesmas itu lengkap sehingga ia dapat tertolong dengan cepat. Selama beberapa hari, Heeldhy menginap di puskesmas itu sampai ia di nyatakan boleh pulang. Ia dijemput oleh temannya yang sama ditugaskan di pulau itu. Heeldhy tak lupa mengucapkan terima kasih atas bantuan para tenaga medis di puskesmas itu, terutama dr Mayang dan Bu Siti. Tidak lupa Heeldhy minta nomer telpon selular Mayang agar mereka bisa saling membantu jika Mayang sedang ke pedalaman atau bantuan konsultasi kesehatan. Dengan senang hati Mayang pun memberikan nomer telponnya.Bagi Mayang yang seorang dokter tidak akan membedakan status manusia karena telah diucapkannya dalam sumpahnya.

Hari-hari berikutnya Mayang tenggelam dalam rutinitas melakukan penyuluhan dan pengobatan hingga ke pedalaman pulau itu. Dengan di bantu Bu Siti aktifitas Mayang semakin lancar. Di suatu kesempatan di pedalaman Mayang kembali bertemu Heeldhy dan mereka pun saling berbincang.Riesa dan Bu Siti di ajak Heeldhy untuk singgah di pondok yang merupakan tempat tinggal yang juga sebagai tempat tinggal Heeldhy. Pondok itu dibuat oleh para rohaniawan yang telah kembali ke kota. Pondok itu terbuat dari kayu hutan yang disusun rapi, atapnya terbuat dari rumbia yang cukup bagus menahan air dan hawa panas. Apalagi dilantainya juga terbuat dari papan yang cukup tertata rapi dan bersih. Jadi kesan didalam pondok itu amat sejuk dan nyaman.

Meskipun berada di pedalaman, namun segala peralatan keperluan Heeldhy terlihat lengkap.Ada kompor,meja kerja, juga tempat tidur dari kayu yang diselubungi dengan kelambu pelindung dari nyamuk yang tertata dalam kamarnya. Ruang ventilasinyapun cukup sehingga udara yang masuk dan keluar cukup sempurna. Namun karena memang berada di pedalaman yang belum tersentuh aliran listrik sehingga masih menggunakan lampu petromaks. Ia hanya menggunakan peralatan elektronik berupa sebuah accu yang cukup mampu menghidupkan televisi kecil dan mencharger battrai hp nya. Mayang dan Bu Siti pun singgah dan mencicipi sedikit penganan yang di berikan Heeldhy.

Tak lama memang mereka pun minta diri,sebab saat itu sudah agak sore,dan menghindari sampai di tempat mereka malam hari. Dengan ramah Heeldhy pun mengantar mereka ke perahu yang sudah siap berangkat. Heeldhy melepas Mayang berangkat dengan perahu itu dengan lambaian tangan, tidak lupa ia memberi nasehat pada pengemudinya agar berhati hati dalam mengemudi. Pak Nelayan itu mengiyakan nasehat Heeldhy itu. Perlahan kemudian perahu bergerak menjauh dari daerah itu. Tak lama memang dan tak sampai malam Mayang dan Bu Siti sampai lalu mereka berpisah untuk pulang kerumah masing masing karena baik Mayang maupun Bu Siti sudah merasa capai setelah melakukan perawatan dan pengobatan di pedalaman tadi siangnya. Malam itu mereka ingin beristirahat sebaik-baiknya.

Malam itu setelah mandi dan makan malam, Mayang beranjak untuk tidur karena ia terlalu capai siang itu. Tiba tiba handphone nya berbunyi, rupanya Heeldhy yang ingin mengetahui keadaan Mayang. Dengan sedikit basa basi Mayang di tanya keadaan Mayang yang sudah sampai apa belum, tanpa terasa obrolan lewat telpon itu meninggalkan kesan pada Heeldhy, Mayang pun demikian sebab Heeldhy amat terkesan pada Mayang yang seorang wanita cantik, juga tangguh,dan berani mau di tugaskan di pulau yang masih terisolir itu demi tugas mulia memberikan perwatan kesehatan pada masyarakat. Bagi Mayang juga begitu,ia terkesan pada Heeldhy yang berasal dari wilbapak timur Indonesia itu,masih mau di tempatkan di pulau yang jauh dari daerah asalnya.

Obrolan mereka pun di sambung dengan smsan, tanpa sadar Heeldhy sempat menanyakan tentang hal pribadi Mayang, ya masalah pacar atau orangtuanya.Mayang pun dengan gamblang menceritakan tentang pacarnya yang sudah bekerja dan akan segera menyuntingnya itu. Juga orangtuanya yang amat merestui hubungan mereka saat ini. Dengan penuh perhatian Heeldhy membaca pesan singkat dari Mayang dengan sedikit rasa cemburu, namun ia pendam dalam hatinya. Heeldhy pun berharap agar Mayang bisa mendapatkan yang ia rencanakan itu secepatnya tanpa rasa menggurui sedikitpun.Mayang pun merasa Heeldhy enak dijadiakan teman untuk saling berbagi selama di pulau itu sebab mungkin mereka serasa sama sama pendatang di pulau itu.

Tanpa terasa Mayang telah menghabiskan bulan pertamanya di pulau itu, iapun mendapatkan waktu pulang ke Padang. Ia amat rindu dengan keluarganya dan tentu saja pacarnya Hari Agung. Mayang berangkat Jumat sore itu dengan menumpang kapal yang hanya melayari ke pulau itu hanya dua kali seminggu. Sabtu pagi, setelah melakukan perjalanan yang melelahkan Mayang pun sampai di pelabuhan Muaro Padang. Di sana ia telah dijemput pacarnya Hari Agung. Sambil memeluk Mayang, Hari Agung pun meraih barang bawaan Mayang yang kemudian dimasukan ke dalam mobilnya. Tak lama kemudian mereka berdua telah sampai dirumah Mayang dan disambut bapak ibunya.di rumah besar dan mewah itu, mereka akhirnya mengadakan makan bersama sebab terlihat Mayang amat lapar. Keluarga itu banyak bertanya tentang pengalaman Mayang selama sebulan itu di pulau.

Dengan penuh semangat Mayang pun menceritakan tentang tugas-tugasnya dan keramah tamahan penduduk di sana. Mayang juga bilang pada ibunya agar mau ikut bersama dengannya ke sana meski hanya seminggu. Ibunya pun menyanggupi tapi bukan untuk saat itu karena ada tugas yang harus dilakukan ibunya yang juga seorang pegawai Pemda itu. Selama di Padang Mayang sibuk mencari alat yang amat di perlukannya yang tidak tersedia di puskesmas pulau itu. Dengan dibantu sang kekasih,mereka sibuk kesana kemari mencarinya. Alat alat itu dapat mereka temukan dan mereka beli. Selama di Padang Mayang terlihat juga memanfaatkan saat berduaan dengan kekasihnya untuk saling melepas rindu ya dengan peluk pelukan dan terkadang berciuman.Mereka masih menjaga hal hal yang terlarang mereka lakukan. Hingga tibalah harinya Mayang harus kembali ke pulau untuk bertugas. Dengan izin dari orang tua Mayang, Hari Agung ikut serta mengantar kekasihnya ke pulau itu. Orang tua Mayang amat percaya pada Hari Agung karena tak lama lagi Hari Agung juga akan menjadi suami anaknya itu apalagi pembicaraan antara orang tua mereka sudah terjadi dan hanya tinggal menentukan hari dan saat yang tepat setelah Mayang selesai PTT.

Selama perjalanan pasangan sejoli ini tak lepas lepasnya memandang keindahan pantai Padang yang segera mereka tinggalkan.Kekasih Mayang cukup salut akan tekad Mayang yang sangat bulat bertugas di pulau itu. Hari Agung pun merasa memang berat perjalanan selama naik kapal motor itu,apalagi goyangan ombak pada kapal cukup mengkhawatirkan. Paginya mereka sampai di pulau dan dengan naik ojek merekapun sampai di rumah Mayang.

Pagi itu Mayang langsung masuk kerja karena pasien yang menunggu sudah antri. Tak lama memang ia membersihkan tubuhnya ia beranjak ke puskesmas yang hanya beberapa meter dari rumahnya. Sedang Hari Agung ia tingal di rumah dan diminta untuk beristirahat dari rasa penat selama perjalanan semalam. Selama Mayang bekerja, tak lupa Hari Agung juga menyiapkan makan siang. Ia ingin memberikan surprise pada kekasihnya itu.setelah membereskan rumah dan masak seadanya, Hari Agungpun beristirahat diatas sofa yang berada di ruang tengah rumah itu. Makan siang telah ia siapakan di meja makan dan tertutup tudung.

Siang itu setelah semua pasien selesai ia tangani,Mayang pulang kerumahnya dan menemukan Hari Agung yang terlelap di sofa. Mayang tak sampai hati membangunkan Hari Agung sebab ia tahu Hari Agung amat lelah dan ia sempat melihat di meja makan, ada makanan yang telah dimasak oleh kekasihnya itu.Mayang pun masuk kekamarnya dan melepas pakaian dokternya.Ia lalu keluar kamar dan mencoba bersandar di sofa dekat kekasihnya yang tertidur itu. Tak lama memang ia pun terlelap, mungkin karena ia amat lelah juga dan belum sempat istirahat.

Beberapa saat kemudian ia merasakan ada yang menepuk nepuk bahunya.Mayang terbangun dan melihat Hari Agung kekasihnya membangunkannya. Dengan masih menahan kantuk Mayang pun membuka matanya.Hari Agungpun mengajak Mayang untuk makan sebab ia sudah masak. Dengan langkah yang sedikit bermalas malasan Mayang pun bangun dari duduknya. Ia mengikuti jalan Hari Agung kearah meja makan. Kemudian dengan lahapnya mereka berdua makan. Mayang memuji masakan Hari Agung yang terasa lezat dan mampu membuatnya kenyang itu.

“Enak..juga masakan kamu Rev” puji Mayang pada kekasihnya

“Yaaa,,,dong,,sapa dulu Hari Agungo…” jawab kekasihnya yang membanggakan diri itu.

Setelah makan siang dan beres beres barang bawaannya,Mayang mengajak kekasihnya itu untuk keluar rumah dan melihat keindahan pantai Pulau Sipora itu. Hari Agung amat terkesima melihat keindahan pantai itu. Wow..gak kalah dengan pantai Bali,,guman Hari Agung.Hanya saja belum dipromosikan gumannya lagi.Saat itu ia hanya sempat melihat beberapa org yang sedang naik perahu dan ada yang berselancar.

