Vimax cerita ngentot Cerita Seks Cerita Dewasa Cerita HOt Terbaru Cerita Sex Terbaru
Cerita Dewasa Terbaru Cerita Dewasa Terbaru
Cerita Sex Terbaru
Breaking News
Cerita Dewasa Terbaru
Cerita Sex online online online online banner-agenqq-728x90-2 banner-raja3651

Kisah Mesum, Skanda Artis (Selesai)

Vimax

cerita sex 2016, cerita sex terbaru, cerita sex, cerita seks 2016, cerita seks terbaru, cerita seks,  sambungan cerita yang sebelumnya ya pembaca yang budiman,,,Vanya termenung, dengan wajah bertumpu ke tangan di dashboard mobil. Masih memikirkan perkataan yang dilontarkan Melati, merasa dimanfaatkan. Sebagaimana pekerja diperas pengusaha yang mau untung terus.

“Neng Vanya ko ngelamun ? ayo duduk di depan geulis !” suruh sang supir dengan seringai mesum, orang yang disapa Pak Poer oleh Citra.

Sudah biasa ini terjadi, tanpa banyak bicara Vanya pindah waktu lampu menyala merah.

“Naah, kalo gini kan enak hie heh heh, muluuuss…Ooh mulus tenan Neng Vanya, Bapak suka. Sempurna…paha yang semmpurna !”, Vanya hanya bisa berdehem nikmat pahanya digerayang kacung murahan.

“Jaket Neng dibuka aja !”. Masih terus digerayang, Vanya menanggalkan sweater coklat yang membalut tubuhnya.

“Ck ck ck…baju putih, kulit putih. Neng Vanya emang Bidadari turun dari khayangan !”.

Pak Poer mendekat, Vanya pasrah bibir mungilnya dipagut. Pria seumur Kakeknya itu serasa mengemut permen, gemas ingin menelan. Puas dengan bibir atas, bibir bawah pun kena jatah giliran. Vanya terhentak.

“Eit, apa nih Neng ? Ji hie heh heh…”, bibir kemaluannya yang masih terbalut G String digaruk jari gemuk Pak Poer.

“Paaakhh…ge-gelii.ng, nggh…aaahh, sssh…”.

Melihat wajah Vanya merah terangsang, Pak Poer semakin gencar menggoda dan menggoda.

“Geli berarti enak dong ? Kilik-kilik-kilik-kiliik, hie heh heh. Whuaa…basah euy, i-hi i-hi, ihiiiy”. Pak Poer senang buat vagina Vanya becek terangsang, makin bersemangat 45 menyingkap rok lihat dalaman basah itu.

Tanpa perlawanan berarti dari Vanya, celalan dalam pun terlihat. Pak Poer menatapnya dengan lapar.

“Pak…Pak, hijau…jalan !”, Vanya berusaha menyelamatkan diri, menahan wajah mesum Pak Poer yang ingin terbenam diselangkangan.

Pak Poer menoleh ke lampu lalu lintas, kontan bersungut-sungut karena niat cabul tak sampai.

“Sialan tuh lampu, ga tau orang tua lagi seneng !”. Vanya menghela nafas, lega saat kendaraan kembali melaju. Sayang hanya kebebasan sekejap, pupus saat Pak Poer berucap kata.

“Lepas kancutnya Neng, kasih ke Bapak !”. Pipi Vanya merona mendengarnya, makin terlihat cantik mempesona saja dirinya. Ia memang sudah sering dilecehkan seperti ini, tapi sebagai wanita, pasti ada rasa malu yang lumrah dirasa.

“Buat apa Pak ?”.

“Nanya lagi, ya buat dimakan ! apa memek Neng aja yang mau Bapak makan, Hah ?”.

Mata jelita Vanya terbelalak, cepat-cepat dia angkat pinggul loloskan celdam. Baru turun selutut, aroma lendir vagina menebar wanginya, memenuhi mobil ber-AC tersebut.

“Hmmhh, ya ampun si Neng…wangi pisan punya memek. Jadi ga sabar pengen make !” komentar Pak Poer, wajah penuh lemaknya menatap penuh birahi, lidah terjulur keluar bagai ular berdesis.

Vanya menggeleng, tahu tak lama lagi akan disetubuhi supirnya yang berperut buncit itu. Vaginanya tiba-tiba terasa ngilu ingat diameter penis yang akrab mengebor masuk, penis gemuk.

“Lho kok diem, mana kancutnya ?”. Mobil berhenti waktu lampu kembali merah. Vanya lanjut menelanjangi diri. Pak Poer seenaknya mengangkat rok tanpa dalaman itu tinggi-tinggi.

“Whua, dodol kesukaan !. Wangi dari situ rupanya, musti disedot sampe kering nih hie heh Sluurp !”. Sekali lagi Vanya menggeleng, mimik takutnya kian memuncak saat serah terima G String membercak lendir cinta.