Setelah dari pantai Mayang mengajak Hari Agung ke rumah pak Sitifadli dan Bu Sitifadli. Dengan berjalan kaki mereka menuju rumah suami-istri itu. Selama perjalanan tampak warga yang kenal dengan Mayang menyapanya dan terlihat heran melihat Mayang berjalan dengan kekasihnya itu, ada juga yang berbisik bisik entah apa yang dibisiki warga itu. Namun Mayang hanya senyum saja menanggapi keheranan warga pulau itu. Tak lama kemudian mereka sampai dirumah Pak dan Bu Sitifadli. Kebetulan saat itu terlihat Pak Sitifadli sedang duduk santai didepan rumahnya. Dengan basa basi seadanya Mayang di persilahkan masuk oleh Pak Sitifadli sambil memanggil istrinya. Tak lama memang Bu Siti yang saat itu sedang memasak pun keluar dari ruang dapurnya. Mayang dan Hari Agung dipersilahkan duduk. Mayang pun mengenalkan Hari Agung kepada Pak Siti yang juga merupakan sesepuh warga disitu. Pak dan Bu Siti pun dengan gamblang menceritakan ttg banyak hal yang amat terbantu dengan kedatangan Dokter Mayang di pulau itu.

Selama beramah tamah itu tak lupa mereka disuguhi minum dan buah-buahan hasil ladang mereka. Merasa telah cukup waktu untuk mengenalkan kekasihnya pada Pak Sitifadli saat itu, Mayang pun minta diri. Sempat juga Bu Siti menawari Hari Agung untuk tidur di rumahnya sebab di rumah Mayang hanya ada satu kamar. Namun dengan basa basi, Hari Agung pun bilang ia akan tidur di ruang tamu saja. Sambil sedikit bercanda Pak Sitifadli bertanya kapan mereka akan meresmikan hubungan mereka tersebut. Dengan sedikit tertawa Mayang hanya bilang, yah setelah selesai PTT jawabnya singkat. Juga terucap dari mulut Bu Siti,mereka amat serasi.yang satu cantik dan yang prianya ganteng, Mayang diminta hati-hati agar kekasihnya itu di jaga agar jangan sampai direbut orang,guman Bu Siti sambil bercanda.Mayang pun berlalu sambil tersenyum dan berucap terima kasih atas suguhan buah buahan tadi.

Merekapun berjalan kaki pulang ke rumah Mayang sambil bergandengan tangan dengan mesra. Mereka tidak menyadari tak jauh dari mereka ada sepasang mata terlihat sedih. Sepasang mata itu milik Heeldhy yang saat itu akan berkunjung ke tempat Mayang,karena dia sedang tak ada kegiatan. Namun perasaan cemburunya itu ia kubur dalam dihatinya. Ia pun berusaha menemui kedua pasangan sejoli itu. Dengan sapaan lembut dipanggilnya gadis itu. Mayang pun menoleh kearah suara yang memanggil namanya itu. Ia terlihat senang sebab ia kembali bertemu Heeldhy. Sambil mengenalkan Hari Agung yang kekasihnya itu pada Heeldhy.

Secara singkat Mayang menerangkan pada Hari Agung bahwa Heeldhy adalah bekas pasiennya di pulau itu. Dengan sikap yang sportif Heeldhy berusaha menjabat tangan Hari Agung. Namun tampaknya Hari Agung sedikit kurang senang dengan kehadiran Heeldhy saat itu. Dengan sikap dingin Hari Agung menerima uluran tangan Heeldhy. Sedikit basa basi Mayang menanyakan maksud Heeldhy ke daerah itu. Dengan berbohong Heeldhy pun berkata ia ada suatu keperluan pelayanan. Ia merasa tak enak hati jika menerangkan maksud sebenarnya saat itu yang hanya ingin bertemu Mayang. Heeldhy dengan cerdik menyembunyikan isi hatinya tanpa terlihat oleh orang lain.

Sambil menawari Heeldhy singgah ke rumahnya Mayang pun minta diri. Heeldhy pun menolaknya dengan alasan dia sedang tergesa gesa. Namun ia menyadari bahwa saat itu dirinya tidak disukai Hari Agung, kekasih Mayang..Sambil berlalu Heeldhy pun berjalan dengan gontai, namun mental dan sikapnya yang telah ditempa selama dalam pendidikan di seminari membuatnya semakin kuat, apalagi nantinya ia akan menghadapi berbagai macam manusia dan tabiat yang berbeda. Mayang dan Hari Agung kembali melanjutkan perjalanan mereka kerumahnya. Di rumah mereka berdua hanya menghabiskan waktu dengan mengatur letak perabotan dan membersihkan ruangan yang mereka rasa kurang bersih. Setelah merasa capai mengatur rumah dinasnya,malamnya Mayang dan Hari Agung pun makan bersama. Malam itu Hari Agung pun beristirahat saja sebab siangnya sudah berjalan kesana kemari bersama Mayang.Memang saat itu Hari Agung tidur di sofa ruang tengah dan Mayang masih dikamar. Mereka amat menyadari sendiri jika malam itu tidur satu kamar.segalanya bisa saja terjadi,namun dengan sikap kedewasaan dan keimanan,semua itu dapat mereka lalui.

Besok Pagi pagi sekali, Hari Agung sudah bangun dari tidur dan berjalan sendiri ke pantai .Ia amat menyukai suasana pantai yang cukup indah dan masih tertata rapi itu. Tak lama memang Hari Agungpun pulang kerumah dan disambut Mayang dengan tersedianya makan pagi berdua. Pagi itu mereka asik sekali makannya sebab Hari Agung merasa amat lapar sehabis berjalan ke pantai. Sehabis makan dan sesekali bercengkrama, Mayang pun ke puskesmas untuk melaksanakan tugasnya. Hari Agung hanya tinggal sendiri di rumah itu sambil membaca buku. Tak sadar diapun tertidur hingga siangnya. Ia baru terbangun saat Mayang sudah pulang dari Puskesmas. Dengan sangat mesra ia bangunkan kekasihnya dan ajak ke pantai untuk sekedar jalan jalan. Hari Agung esok harinya sudah harus kembali ke Padang karena hanya esok hari kapal jadwal kapal yang akan ke Padang.

Di pantai yang indah itu mereka saling berkejaran dan bercengkrama. Sangat serasi sekali pemandangan sore itu di pantai karena kedua sejoli itu saling berkejaran dan berpelukan. Karena senja menjelang merekapun pulang ke rumahnya untuk mandi dan makan malam. Dirumah dinasnya malam itu, Hari Agung pun membicarakan tentang kelanjutan hubungan mereka.Mayang dengan senang hati mendengar penuturan kekasihnya itu. Namun Hari Agung membicarakan tentang keberatannya jika Mayang terlalu dekat dengan Heeldhy. Hari Agung melihat Heeldhy sebagai sosok yang jelek bukan saja wajahnya namun juga sifatnya, meskipun ia berprofesi sebagi calon rohaniawan.Hari Agung mengemukakan keberatannya sebab Mayang bisa saja terjebak oleh sosok manusia jelek bertopeng jiwa rohaniawan itu.Apalagi baginya Heeldhy bukanlah seorang pria yang baik untuk dijadikan teman oleh Mayang.Mayang pun menerangkan asal mula perkenalannya pada Hari Agung,dan ia juga minta Hari Agung untuk jangan terlalu cemburu,sebab profesinya menuntutnya akrab dengan siapapun,latar belakangnya.Hari Agung pun merasa lega,sebab Mayang amat dewasa dan sudah mengerti perasannya sebagai kekasih.

“Rev” terang Mayang,

“kamu jgn terlalu bersikap seperti kanak kanak, sebab kita berpacaran kan sudah lebih 3 tahun dan tak lama lagi akan menikah”

Hari Agung pun menerima alasan Mayang tersebut dan berjanji akan sering ke pulau itu. Ia yakin akan kesetiaan Mayang yang telah ia pacari selama itu. Apalagi ia berpikir mana mungkin Mayang yang seorang dokter itu akan terpikat oleh Heeldhy yang jelek dan kampungan itu. Ia semakin percaya pada Mayang tunangannya.

Malamnya sehabis makan dan membicarakan hubungan mereka, Mayang terlihat berada di pangkuan Hari Agung. Mereka tak melewatkan kesempatan tersebut untuk saling mencumbu. Ciuman dan remasan tangan Hari Agung hinggap dibagian bagian sentitif Mayang. Perbuatan pria itu pun menyebabkan Mayang untuk pertama kalinya merelakan pakaiannya semerawut dan acak acakkan. Bagaimanapun Mayang ingin memberikan kepastian pada kekasihnya itu kesungguhannya. Hari Agung pun melakukan pilinan dan gigitan kecil di bagian payudara Mayang yang telah terbuka itu.

Malam itu Mayang ingin memberikan suatu keindahan kepada kekasihnya itu, tapi dalam batas batas yang telah ia gariskan. Namun pergumulan tersebut mereka atur sesuai batas dan tak akan merusak kesuciannya. Pakaian atas Mayang terlepas semua, itulah pertama kalinya ia menyuguhkan keindahan payudaranya kepada kekasihnya itu.Hari Agung melakukan pilinan dan tak henti hentinya melakukan jilatan hingga akhirnya mereka berdua merasa kelelahan dan tertidur. Setelah merasa cukup sampai disitu perbuatan mereka, Mayang pun kembali mengenakan pakaian atasnya dan menuju kamarnya untuk tidur. Baginya biarlah tindakan yang serba tanggung tadi hanya dilanjutkan dalam mimpinya saja. Begitu juga Hari Agung, ia menyuruh kekasihnya masuk kamar agar ia bisa tidur nyenyak dan bangun pagi.

Pagi harinya Hari Agung pun berangkat ke Padang dan diantar Mayang.Yang mengantar Hari Agung tidak saja Mayang, namun Pak Sitifadli dan istrinya juga ikut.Selama di pelabuhan mereka tak henti hentinya bergandengan tangan dan disaat Hari Agung akan berangkat tak lupa ia mencium bibir kekasihnya itu. Kapal pun beranjak meninggalkan pelabuhan Tua Pejat menuju Muaro Padang. Mayang lalu kembali bertugas di puskesmas seperti biasanya. Ia kembali tenggelam dalam rutinitas seperti biasanya. Mayang pun sering bersama Bu Siti ke pedalaman kembali. Dan disuatu kesempatan ia bertemu Heeldhy yang baru selesai memberikan pelayanan rohani kepada warga pedalaman tersebut. Mayang dan Bu Siti di tawari singgah ke pondokannya, sekedar beristirahat sebelum pulang ke puskesmas. Selama di pondok Heeldhy, Mayang terlibat pembicaraan serius dengan Heeldhy mengenai rendahnya mutu kesehatan di tempat Heeldhy itu.

Mayang berjanji akan serius menangani warga disana. Selama Mayang di tempat tugasnya, Heeldhy selalu menghubunginya sekedar mengetahui keadaan di tempat Mayang atau sekedar menanyakan kabar Mayang. Mereka pun sering terlibat saling mengirim pesan singkat, mulai dengan tugas tugas Mayang juga tugas tugas Heeldhy.Tak lupa Heeldhy memberikan sugesti pada Mayang agar selalu kuat dalam menjalankan tugasnya sebab Mayang pernah tak mendapat penerimaan yang ramah disuatu tempat didesa tetangga pulau itu. Saat itu kedatangan Mayang dan bu Siti ditolak masyarakat setempat dengan alasan yang kurang jelas.Mendengar keluhan Mayang tersebut, Heeldhy pun berjanji akan membantu mengarahkan warga pulau itu tentang arti kesehatan sebab Heeldhy tahu semua warga pedalaman itu adalah masih dalam lingkup kerjanya. Mayang berterima kasih atas bantuan dan support dari Heeldhy saat itu. Sesuai kesepakatan dengan warga tempat tersebut, Mayang dan Bu Siti juga Heeldhy ikut serta ke daerah yang pernah menolak kehadiran Mayang tersebut. Saat itu sempat terjadi sedikit ketegangan namun dengan sikap yang santun dan kewibawaan Heeldhy, masyarakat setempat akhirnya mau menerima penyuluhan kesehatan yang di berikan Mayang.

Semenjak kejadian itu,hubungan Heeldhy dan Mayang pun semakin dekat.Mereka pun sering terlihat bersama di puskesmas pulau itu.Bagi Mayang tidaklah masalah sebab mereka sama sama menjalankan tugas mulia. Begitu juga mereka sering berjalan jalan ke pantai dan terkadang makan di rumah Bu Siti. Bagi Bu Siti melihat hubungan Heeldhy dan Mayang adalah hubungan kerja biasa dan wajar. Bu Siti pun terlihat amat terbantu dengan kehadiran Heeldhy yang sedikit banyaknya memberinya khotbah tentang ibadahnya.

Diluar jam senggangnya Heeldhy sering datang ke tempat Mayang bertugas.Heeldhy lebih sering singgah di rumah Bu Siti yang juga aktifis gereja. Dan sering Bu Siti mengajak Mayang untuk mendiskusikan masalah pelayanan kesehatan bagi warga di sekitar pulau itu bersama Heeldhy. Sesekali mereka juga berdiskusi di rumah Mayang. Lambat laun Mayang merasakan perhatian dan bantuan Heeldhy terhadap tugas tugasnya selama di pulau itu amat membantunya. Ia hampir tak lagi mengalami hambatan dalam menjalankan tugasnya. Begitu juga Heeldhy semakin bersemangat jika dusunnya di kunjungi oleh Mayang dan Bu Siti untuk melakukan pelayanan kesehatan.setiap minggu Mayang pasti berada di desa termpat Heeldhy bertugas.

Mayang pun hampir akhir bulan selalu pulang ke Padang dan bertemu kelurga dan kekasihnya. Saat itu Mayang telah memasuki bulan kedua di pulau itu. Sore itu ia berangkat ke Padang dan kebetulan juga Heeldhy akan ke Padang untuk melaporkan kegiatannya selama ini. Mereka menumpang dalam satu kapal. Selama perjalanan Mayang selalu terlihat bersama Heeldhy yang dan sering terlibat pembicaraan yang cukup serius. Sesekali karena kantuk Mayang bersandar di bahu bidang Heeldhy. Heeldhy merelakan bahunya di sandari Mayang, meskipun mereka bukan pasangan kekasih saat itu Heeldhy sempat memeluk tubuh Mayang yang terlihat kecapaian selama perjalanan dengan kapal dan goyangan karena hempasan gelombang laut.

Heeldhy dapat melihat raut wajah cantik Mayang dari dekat. Kulit wajahnya yang putih dan di pipinya ditumbuhi rambut rambut halus. Juga tangan Mayang terlihat ada rambut halus yang cukup serasi dengan kulitnya yang putih. Heeldhy tak mau melakukan hal yang nantinya akan menyebabkan hubungannya dengan Mayang memburuk. Sebagai manusia biasa ia meras tergoda, namun ia tak mau mengambil kesempatan dalam kesempitan saat itu. Hingga beberapa lama kemudian Mayang terbangun dan sadar ia telah rebah di bahu Heeldhy. Dengan mengucap maaf Mayang amat menyesal telah tertidur di bahu Heeldhy. Namun Heeldhy menjelaskan bahwa tak apa sebab ia tahu Mayang amat letih.

Tak terasa paginya kapal mereka merapat ke pelabuhan Muaro Padang.Mayang pun bergegas turun bersama Heeldhy. Melihat ada sopir bapaknya yang menjemput Mayang pun berpisah dengan Heeldhy di pelabuhan itu. Sempat Mayang menanyakan kapan Heeldhy kembali ke pulau. Rupanya Heeldhy di Padang hanya beberapa hari dan secepatnya akan kembali. Sedikit basa basi menawarkan Heeldhy singgah di rumahnya, namun dengan mengucap banyak terima kasih Heeldhy pun dengan amat menyesal tak sempat sebab ia amat terburu buru. Mayang pun naik ke mobil dan berlalu dari pelabuhan itu. Selama di padang Mayang pun larut dengan kegiatannya, namun masih sempat meluangkan waktu dengan kekasihnya.

Tanpa Mayang tahu sebabnya Hari Agung, bersikap amat protektif kepadanya. Kemudian yang terjadi malah pertengkaran yang akhirnya mereka berdua saling berdiam diri.Hari Agung terlihat amat ingin mengusai semua masalah Mayang. Padahal dalam hatinya Mayang tidak ada melakukan hal yang berlawanan dengan komitmen mereka. Namun perasaan cemburu Hari Agung yang berlebihan membuatnya tak nyaman. Mayang pun sempat mengadukan masalahnya itu pada ibunya. Dengan sabar ibunya memberikan pengertian pada putrinya itu. Hingga Mayang berangkat kembali ke pulau Hari Agung tak terlihat mengantarnya.Mayang merasa Hari Agung masih marah kepadanya. Selama di atas kapal Mayang berusaha menghubungi Hari Agung,namun teleponnya selalu tak diangkat.Mayang amat sedih dengan sikap Hari Agung itu. Kesedihan itu terbawa sampai ia berada di pulau.

Setiba di pulau Mayang selalu berusaha menghubungi hp Hari Agung kadang telepon rumahnya. Namun tak pernah diangkat Hari Agung. Suatu malam Mayang menelepon ke rumah Hari Agung dan diangkat oleh ibu Hari Agung, akhirnya Hari Agung bersedia menerima telpon Mayang.dalam pembicaraan itu terasa dingin sambutan Hari Agung padanya. Perbuatan Hari Agung itu membuat Mayang sedih dan menganggu tugas tugasnya. Namun karena kesibukan yang ia alami membuatnya bisa sedikit demi sedikit melupakan masalah pribadinya itu, apalagi tugasnya menuntutnya selalu disiplin.

Jangan Lewatkan Cerita Lucah Di Dalam Kantor

Selama bertugas di pulau itu,Mayang sering curhat kepada Bu Sitifadli. Terkadang jika waktu libur dan tak ada kegiatan Mayang terlihat dikunjungi Heeldhy. Sosok Heeldhy yang simpatik dan perhatian itu mampu membuat Mayang melupakan kegundahannya meski Heeldhy tidaklah sepadan dengannya. Bersama Heeldhy ia menyusuri pantai, sekedar menghabiskan waktu libur dan terkadang melakukan perjalanan ke tempat tempat yang indah di pulau itu. Mayang semakin merasakan perhatian Heeldhy kepadanya amat tulus.Kini ia pun menemukan teman bicara dan curhat yang mampu membuat hatinya teduh. Tanpa menghiraukan statusnya yang sudah bertunangan dan terikat dengan sesorang pria, Mayang pun menerima saja genggaman tangan kokoh Heeldhy yang hitam dan jelek itu. Sambil menyusuri pantai Heeldhy memeluk tubuh Mayang. Heeldhy seakan tak mau Mayang terlalu larut akan problemnya. Heeldhy pun meminjamkan jaket yang ia kenakan ke tubuh Mayang agar dipakai Mayang sebab senja itu udara pantai tidak bersahabat. Di keremangan cahaya pantai yang indah itu, dengan tanpa di ucapkan dan diminta Heeldhy memberanikan diri mencium pipi Mayang. Perbuatan Heeldhy itu membuat Mayang gelagapan namun Heeldhy menahan suara Mayang dengan telunjuknya. Ia tak ingin Mayang berkomentar.Mayang meSitiuti isyarat telujuk Heeldhy itu dan tanpa diminta persetujuan Mayang, Heeldhy mendekat kearah bibir Mayang dan mengulumnya beberapa saat.Mayang sedikit terkejut tak menduga Heeldhy akan melakukan itu terhadapnya. Perasaan khawatir Mayang terjadi juga.Wajah yang cukup membuat orang sampai jijik itu berhasil mengulum bibirnya.

Dengan perasaan bercampur baur,Heeldhy dan Mayang berjalan pulang dari pantai itu tanpa ada kata yang terucap.Malam itu Heeldhy mengantar Mayang sampai di pintu rumahnya dan ia pun minta diri.Sepeninggal Heeldhy,Mayang termangu dikamarnya.Terbayang di benaknya kejadian barusan bersama Heeldhy.Ia merenung,apa karena kesepiannya jauh dari Hari Agung atau ia sudah mulai suka pada sosok Heeldhy yang melindunggi dan amat dewasa itu.Padahal jauh diakal sehatnya Mayang tak menginginkan Heeldhy terlalu dekat dengannya karena bermacam perbedaan diantara mereka dan juga ia akan di cemooh karena suka pada sosok yang jelek itu.Menjelang tidur Mayang tak menemukan jawabannya.Hingga paginya Mayang terlihat di puskesmas,terlihat ia amat gembira dan tak sedih lagi.Sesekali ia menerima pesan singkat dari seseorang dan di balasnya.Rupanya sms itu dari Heeldhy.Mayangpun tidak melupakan Hari Agung tunangannya yang masih ia cintai dan kelak akan jadi suaminya.Ia masih berusaha menghubungi Hari Agung.