“HMMHH…WANGI BUNGA, Hap !”. Pak Poer meniru gerakan pesulap memasukkan pedang ke tenggorokan, kepala terdongak dan mulut menganga lebar.

“Mm….enyak, hie heh heh, Nyam-nyam…”. G string Vanya dikunyah Pak Poer bagai makanan. Sampai lendir habis dirasa, barulah celdam dimuntahkan keluar. Segitiga itu mandi liur, dengan kurang ajar dicampakkan bagai barang usang.

“Mau yang asli Aaah…”, paha Vanya refleks merapat.

“Buka Neng, ga usah kayak perawan deh…memeknya udah kena ewe aja, ayo buka !”.

Dengan gerak perlahan, Vanya merentang sepasang paha indahnya. Semakin renggang paha, semakin pipi cantik merona. Berlawanan dengan Pak Poer yang makin liuran, ia habis kesabaran. Dibentangnya paha Vanya sejauh mungkin dan membenamkan wajah secepat kilat.

“HMMHHHH…HMMMHHHH, CUP CUP CUP CUP, SLUURP !”. Pak Poer melahap vagina Vanya. Di-emut, dicelup lidah, dijilat, semua yang buat Vanya mendesah lirih lantaran nikmat.

Tak ada yang bisa diperbuat artis remaja berdarah campuran Jerman itu selain mendesis dengan pantat terangkat. Rambut keriting kriwil Pak Poer dijambaknya keras, makin acak -acakan tak karuan. Mata Vanya sayu, meski masih lirik kanan kiri karena takut ada yang memergoki. Samar-samar, ia melihat detik waktu lampu merah menunjuk 95 dari 150. Berarti masih 95 detik vagina bakal jadi permainan bibir tebal hitam, dicumbu menuju langit ketujuh. Saat itulah Vanya teringat, bagaimana bisa terperangkap menjadi budak seks Pak Poer, supirnya. Kisah awal berbuntut pemerasan organ kewanitaan…

# DUNIA ACTING

“Terima kasih Bu, atas kepercayaan Ibu kepada kami…kami akan membimbing Vanya menjadi artis terkenal di Indonesia” kata seorang pemuda ramah.

 

Pemuda yang menjabat sebagai penanggung jawab sebuah Manajemen artis. Usaha yang membimbing dan menyalurkan seseorang untuk jadi artis, baik tua maupun muda. Ibunda Vanya menitipkan anaknya, agar tenar sekaligus dapat sumber penghasilan. Sayang ibarat perusahaan, pelamar overload. Banyak dari keluarga kaya, cantik jelita pula. Skill akting sama parah, hanya modal nekat plus muka tembok. Tak lama, Vanya pun disalurkan ke peran-peran kecil yang hanya numpang lewat, tidak tersorot kamera. Bahkan di iklan juga begitu.

Ia termenung, terus bermimpi ingin sekali tenar, disamping teman-teman sekolahnya sering meledek Vanya adalah artis gagal. Hal itu membuat Vanya sedih bercampur aduk kesal. Saat itulah ia ditemui seseorang yang sudah memperhatikan “bakat”nya. Dalam arti, asal mula artis menuju kesuksesan melalui proses yang sama. Ada penjual, barang, dan tentu pembeli. Penjual disini manajemen artis terselubung. Barang adalah artis sendiri, dan pembeli yang dimaksud bisa pejabat, produser atau pengusaha yang memiliki line ke orang-orang penting di balik layar kaca. Seorang artis senior bintang film panas Indonesia mendekati Vanya

“Hai, bengong aja ?”.

“Eh Ka Febby, iya nih…lagi ngayal jadi artis ngetop kaya Kakak hehehe”.

“Jangan ngayal dong…usaha !”.

“Ya ini udah usaha…belajar acting, mainin peran cupu…tetep aja gini-gini terus, ga ada kemajuan…mustahil ngetop !”.

“…………………….”,

wanita yang disapa Vanya “Ka Febby” alias Febby Fabria itu terdiam, semakin yakin kalau Vanya adalah korban berikut yang cocok untuk ditawarkan. Sebagai barang lama yang berhasil membawa barang baru, tentu akan dapat bonus entah itu uang atau kesempatan main film lagi, seperti halnya Vena mengangkat Ratu keponakannya, kembali terlihat di layar kaca setelah cukup lama vakum.

“Perlu waktu, dan pastinya…pengorbanan Fuuh !”, Febby menebar jala disela hembusan asap rokoknya.

“Pengorbanan ?”.

“Yup, Fuuuh…”.

“Pengorbanan gimana Ka ?”.

“Jangan ah, nanti gua di-cap ngerusak anak orang lagi” pancing Febby, sengaja buat Vanya semakin penasaran.