Tampak Mayang terlibat pembicaraan di telpon dan tak lama ia tutup.Bagaimanapun Mayang selalu berusaha menghubungi kekasihnya itu,jauh di lubuk hatinya kini berperang antara perasaan kepada kekasihnya atau Heeldhy. Selepas tugasnya di puskesmas,Mayang pun pulang kerumahnya.Dan tak lama kemudian ia pun keluar rumahnya menuju rumah Bu Sitifadli. Di rumah Bu Sitifadli telah menunggu Heeldhy.Sore itu Mayang akan melihat lihat kegiatan warga yang berada di tempat Heeldhy melaksanakan pratek kerohaniannya. Bu Sitifadli juga ia undang,namun karena berbagai sebab, maka Bu Siti tak bisa ikut. Apalagi pak Sitifadli sedang berada di Sibolga. Akhirnya siang itu Mayang berangkat besama Heeldhy ke pedalaman dengan menumpang perahu yang telah disediakan Heeldhy. Selama perjalanan menempuh rawa dan hutan bakau tampak Mayang amat senang sekali berada di alam yang cukup asli itu. 1 jam perjalanan akhirnya mereka sampai.

Di dusun itu tampak ramai ibu ibu dan anak anak yang sedang melakukan acara dengan gembira. Mereka merayakan hasil ladang dan tangkapan ikannya yang melimpah dengan atraksi tari tarian dan diakhiri dengan acara makan bersama. Tampak saat itu, mereka merayakannya dengan makan makan dan minum, juga disuguhi babi panggang. Mayang pun bilang ke Heeldhy, bahwa ia tak boleh makan makanan itu. Dengan bijaksana Heeldhy memberikan Mayang ikan bakar. Heeldhy tahu bagi Mayang babi adalah hewan yang tak boleh dimakan. Selesai acara sudah malam,karena suka citanya warga desa itu merayakannya. Mayang tak mungkin pulang ke tempat nya tugas, apalagi malam itu,juga masih terbilang bulan purnama dan diselimuti awan kelam seolah akn turun hujan, jadi malam itu pasang air laut akan naik dan tak mungkin diantar dengan perahu.Mayang berusaha menghubungi rumah Bu Siti,ia mengabarkan bahwa tak bisa pulang karena acara usai malam.Bu Siti pun bilang ya tak apa,sebab besok juga kebetulan tanggal merah,jadi tak ada kegiatan.

Malam Itu Mayang terpaksa menginap di pondok kediaman Heeldhy. Heeldhy terlihat sibuk membersihkan pondoknya itu. Ia tak ingin Mayang merasakan tak nyaman di pondoknya.

“Nah Mayang,,,kamu tidur dikamarku ini aja,aku biar diluaran saja.” kata Heeldhy.

“Duh, jadi merepotkan lo Bang” jawab Mayang.

“Ahh,,,tak apa apa koq.Aku biar tidur di ruang depan saja”

Suasana pondok kayu itu,terlihat alami sekali.Apalagi tak ada listrik yang menerangi,saat itu hanya ada lampu teplok didinding kayu ruang depan dan dikamar. Syukurlah tak ada nyamuk karena bersihnya ruangan kamar Heeldhy. Malam itu terdengar suara jangkrik dan binatang malam yang saling bersahutan. Heeldhy pun menawari Mayang minum the hangat dulu, agar tak terlalu merasa dingin, apalagi cuaca malam di pedalaman itu terasa amat dingin menusuk tulang. Mayang pun duduk di ruang depan dalam pondok bersama Heeldhy. Ini kedua kalinya ia merasakan suasana malam yang cukup asik, pertama saat ia KKN dulu, namun dulu masih ada penerang listrik dan tidak terisolir. Sekarang ia berada di sebuah pulau dan di pedalaman.

Sambil berbincang mereka juga membicarakan mengenai keluarga masing masing. Dari pembicaraan itu,Mayang tahu bahwa Heeldhy yang berasal dari daerah timur itu sudah tak mengenal kedua orang tuanya. Namun dia diasuh oleh keluarga gereja dan disekolahkan oleh pihak gereja. Terlihat raut wajah Heeldhy yang bersedih saat mengungkap jati dirinya. Dengan sikap dewasa Mayang pun memberi semangat agar Heeldhy bisa berbangga sebab masih bisa mengenyam pendidikan sampai ia tamat dan membandingkannya dengan pemuda lain yang sampai sekarang tak tau juntrungannya. Dari keterangan Heeldhy Mayang juga tahu bahwa suasana pedalaman itu juga tak berbeda jauh dari saerah asal Heeldhy sehingga Heeldhy tak merasa terasing. Hingga malam pun menjelang dan perbincangan mereka sudah mulai melantur kemana mana.

Heeldhy lalu memberikan sebuah sweater pada Mayang karena ia lihat Mayang amat kedinginan. Saat berangkat tadi siang Mayang tak tahu bahwa ia akan menginap di tempat itu, makanya ia tak sempat bawa pakaian salin. Dengan dibantu Heeldhy, Mayang mengenakan sweater itu. Sedikit membantu, sweater itu bisa membuatnya tak kedinginan lagi. Sambil menyilangkan kedua tangannya didada Mayang masih melayani obrolan Heeldhy yang kini duduk disampingnya. Perbincangan mereka kini sudah sampai pada perbincangan mengenai laki laki dan wanita. Dalam keremangan itu Heeldhy melingkarkan tangannya ke bahu Mayang. Ia tak sampai hati melihat Mayang kedinginan saat itu.Mayang membiarkan saja sikap Heeldhy itu.Malah Mayang pun merebahkan kepalanya di dada bidang Heeldhy.

Sambil rebahan didada Heeldhy, Mayang seakan menemukan kehangatan yang lama sudah tidak ia dapatkan dari tunangannya. Dengan sikap hati hati Heeldhy pun berusaha membelai rambut Mayang yang sebahu itu.Heeldhy tak ingin Mayang merasakan resah didalam dekapannya.Seperti sepasang kekasih,tanpa sadar Mayang pun mengungkapkan ganjalan hatinya tentang hubungannya yang semakin memburuk dengan kekasihnya. Padahal ia dan Hari Agung kekasihnya sudah sepakat akan menikah. Heeldhy pun mendengar penuturan Mayang dengan perhatian dan bertindak sebagai pendengar yang baik. Tanpa melepaskan pelukannya dari tubuh Heeldhy Mayang pun semakin merapatkan tubuhnya. Ia merasa damai mendapat kehangatan dari Heeldhy apalagi Heeldhy juga membelai anak anak rambut di tengkuknya membuat Mayang sedikit merasa geli dan terangsang. Perlahan Heeldhy melepaskan ikatan di rambut Mayang sehingga rambut hitam sebahu dan harum itu kini telah lepas. Mayang semakin cantik saat rambutnya tergerai. Kini kedua anak manusia tersebut saling ngobrol dengan sangat intim dan tak lagi memandang perbedaan diantara mereka.

Masih dalam pelukannya, Heeldhy pun kini berusaha meraih wajah Mayang yang saat itu amat pasrah kepadanya. Tak sulit bagi Heeldhy lalu dikulumnya bibir yang mungil namun ranum itu. Kini kedua bibir anak manusia itu saling mengulum. Mayang merasakan ia tak sanggup menolak aliran birahi yang mulai menyerangnya saat itu. Ia ingin sejenak mengubur masalahnya. Ciuman yang dihantarkan Heeldhy di bibir Mayang seolah mampu membuat Mayang terbang. Ini kedua kalinya bibir tipisnya dikulum Heeldhy. Namun saat kinilah Mayang dapat dengan penuh menerimanya. Tak membutuhkan waktu lama memang Mayang akhirnya malah menyambut dan bals mengulum lidah yang di mainkan Heeldhy. Ia seolah menemukan oase yang lama tidak ia dapatkan. Cukup lama jilatan dan kuluman itu terjadi hingga tanpa mereka sadari mampu menggiring nafsu keduanya untuk meningkat kearah selanjutnya. Dalam pelukan dan saling mengulum itu,tangan Heeldhy dengan lincah berusaha memasuki sweater dan busana Mayang.

Tangannya menemukan segumpal daging lembut didada Mayang dan membelainya. Hawa hangat tangan Heeldhy membuat Mayang larut dalam alunan birahi. Disaat saat itu, Heeldhy berusaha melepaskan sweater yang tadi ia kenakan ke Mayang. Malam itu Mayang tak menolak sedikitpun perbuatan Heeldhy yang berusaha melepas busananya. Kini busana atas Mayang telah terlepas dari tubuh putih indahnya dan di letakkan disamping sofa itu. Mayang benar benar berada dalam alunan birahinya sendiri. Kini tubuh indahnya hanya tertutup bh dan masih mengenakan celana panjang. Keindahan payudaranya nya yang putih mulus membuat Heeldhy semakin meningkatkan serangannya. Heeldhy menjilat jilat dinding payudara Mayang yang kini hanya terkulai di bahu Heeldhy.Mayang hanya memejamkan matanya menikmati belaian lidah Heeldhy. Tubuh Mayang masih memancarkan bau khas wewangian mahal yang selalu ia pakai.Wanginya selalu melekat ditubuh Mayang meski ia mandi dan bau wangian Mayang itu mampu membuat Heeldhy terpacu kegairahan.

Kini Heeldhy telah merasa Mayang telah pasrah kepadanya. Heeldhy melihat Mayang juga menikmati apa yang ia lakukan saat itu. Heeldhy pun menghentikan perbuatannya. Ia lalu menutup bagian atas tubuh Mayang dengan busana yang tadi ia buka. Mayang masih memejamkan matanya dan dengan pandangan yang redup ia diam saja. Heeldhy lalu menjauh dari Mayang dan memeriksa pintu pondoknya lalu mematikan lampu teplok yang menerangi ruangan itu. Baru saja ia matikan lampu itu,tiba tiba terdengar suara petir dan tak lama suara hujan dengan derasnya. Mayang sempat bangun dari kursi sofa tempatnya berada. Dengan gugup ia bertanya pada Heeldhy apa jika hujan disana tidak akan banjir. Heeldhy pun menerangkan pada Mayang,bahwa pulau itu jarang terjadi banjir apalagi pondok mereka berada di tempat yang tinggi.

Heeldhy lalu meraih tangan Mayang untuk berdiri. Mayang pun meraih tangan Heeldhy dan mengikuti Heeldhy kedalam kamar. Heeldhy pun menyilahkan Mayang untuk berbaring di dipan kayu yang tertutup kelambu itu.Heeldhy pun menutup pintu kamar dari dalam.Mayang hanya diam duduk di pinggiran dipan yang beralaskan kain sprey putih bersih itu. Heeldhy pun mendekati Mayang, ia mengangkat dagu Mayang dan kembali mengulumnya. Heeldhy lalu duduk disamping Mayang. Mayang kembali merasakan ada sedikit penolakan dalam dirinya yang saat itu hanya berdua seorang laki laki dikamar malam itu. Dilubuk hatinya ada penolakan terhadap perbuatan mereka diluar tadi. Namun semua pikiran dan akal sehat Mayang seperti digiring untuk melanjutkan yang tertunda di ruang depan tadi, apalagi suasana kamar dan suara guyuran hujan yang deras menyebabkan Mayang bersikap diam.

Kembali Heeldhy melingkarkan tangannya di bahu Mayang.Tanpa kata kata yang terucap Heeldhy kembali menciumi anak anak rambut Mayang di tengkuknya. Mayang merasa geli dan semakin pasrah. Ciuman Heeldhy yang bertubi tubi pada leher dan bibirnya membuat Mayang pun terpacu untuk mengimbangginya. Mayang lantas berusaha menolakkan tangan Heeldhy yang kembali berusaha melepas busana atasnya. Heeldhy pun tak melanjutkannya, ia tak ingin Mayang merasa terpaksa. Ia kini hanya melakukan kiss di bibir dan leher Mayang sebab Mayang masih mengizinkannya melakukan itu. Heeldhy bukanlah seorang laki laki kemaren sore apalagi ia juga pernah melakukan itu saat di Semarang dulu,ia tak akan berhenti melakukan apa yang ia inginkan. Mayang kini semakin berada diluar ambang batas kesadarannya. Heeldhy berhasil melepas busana atasnya yang telah jatuh meninggalkan tubuh pemiliknya.

Mayang hanya diam pasrah dan meSitiut. Heeldhy pun tak ingin semua berjalan lambat, ia dengan cekatan melepas bh berukuran 34b yang masih melekat didada Mayang. Tak sulit baginya memang. Dengan sedikit melepas pengait yang berada di punggung Mayang, Heeldhy dapat melihat keindahan kedua bukit salju yang selama ini belum pernah terlihat olehnya. Mayang menyilangkan kedua tangannya menutup buah dadanya. Bagaimanapun ia merasa malu dalam keadaan seperti itu, apalagi dengan laki laki yang bukan kekasihnya. Semua bulu bulu rona di kulit putih Mayang seolah berdiri merasakan gelajahan tangan Heeldhy yang mulai membelai dengan lembut daging kenyal itu. Heeldhy menggiring tubuh Mayang masuk kedalam dipan yang diselimuti kelambu itu. Terlihat Mayang hanya mengikuti kemauan Heeldhy yang sudah amat bernafsu melihat semua keindahan di raga Mayang juga selama ini hanya ia nikmati dari angan angannya saja.

Didalam dipan kayu itu, Heeldhy membaringkan tubuh Mayang. Bibirnya melata diatas permukaan kulit dada Mayang. Ia tampak berlama lama bermain dibukit dada Mayang yang terlihat mulai mengeras itu. Heeldhy beberapa kali mengigit dada Mayang sehingga menimbulkan jejak jejak cupangan di wilbapak dada dokter muda yang cantik itu. Mayang hanya mampu memicingkan matanya, rabaan dan pilinan juga cupangan Heeldhy membuatnya terbang diawang awang. Ini adalah pengalaman pertamanya melakukan itu dengan laki laki lain.

Dulu disaat bersama Hari Agung kekasihnya Mayang hanya melakukannya dengan sikap was was takut kebablasan.Namun kini ia melakukannya tanpa ada di pikirannya tentang akibat dari perbuatannya itu, Mayang pun semakin pasrah dan patuh. Ditubuh bagian atas Mayang terlihat mulai lembab karena air lidah Jona dan keringatnya yang mulai tampak. Ia merasa tubuhnya panas dan mengalahkan suasana dingin malam di pedalaman itu. Heeldhy berhenti sesaat lalu melepas baju atasnya hingga celana panjang dan celana dalamnya. Kini didalam dipan yang diselimuti kelambu itu kedua tubuh anak manusia itu terlihat mulai bugil. Mayang bergidik melihat tubuh kokoh Heeldhy yang hitam. Apalagi dikeremangan cahaya lampu ia melihat kemaluan Heeldhy yang mulai menampakkan sosok aslinya. Benda tumpul itu terlihat cukup panjang dan tak dikhitan. Mayang juga melihat di dada Heeldhy yang bidang tumbuh bulu bulu yang cukup lebat. Tanpa merasa malu Heeldhy kini semakin mendekat ke tubuh Mayang yang bertelanjang dada.

Saat Heeldhy mendekatinya,Mayang berusaha untuk tidak melanjutkan perbuatan mereka itu, dalam hatinya masih berkecamuk berbagai pikiran, seperti kariernya, masa depan pertunangannya, juga status perbedaan keyakinan diantara mereka berdua. Heeldhy pun merasakan sikap Mayang saat itu yang mulai sadar. Dengan menutup dadanya dengan kedua tangannya Mayang minta agar Heeldhy menghentikan perbuatan mereka itu. Padahal Mayang sudah berada sangat dekat dengannya jika tidak ada halangan maka ia akan berhasil mendapatkan Mayang malam itu. Dengan sikap penuh perlindungan dan lembut Heeldhy pun meSitiuti permohonan Mayang. Heeldhy menutup tubuh telanjangnya dengan selimut dan berbaring disamping Mayang. Disaat Mayang ingin kembali mengenakan bh dan busananya, Heeldhy menahan tangan Mayang dan mengulum bibir tipis yang merah itu. Mayang tak mampu menghalangi tindakan pria itu.

Kemudian Heeldhy kembali menikmati bibir Mayang dan memilin buah dadanya berulang ulang. Mayang sudah merasakan percikan birahinya kembali. Ia kini mengikuti saja dan malah menahan agar kepala Heeldhy tak menjauh dari belahan dadanya. Heeldhy terus mengekpos wilbapak sensitif itu. Namun tangannya mulai beraksi.Tangannya berusaha melepas resleting celana panjang yang dikenakan Mayang. Setelah terlepas jarinya langsung masuk ke dalam celana dalam Mayang. Merasakan di selangkangannya ada tangan Heeldhy, Mayang berusaha menariknya, namun tak berhasil, apalagi nafsu birahinya sudah memuncak. Ia tak mampu menghentikan gerakan Heeldhy itu.

Merasakan Mayang sudah pasrah bulat bulat padanya, Heeldhy lalu menarik celana panjang yang dikenakan Mayang hingga terlepas. Mayang tak mampu menahannya. Tangan Heeldhy seolah tahu apa yang ia inginkan, pun melepas celana dalam putih Mayang yang sudah tampak basah disekitar belahannya itu. Heeldhy melampar Cd Mayang.Tubuh dokter muda itu kini sudah polos tanpa sehelai benangpun. Mayang kini tak bisa berbuat apa apa lagi atas perbuatan pemuda dari timur itu. Apalagi ia juga merasakan kini tubuhnya tak lagi bisa ia kontrol. Tubuhnya seolah telah menjadi milik pemuda hitam tersebut. Heeldhy merasakan Mayang sudah tak lagi mampu menolak perbuatannya. Ia turun dan membuka kedua paha Mayang.

Heeldhy berada diantar kedua kaki jenjang dan muluh itu. Heeldhy pun lantas berlutut. Ia menuju gerbang yang selama ini amat ia impikan dan inginkan. Gerbang itu masih perawan dan belum pernah dijamah oleh tangan laki laki sekalipun oleh Hari Agung, tunangannya. Tampak gerbang perawan itu ditumbuhi sedikit buku bulu halus yang tertata rapi menandakan pemiliknya adalah orang yang amat telaten merawat dan menjaga area kewanitaannya. Liangnya mulai menampakkan kebasahan karena libido pemiliknya yang mulai bangkit. Heeldhy langsung menjejalkan lidahnya yang kesat kearah liang sempit yang masih perawan itu. Mayang terkejut dan berusaha merapatkan kedua pahanya yang mulus. Namun apalah artinya saat itu. Melarang atau mencegah Heeldhy sama saja memancing birahinya semakin kuat. Mayang merasakan benda kesat itu mulai memasuki palung kemaluannya. Ia semakin meras kegelian dan gatal yang amat sangat di organ intimnya itu. Mayang tak mampu berkata kata. Semua itu adalah pengalaman pertamanya. Selama bersama kekasihnya saja ia hanya baru sampai pada buka baju atasan saja, tidak sampai seperti yang ia alami sekarang ini.

Gerakan lidah Heeldhy semakin kedalam dan tak sampai kepada merusak kegadisan Mayang. Mayang pun semakin terpancing dan meraih kepala Heeldhy. Rambut Heeldhy yang ikal itu tak luput dari tarikan tangan Mayang. Mayang semakin sampai dipuncak kegairahannya. Sebagai seorang gadis perawan yang belum pernah merasakan kenikmatan hubungan layaknya suami istri, Mayang pun akhirnya mencapai orgasme untuk yang pertama kalinya seumur hidupnya. Selama ini ia hanya tahu orgasme itu dari buku buku kesehatan dan penelitian yang ia baca selama di bangku kuliah dulu, juga dari rublik konsultasi di tabloid tabloid.

Kini ia merasakan orgasme yang sesungguhnya. Sekujur tubuhnya serasa lepas dari tulangnya. Ia tak mampu berpijak pada apa yang selama ini ia alami. Kini Mayang terbaring sambil telentang. Ia kehilangan kekuatan untuk menyadari sesungguhnya yang terjadi. Sekujur tubuhnya telah basah oleh keringatnya juga lendir ludah Heeldhy disekujur kulitnya yang putih halus itu. Mayang terbaring lemah, meresapi detik detik kenikmatan yang baru saja melandanya. Ketika Mayang mendapatkan orgasme tadi secara tak sadar Mayang mengeluarkan cairan dari celah kelaminya.Heeldhy tanpa jijik sedikitpun menghisap dan menelan cairan kenikmatan Mayang itu. Kini tampak hanya nafas teratur dari Mayang yang turun naik teratur.

Tanpa membuang waktu berlama lama, Heeldhy pun kembali membelai belai dada Mayang. Ia merasa jeda waktu yang diberikannya pada Mayang sudah cukup dan siap untuk melakukan tahap selanjutnya. Heeldhy kini berada disamping Mayang dan mengulum bibir Mayang yang tipis itu. Mayang pun menyambut kuluman itu dengan menutupkan matanya. Sedang tangan Heeldhy kembali membelai belai buah dada Mayang dengan lembut. Pilinan dan remasan pada putingnya membuat Mayang kembali terbakar birahinya. Tubuhnya kembali basah oleh keringatnya sendiri.Mayang sempat memohon pada Heeldhy untuk jangan berusaha menggaulinya.Meski saat itu mereka telah bugil dan melakukan yang barusan terjadi.Mayang merasa takut jika nantinya ia tak mampu mempersembahkan keperawanannya pada suaminya nanti. Heeldhy diam tak menjawab permohonan Mayang. Ia masih terus mengekspos daerah sensitif di tubuh Mayang.

Mayang semakin lupa akan permintaannya akibat gelombang birahi yang menyerangnya menuntut penuntasan. Heeldhy kini kembali berada diantara kedua kaki Mayang yang terbuka mengangkang. Bulu bulu didadanya membuat rasa geli di perut Mayang. Heeldhy kembali membuka lipatan kelamin Mayang dan menjilatnya dengan lidah. Mayang semakin terjebak oleh pusaran gairah birahi. Tak lama kemudian Heeldhy memposisikan dirinya sejajar dengan tubuh Mayang yang terbaring. Ia akan melakukan melakukan penetrasi diliang kemaluan Mayang.Tampak Mayang sudah pasrah kepadanya. Perlahan batang kemaluan Heeldhy telah menampakkan wujud aslinya dengan sangat perkasa. Benda hitam tumpul dan tidak disunat itu tampak bersiap memasuki liang perawan milik Mayang. Heeldhy dengan tangannya berusaha menempelkan batang kemaluannya keliang Mayang yang masih sempit dan sudah berlendir itu.Heeldhy tahu,liang kemaluan Mayang telah siap untuk dimasukinya.

Heeldhy berusaha membuat rasa geli dan gatal didalam lepitan kemaluan Mayang sehingga Mayang semakin membuka kedua paha putihnya yang mulus dan sudah basah oleh keringat itu. Mayang tak sanggup memandang Heeldhy yang kini berada diatas tubuhnya.Mayang merasakan seluruh permukaan kulitnya seakan merinding menantikan pertemuan kedua kelamin mereka. Ia merasakan bulu bulu halus ditangannya yang putih dan diseluruh tubuhnya seolah berdiri. Seumur hidupnya ia belum pernah merasakan rasa seperti saat ini.

Heeldhy lalu meraih kedua tangan Mayang dan mengenggamnya dengan jarinya. Kedua tangan Mayang dibukannya kesamping kiri dan kanan dan kedua lutut hitam dan penuh bulu milik Heeldhy berusaha menahan paha Mayang agar tak merapat. Tampak sekali perbedaan warna kulit kedua sosok anak manusia yang sedang melakukan perkawinan itu. Heeldhy mengarahkan kemaluannya keliang Mayang secara hati hati. Namun ia tak berhasil juga memasuki celah sempit itu. Heeldhy semakin tak sabar ingin segera merasakan celah perawan milik Mayang itu. Namun usahanya tampak belum menampakkan keberhasilan. Dari pengalamnnya selama ini,tidaklah susah menembus selaput keperawanan gadis gadis,namun disaat ia akan merobek keperawanan dokter muda yang cantik itu,ia seakan menemui liang buntu.

Sebagai laki laki yang memang beberapa kali merasakan hubungan badan dengan gadis gadis perawan selama di Semarang dulu, Heeldhy seakan harus bersabar lagi. Kini semua tergantung pada kesabaran Heeldhy sebab Mayang tampaknya sudah pasrah menyerahkan keperawanannya padanya.Mayang sudah tak mampu lagi mempertahankan keperawannya saat itu karena gelombang birahi yang menyerangnya. Bukan Heeldhy namanya jika ia tak mampu membuat Mayang menyerah kepadanya. Dan ia pun semakin berusaha mendapatkan apa yang ia capai saat itu. Dengan penuh sabar dan mengumpulkan tenaga, Heeldhy pun dapat meretas jalan bagi kemaluannya dicelah sepit itu. Seakan membuat jalan baru, Heeldhy melakukannya penuh hati hati. Kini kepala kemaluannya mulai masuk di celah itu. Mayang mulai merasakan ngilu dan terpekik

“Aduhhhh,,,,,ssaakiitt….banggg!” jerit Mayang.Mayang berusaha mendorong tubuh dan dada Heeldhy yang berbulu itu.

Namun karena tenaganya semakin lemah,Mayang tak mampu melepaskan diri dari himpitan Heeldhy saat itu.Kedua paha Mayang pun sekan tak berdaya menolak kuncian dari lutut Heeldhy yang cukup kuat itu, apalagi kedua tangannya seolah dipegang dengan erat oleh kedua tangan Heeldhy. Kini kedua tubuh anak manusia itu telah basah oleh keringat. Lelehan keringat ditubuh Heeldhy jatuh ke tubuh mulus Mayang.Heeldhy masih memandangi ekspresi wajah Mayang saat melepas keperawanannya.

Tubuh putih mulus Mayang tampak tak bisa ia gerakkan karena saat itu ia telah diposisi yang amat sulit. Sedikit gerakan maju pada pinggul Heeldhy membuat batang kemaluannya amblas kedalam celah kemaluan Mayang yang perawan. Mayang merasakan ngilu dan perih, sambil mendengus, ia menguman dan mengucap

“Aduhhhhh,,,,,mmmaaaa,,,aduhhh,,sakitt.Ammmmpppunnn….Bang!!” Mayang meracau kesakitan seperti hewan yang sedang disembelih.

Suara Mayang itu tertahan oleh suara hujan yang amat deras menandakan sedang terjadi peristiwa perkawinan dimalam itu. Jadi dimalam itu tak ada seorangpun yang mendengar jerit sakit dan ngilu yang dirasakannya. Kedua bola matanya terlihat memutih menahan rasa ngilu saat melepas keperawanannya. Disaat benda tumpul miliknya masuk itu,Heeldhy merasakan adanya sesuatu yang robek dan lepas. Sebagai laki laki berpengalaman ia tahu, ia telah berhasil merobek keperawanan dokter muda itu. Mayang adalah gadis perwanan ke 5 yang berhasil diperdayai Heeldhy. Selama ini kebanyakan gadis yang berhasil ia gauli hanyalah siswi smu dan mahasiswa di kota Semarang. Namun saat di praktek di pulau itu, ia mendapatkan perwana seorang gadis yang berprofesi dokter. Sungguh membuatnya sedikit bangga.

Heeldhy mendiamkan posisinya saat itu. Ia memperhatikan Mayang yang hanya kini meneteskan air matanya. Tampak Mayang amat menyesal telah melepaskan kegadisannya kepadanya padahal sebelum Heeldhy menggaulinya, ia sudah memohon agar jangan melakukan itu sebab ia akan mempersembahkan keperawanannya pada suaminya kelak.Dengan sesegukkan Mayang berusaha memandang Heeldhy saat itu. Namun ia tak berusaha melepaskan kedua tangannya yang terbuka dari genggaman tangan Heeldhy. Tangan Mayang hanya memegang jari jari Heeldhy dengan sangat lemah. Didalam hatinya Heeldhy tahu bahwa wajar Mayang menangisi kesedihannya itu sebab kini ia bukanlah perawan lagi. Mayang masih sesegukan menahan rasa perih dan ngilu di liang kehormatannya itu. Tanpa menunggu jeda yang lama Heeldhy menarik kemaluannya beberapa saat namun mendorongnya keluar masuk. Mayang kembali mengatupkan kedua bibirnya menahan sesuatu yang ngilu di pusat kewanitaanya. Heeldhy kembali memaju mundurkan pinggulnya kedalam rahim Mayang. Meskipun saat tu Mayang sudah tak menahan gerakannya lagi, Heeldhy semakin intens memasukinya. Sambil mengemut kedua payudara Mayang dengan mulutnya Heeldhy terus bergerak menarik dan menusuk kearah pusat kewanitaan Mayang. Ia pun sudah melepaskan kedua tangannya dari tangan Mayang. Kini kedua tangannya hanya meremas payudara Mayang yang sudah licin basah oleh keringatnya.

Kedua tubuh anak manusia itu,kini sudah melalui masa sulit dalam perkawinannya malam itu. Rasa sakit dikemaluannya tak lagi dirasakan Mayang. Kini ia hanya merasakan gejolak birahi dan gelombang nikmat yang mendera tubuhnya. Dengan masih memejamkan matanya Mayang hanya mampu memegang kedua lengan Heeldhy yang berotot itu. Mayang semakin dapat menerima hujaman kemaluan Heeldhy di dalam rahimnya. Kini yang keluar dari bibir tipisnya hanyalah dengus nafas berat seolah menerima hujaman benda milik Heeldhy didalam rahimnya. Kedua kakinya kini membelit rapat pinggang Heeldhy. Beberapa menit kemudian Mayang semakin kuat mendengus, ia merasakan akan meledak orgasmenya.

Tak susah memang,tubuh putih mulusnya melengkung kearah Heeldhy dan semakin merapatkan tubuhnya memeluk tubuh telanjang Heeldhy. Mayang kini memeluk rapat tubuh Heeldhy. Tak lama kemudian,Mayang pun melepaskan orgasmenya, disaat yang bersamaan Heeldhy juga memuntahkan spermanya kedalam rahim Mayang yang siap ia buahi. Tubuh Mayang lalu merangkul Tubuh Heeldhy dan mengigit lengan Heeldhy. Ia mengekspresikan gelombang orgasme yang melandanya dengan mengigit lengan kanan Heeldhy. Hampir saja lengan Heeldhy berdarah akibat amat dasyatnya orgasme Mayang. Setelah mengalami gelombang kepuasan dalam berhubungan badan itu,kedua tubuh telanjang itu pun terkulai lemas dengan posisi masih saling berdempet.Mayang telentang didipan kayu yang diselimuti kelambu dikamar Heeldhy itu. Sedang diluaran hujan masih turun rintik rintik seolah menandakan peristiwa besar perkawinan anak manusia itu telah usai. Perlahan kemaluan Heeldhy kembali kekeadaan semula dan terlepas dari liang Mayang. Heeldhy tergolek disamping Mayang,dan sambil berpelukan bak suami istri keduanya lelap tertidur hingga paginya.

Pagi itu masih dingin dan terdengar suara kicauan burung burung dalam hutan bakau di pedalaman itu.Heeldhy telah lebih dulu bangun dari tempat tidurnya.tadi disaat bangun ia memperhatikan wajah cantik Mayang yang tadi malam ia perawani,semakin terlihat kecantikannya.Dengan selimut yang ada di dipannya ia tutup tubuh Mayang yang masih telanjang itu.Kemudian ia tutupkan tirai kelambu di dipannya.Heeldhy lalu menutup pintu kamarnya dan ke luar dari rumah untuk mandi dan masak. Selesai mandi dan masak,Heeldhy pun masuk kedalam pondoknya.

Mayang tampaknya masih tertidur dengan pulas sebab ia terlalu capai karena persebadanan yang pertama kalinya itu. Heeldhy pun masuk kekamarnya,dan membiarkan Mayang yang masih terlelap. Pagi itu belum terlihat cahaya matahari yang menerangi bumi karena masih mendung.Apalagi sabtu itu Heeldhy tak ada kegiatan yang berarti.Heeldhy memasak makanan yang akan mereka makan berdua pagi itu. Cukup lezat memang masakan buatan Heeldhy. Selesai masak Heeldhy pun masuk kekamar dan membangunkan Mayang yang masih berbaring di dipan itu. Heeldhy membuka selubung kelambu dan mengucek rambut Mayang dengan lembut sambil membangunkannya.

“Nayyy,,,,,Nay,,,,bangun,,makan yuk!” kata Heeldhy.

Merasa ada yang membelai pipinya yang halus, Mayang pun perlahan membuka matanya. Dengan masih merasa capai,ia pun mulai sadar bahwa masih tidur di dipan itu.Mayang berusaha duduk dan menutupkan selimut pada dadanya yang terbuka. Bagaimanapun ia telah melakukan hubungan badan dengan Heeldhy malam tadi, namun ia merasa tetap harus menutupi dadanya itu. Heeldhy menyarankan agar Mayang bersih bersih dulu supaya segar mumpung cuaca tak hujan,terang Heeldhy. Heeldhy memberikan handuk dan baju miliknya untuk dikenakan Mayang kekamar mandi. Saat Mayang berusaha turun dari dipan itu ia masih merasa ngilu di selangkangannya. beritaseks.com Dengan mimik sedikit meringis ia berusaha berjalan dengan tertatih.Heeldhy membantu Mayang bangun dari dipan dan membimbingnya kekamar mandi.

Mayang menyiram tubuhnya dengan air yang berada dikamar mandi itu. Tubuhnya mulai terasa segar,meski merasa sedikit letih.Heeldhy kembali kekamarnya dan mengganti kain sprey dipannya yang sudah kusut disana sini. Ia juga melihat ada tetesan darah perawan Mayang yang sudah mulai mengering. Tak banyak memang, namun membuatnya bangga, bukan saja darah, namun ada juga lendir spermanya dan cairan orgasme Mayang di kain putih itu. Heeldhy menyimpannya dan tak mencuci kain itu. Kemudian ia ganti dengan kain sprey yang baru. Kini dipan dikamarnya sudah rapi kembali. Heeldhy pun mendapati cd dan bh Mayang yang tercecer di bawah dipannya. Kedua benda itu ia kumpulkan di atas meja. Selesai mandi Mayang masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi yang berada di ruang tengah pondok itu. Ia memandang keluar rumah yang kini cuacanya mulai kembali gelap dan mungkin akan hujan. Heeldhy keluar kamar dan mendapati Mayang yang saat itu asik memandang halaman pondok itu.

Heeldhy memanggil Mayang untuk makan pagi, Mayang pun berjalan kearah meja makan dan duduk berhadap hadapan dengan Heeldhy. Perutnya merasa lapar, apalagi tenaganya telah terkuras bersama Heeldhy malam tadi. Dengan lahap Mayang menyantap makanan yang dibikin Heeldhy pagi itu. Ia pun memuji kelezatan makanan bikinan Heeldhy. Hingga mereka menyudahi makan pagi itu,yang mampu memulihkan tenaganya kembali.Mayang hanya memandanggi Heeldhy yang saat itu asik memberesi meja makan.Mayang masih membanyangkan kejadian yang tadi malam ia alami bersama Heeldhy. Ia seakan tak percaya kenapa hubungan diantara mereka sampai sejauh itu hingga ia rela melepaskan kehormatannya pada laki laki asal Ende tersebut. Padahal selama ini ia mampu menjaga mahkotanya itu meskipun saat bersama Hari Agung tunangannya. Dalam kecamuk pikirannya itu, Mayang dikejutkan oleh sapaan Heeldhy yang amat lembut.Heeldhy mengajak Mayang pindah ke ruang depan untuk menyaksikan tumbuhan dihalaman pondoknya. Saat itu gerimis pun turun hingga akhirnya hujan yang cukup deras.Pagi itu pedalaman pulau itu masih di guyur hujan dengan derasnya. Mayang menghubungi Bu Siti, mengabarkan ia mungkin tak bisa pulang hari itu sebab cuaca amat buruk.Bu Siti pun mengerti alasan Mayang itu.

Pagi disaat hujan deras itu, Mayang pun duduk berdampingan dengan Heeldhy. Mereka seperti pasangan kekasih yang saling mencintai. Mayang seolah tak lagi menghiraukan hubungannya dengan Hari Agung tunangannya. Sesekali mereka terlibat pembicaraan yang serius terkadang saling tertawa dan berpelukan.Mayang pun tak menolak jika tangannya selalu di genggam Heeldhy. Juga ia tak melarang Heeldhy menciumi bibirnya atau meraba kedua payudaranya. Malah rabaan Heeldhy itu mampu membuat mukanya bersemu merah menahan gejolak dalam dadanya.

Seperti mengerti apa yang diingini Mayang, Heeldhy pun menggiring Mayang kedalam kamarnya. Mayang pun dibaringkannya di atas dipan yang sudah ia bersihkan itu. Perlahan dan pasti, Heeldhy melepaskan kaos yang ia pinjamkan pada Mayang itu perlahan dari tubuh sintal milik Mayang. Heeldhy pun melepas semua pakaian yang melekat di tubuhnya.karena tak mengenakan penutup dada dan celana dalam, Mayang pun kini sudah bugil total. Mereka kini saling memilin dan merangsang. Tak ada lagi penolakan dari Mayang. Ia sudah tak mempedulikan statusnya lagi. Ia kini bukanlah Mayang yang kemarin yang masih perawan,tunangan seseorang dan anak pejabat lagi. Kini ia menyerahkan seutuhnya tubuhnya dan jiwanya kepada pria Indonesia timur itu. Heeldhy pun mengajarkan Mayang untuk melakukan oral kepadanya.

Mayang merasa terkejut tak menduga permintaan Heeldhy itu. Namun karena rasa yang tidak ia sadari itu datang,Mayang pun akhirnya mencoba melakukan oral pada kemaluan Heeldhy. Perlahan ia mendekatkan bibirnya pada batang milik Heeldhy yang cukup panjang itu.hampir tak muat dibibirnya. Berulang kali ia coba dan bisa dikulumnya namun tak semuanya karena panjangnya. Batang Heeldhy menganjal langit mulutnya. Hanya sampai disitu lah kemampuan Mayang saat itu. Perlahan ia menjilat dan mengulum batang yang hitam dan tak dikhitan itu. Ada bau aneh yang ia rasakan saat itu, ya, bau khas kemaluan laki laki. Ia tak pernah tau bau itu selama ini. Ia hanya tahu bentuk anatomi laki laki disaat kuliah dan praktek di rumah sakit beberapa waktu yang lalu.

Mayang merasa tak sanggup membuat Heeldhy puas dengan oralnya itu.Ia melepaskan kuluman di mulutnya.Heeldhy maklum saja melihat tingkah Mayang.Lalu Heeldhy menarik tubuh Mayang sejajar dengannya. Heeldhy membaringkan Mayang kembali. Tubuh putih mulus itu ia telentangkan didipan. Heeldhy lalu merabai payudara Mayang beberapa saat, namun mampu membuat Mayang terbakar birahi. Puas dengan bibir dan payudara Mayang Heeldhy pun semakin turun kearah kemaluan Mayang yang sudah ia jebol malam tadi. Lidahnya mulai melata masuk dan menjilat jilat klitoris dokter muda itu. Mendapat perlakuan yang demikian Mayang semakin melebarkan kedua kakinya dan menggerumas rambut ikal Heeldhy. Ia merasakan geli yang bercampur nikmat yang amat sangat. Puas melihat Mayang yang sudah siap untuk melakukan senggama, wajah Heeldhy lalu menjauh dari celah itu.Kini ia tepat diatas tubuh Mayang yang terbuka.

Setelah tubuh mereka sejajar, Heeldhy mengarahkan batang kemaluannya itu ke liang kemaluan Mayang. Perlahan benda tumpul itu masuk kedalam kemaluan Mayang. Kini gerakan Heeldhy perlahan dan amat penuh perasaan maju mudur.Mayang dapat merasakan pergesekan pertemuan alat kelamin mereka. Mayang pun semakin membuka dan membelit pinggang Heeldhy dengan erat. Heeldhy merasakan Mayang sudah menerima dirinya. Beberapa kali memang Heeldhy maju mundur dari perlahan hingga mulai cepat. Mayang hanya mampu memicingkan matanya yang kini ia rasakan adalah kenikmatan hubungan raga yang menampakkan sosoknya. Tiba tiba ia merasakan sengatan jutaan watt kenikmatan yang melandanya hingga ia mengcengkram bahu Heeldhy dengan amat kuat. Tubuhnya melengkung keatas. Lehernya yang jenjang dan wajah cantiknya itu menengadah kearah Heeldhy seolah memberi tahu akan kenikmatan yang melandanya. Heeldhy pun menyambut wajah Mayang itu dengan mengulum bibirnya.Akhirnya pegangan Mayang di tubuh Heeldhy pun lepas.Beritaseks

Mayang merasa tubuhnya semakin lemah tak bertenaga namun gerakan Heeldhy semakin kuat dan cepat menusuk nusuk kedalam kemaluannya. Mayang sudah tak mampu melayani gerakan Heeldhy. Kini ia hanya merasakan tubuhnya ringan seperti kapas dan gampang dilanda gelombang birahi. Dalam kebisuan Mayang saat itu hanya terdengar dengus tertahan,,

“,uhh,,mmm…ugghhhh..” seolah memohon agar Heeldhy secepatnya menyudahi persenggamaan itu. Heeldhy terus melakukannya hingga tak lama ia pun muncrat spermanya membasahi liang senggama wanita itu. Mayang merasakan aliran panas air mani Heeldhy masuk kedalam rahimnya. Ia cukup merasakan capai dan puas atas pelayanan Heeldhy saat itu. Begitupun Heeldhy menjatuhkan tubuhnya diatas tubuh putih Mayang. Mayang tak mampu menolakkan tubuh kokoh Heeldhy dan hanya waktu yang membuat kelamin keduanya terlepas. Keduanya pun terkulai lemas lalu tertidur pagi itu. Permaianan sex diantara kedua anak manusia itupun berhenti hingga keduanya terbangun siang harinya.dan karena cuaca hujan yang masih belum berhenti, maka mereka hanya menghabiskan waktu didalam pondok itu saja berdua. Mereka seperti penganten baru yang baru saja menunaikan hak dan kewajibannya. Mayang dan Heeldhy mengisi waktu hanya dengan makan dan duduk sambil bermesraan sepanjang hari itu. Malam harinya,merekapun kembali melakukan hubungan badan hingga dua kali seolah ingin menghabiskan energi yang tersisa di tubuhnya. Mayang pun mampu melayani keinginan Heeldhy yang memang memiliki gairah sex yang diatas rata rata itu.Tak bosan bosannya Heeldhy terus melakukannya pada Mayang sang dokter muda dan cantik itu.

Minggu pagi setelah beres dan membersihkan tubuhnya, Mayang bersiap pulang ke pulau tempatnya tugas. Ia masih menunggu Heeldhy yang sedang mengadakan kebaktian di pedalaman itu, Heeldhy mengantar Mayang ke tempat tugasnya dengan perahu. Melalui sungai yang di selubungi hutan bakau dan rawa, mereka menyusuri sungai-sungai kecil. Tak memakan waktu lama, mereka pun sampai di tempat tugas Mayang. Mayang diantar Heeldhy ke rumahnya. Di tengah jalan mereka bertemu Bu Siti yang baru pulang dari gereja.Dengan sapaan lembut, Bu Siti menawari Heeldhy dan Mayang singgah di rumahnya. Dan sempat bicara sebentar, akhirnya Mayang melanjutkan perjalanan pulang bersama Heeldhy.

Sesampai dirumah,Heeldhy pun beristirahat di rumah Mayang.Mayang pun menyuguhi makanan dan minuman kepada Heeldhy. Di rumah Mayang itu, Heeldhy kembali mengajak Mayang melakukan hubungan badan lagi. Mayang sempat menolak karena tak enak jika diketahui oleh warga sekitar apalagi Bu Siti tahu Heeldhy sedang mengantarnya ke rumah.Heeldhy pun ngotot memohon meski hanya sebentar. Akhirnya dokter muda itu tak mampu menolak keinginan Heeldhy itu dan meluluskan permintaannya itu dikamarnya. Dikamar rumah dinasnya itu kembali Mayang di hantarkan Heeldhy hingga orgasme. Selesai melakukan persebadanan,Heeldhy pun bersiap pulang ke pedalaman dan berjanji sekali seminggu ia akan menjenguk Mayang.

Setelah takluknya Mayang pada Heeldhy hubungan mereka semakin intim.Di saat Mayang pulang ke Padang pada bulan ketiga ia di pulau itu Heeldhy mengantarnya walau tak mengantar Mayang sampai di rumah. Ia hanya mengantar dengan taksi dan melanjutkan kepenginapan. Selama di Padang Heeldhy menunggu Mayang pulang ke pulau bersamanya. Hubungan Mayang dan Hari Agung tunangannya semakin memburuk apalagi setelah Hari Agung kedapatan oleh orangtua Mayang menggandeng wanita lain.Dengan restu orang tuanya Mayang memutuskan hubungan pertunangan itu. Selama di Padang Mayang mendatangi penginapan tempat Heeldhy menunggunya.

Di penginapan itu,kembali kedua anak manusia berbeda latar dan profesi itu melakukan hubungan badan untuk kesekian kalinya. Mereka melakukannya tanpa paksaan dan murni keinginan mereka.tak ada lagi perbedaan warna kulit ,baik suku atau agama yang mereka berdua permasalahkan. Mereka saling memberi kepuasan kepada pasangannya. Hingga saat itu Mayang pun belum berani mengutarakan tentang hubungannya dengan Heeldhy. Padahal Heeldhy pernah ingin berbicara terus terang dengan kedua orangtua Mayang namun masih dilarang Mayang. Mayang ingin suatu saat kelak akan memberi tahukan hubungannya itu pada orangtuanya,bukan saat sekarang ini.Apapun konsekwensinya nanti ia akan siap menerimanya.

Sore itu Mayang diantar bapaknya ke pelabuhan Muaro untuk berangkat ke pulau. Bapak Mayang merasa putrinya tak perlu lagi diantar sampai ke pulau. Dari kejauhan Heeldhy memandang anak dan bapak itu saling melambai saat Mayang menaiki kapal. Dengan menempati kamar yang telah dipesan, Mayang dan Heeldhy bertemu diatas kapal. Selama dikapal kedua sejoli itu pun terlihat amat saling mengasihi. Meskipun yang laki laki tak begitu enak untuk dipandang. Mungkin orang lain akan jijik dan takut melihat sosoknya. Namun Mayang tak memandang itu semua. Di dalam kamar diatas kapal itu,mereka pun terlihat amat mesra dan sesekali berciuman. Selama perjalanan tak ada yang tahu bahwa mereka bukanlah pasangan resmi. Mayang tertidur dibahu Heeldhy yang bidang itu. Paginya mereka sampai di pulau dan langsung ke rumah Mayang.

Mayang pun mandi dan bersiap ke puskesmas. Heeldhy pun juga mandi dan istirahat beberapa saat sebelum ia balik ke tempatnya di pedalaman. Saat itu Heeldhy sempat memberikan ciuman dikening Mayang sebelum berangkat. Selama beberpa hari kemudian dan diakhir minggu, Mayang memberanikan diri ke ketempat Heeldhy dengan menumpang perahu nelayan yang biasa melayani ke pedalaman. Sebelumnya ia memberitahu Bu Siti sebab ia akan ke pedalaman. Bu Siti pun mengetahui dan merestui hubungan Heeldhy dan Mayang itu.Tanpa setahu Mayang selama ini, bu Siti sangat berharap Mayang dan Heeldhy bisa menjadi pasangan suami istri yang mengabdi di pulau itu.Apalagi kini Mayang semakin dekat dengan Heeldhy. Bu Siti juga tahu bahwa Heeldhy dan Mayang memiliki hubungan yang sangat istimewa,jika tidak kenapa Mayang berani mendatangi tempat kediaman Heeldhy,yang cukup jauh itu.Beritaseks

Setiba di tempat Heeldhy, Mayang disambut Heeldhy dengan telah menyiapkan berbagai hidangan yang telah ia siapkan. Hidangan itu terdiri dari berbagai hidangan hasil laut dan makanan khas pulau itu. Hidangan laut yang disuguhi Heeldhy terbukti mampu mendongkrak gairah mereka. Mayang pun kini malah sudah mampu melakukan oral kepada Heeldhy yang berwajah buruk itu. Mayang memutuskan menginap di tempat Heeldhy dan baru pulang esok harinya. Heeldhy dengan senang hati menerima Mayang dengan gembira. Ia melakukan pun melakukan persebadanan bersama Mayang dengan penuh rasa cinta yang tak pernah diucapkan. Kini pun sebaliknya Heeldhy sering menginap di tempat Mayang jika ia berada di kediaman Mayang. Meskipun hubungan mereka tidak memiliki status, namun cukup membuat Mayang dan Heeldhy berbahagia.

Kini yang dilakukan Mayang bukan lagi sekedar melepaskan hajat kewanitaan saja, ia sudah mendapatkan rasa cinta yang mendalam dari Heeldhy dan memberikan segenap hati dan perasaannya demi Heeldhy. Selama ini ia tak mendapatkan itu semua dari tunangannya Hari Agung. Mayang tak lagi memandang perbedaan mendasar antara keduanya, ia juga sudah iklas menerima sosok Heeldhy yang memang mungkin tak pantas untuknya. Segala rasa minder,tak enak pun hilang dengan sendirinya jika Mayang telah bersua dan melepas rindu bersama Heeldhy. Sesuai dengan kesepakatan diantara mereka berdua, Heeldhy tidak memaksa Mayang untuk menikah atau hal yang prinsipil yaitu pindah keyakinan, Heeldhy serta merta memberikan Mayang kebebasan.

Dengan rasa cinta dan keterkaitan hati mereka berdua sampai sejauh itu Mayang belum memberitahu kepada orangtuanya. Ia pun masih sering pulang ke Padang. Kini Mayang masih menunggu saat yang tepat untuk memberi tahu kedua orang tuanya tentang hubungannya dengan Heeldhy. Mayang tahu hubungan mereka itu akan ditentang dan di larang kedua orang tuanya. Maka, demi kelangsungan hubungan dengan Heeldhy makanya Mayang masih mendiamkan hubungan itu. Kedua sejoli itu,semakin sulit dipisahkan satu sama lainnya.

Hubungan mereka itu telah diketahui oleh Pak Sitifadli dan Bu Sitifadli. Sebagai orang yang dituakan di daerah itu,pak Siti pernah menanyakan hubungan itu pada Heeldhy. Heeldhy pun beralasan dia pun siap untuk meresmikan hubungan dengan Mayang asal disetujui orang tua Mayang. Namun ia tak mau nantinya malah terpisah dengan Mayang. Begitu juga dengan Mayang saat ditanyakan bu Siti, jawabannya hampir sama.Akhirnya demi pertimbangan kebaikan mereka berdua,maka Heeldhy pun berencana untuk menikahi Mayang secara diam diam. Heeldhy akhirnya setuju dengan berbagai syarat yang diajukan Mayang saat itu. Pernikahan diam diam itu dilakukan di tempat Heeldhy dan Bu Pak Siti sebagai saksi dari pihak Mayang. Tanpa memakan waktu yang lama akhirnya Mayang pun sudah menjadi Nyonya Heeldhy.Tanpa melepas keyakinannya kini Mayang pun menyandang nama itu didepan namanya. Semenjak itu meskipun sering terpisah tempat bertugasnya,Heeldhy dan Mayang dapat mereguk kenikmatan ragawi dengan sempurna tanpa adanya lagi halangan.

cerita panas 2016, cerita panas terbaru, cerita panas, cerita syur 2016, cerita syur terbaru, cerita syur, cerita lucah 2016, cerita lucah terbaru, cerita lucah,

Cerita Dewasa Bandar Domino, Poker Online, Domino QQ, Domino Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.