“Apaan sih Ka…ga ko” gapapa, aku udah rusak kok hehe”, Febby tersenyum mendengar itu, berniat membatalkan tawaran jika Vanya tidak serius.

“Apaan Ka ? kok malah senyum sih, beneran aku mau tahuu…” ujar Vanya manja.

“Beneer ?”, Febby memasang wajah serius.

“Bener, suer !”.

“Mm ok, kalo gitu, gini…lu sama yayang lu udah pernah ML belum ? jawab yang jujur, ga usah malu n takut…toh, kita sama-sama cewe khan…gimana ?.” Vanya membisu, ia cukup ragu untuk mengutarakan masalah yang satu ini, sangat privacy.

“Aku harus jawab ya Ka ?”.

“Ga maksa sih, cuma kalo lu emang pengen ngetop…ini penting buat gua !”.

“Penting gimana Ka ?”.

“Alaah, udah lu engga perlu tau…yang penting mau jawab ga ? kalo ga gua tinggal nih, masih banyak urusan !”.

Vanya menyerah buka mulut, bercerita tentang keperawanannya yang terrenggut mantan pacar. Febby sudah menduga sebenarnya, tentu ia berpengalaman dalam membaca orang khususnya gadis bau kencur. Febby senang dapat barang baru untuk ditawarkan ke bos-bos pejabat. Selesai mengorek semua hal pribadi Vanya, Febby menguraikan cara-cara singkat untuk menerobos layar kaca yang pesaingnya ribuan. Dengan cara menjajakan diri lewat agency legal, jadi barang dagangan tanpa sepengetahuan orang tua khusus Vanya. Beberapa ortu artis bahkan ada yang merangkap manager sekaligus germo. Begitu rusak dan kotornya dunia acting Indonesia. Agency dapat uang booking plus penjualan. Artis dapat channel, schedule dan honor film sebagai ganti. Tenar tentu, kaya pasti, siapa yang menolak ?.

“Kalo artis cowo gimana tuh ?”.

“Yah, rata-rata…Fuuh, ada yang disalurin ke TG Istri pejabat yang kesepian, atau…yaa, kebanyakan sih jadi Gay gitu”.

“Ih jijay bajay…kaya Indra gitu ya Ka ?”.

“Iya…dia kan dipesen sama pengusaha sepatu ber-merk gitu, dan Indranya juga mau jadi ya sudah……lu juga harus siap-siap lho Van !”.

“Si-siap gimana Ka ?”, Vanya canggung melihat tatapan Febby yang tajam seakan mengancam.

“Ya siap-siap bakal ngerusak kehidupan lu yang sebenarnya…kehidupan di balik topeng artis-artis metropolitan yang digembar-gemborkan dengan nama keren Celebrity, yang sebenernya adalah perek !. Bahkan, Fuuh…sampe lu pacaran sama siapa, atau lu nikah buat nyari status sama siapa juga udah diatur. Contohnya Saipul, Gay sama Dewi si perek !, itu juga udah diatur kalo lu mau tau yang sebenernya…gila ye ?”.

“………………….”, Vanya terdiam tak balik berkomentar.

“Emang harus lewat jalur itu ya Ka, ga ada cara lain ?”.

“Ya mau gimana lagi ? emang ada acting artis Indonesia kaya artis luar ? film luar yang ga terkenal deh, hah ? tetep aja ga nendang ! per-film-an disini kan asal, aji mumpung. Aktor boleh ganteng, aktris boleh cantik, tapii…ada tapinya nih, harus mau diajak naik ranjang. Karena apa yang lo miliki itu harus bisa dinikmati, PH juga dapet duit tambahan dari situ. Yang cantik “n yang ganteng banyak Van, tapi lo bisa nawarin apa selain itu ? Bukan acting di depan kamera pastinya, semua standar ! Ceritanya paling pemeran utama menderita, terus Ibu tiri atau kandung jahat masalah harta. Berkutat disitu-situ aja ga kurang ga lebih !” sahut Febby panjang lebar.

Secara tak langsung, Vanya telah resmi menanda tangani kontrak pelacuran terselubung.

***

Singkat cerita, Vanya berhasil menembus layar kaca. Sebuah prestasi yang luar biasa namun mengundang tanya, bagaimana bisa ?. Sungguh loncatan karir yang amat sangat jauh. Seharusnya memulai di theater mini IK. Bergabung sebagai member pecinta seni sejati, bukan hanya acting nangis. Tom Cruise saja bertolak dari opera sabun dan film cupu. Tapi memang harus begitulah karier. Belajar (mulai) dari hal kecil, merangkak dari bawah, hingga matang berdiri tegar di atas.

# JERITAN HATI ARTIS

“Antar saya ke Holiday Inn Pak !”.

“Baik Neng…”.

Di perjalanan, Pak Poer sesekali melirik ke arah Vanya yang terlihat murung. Ada senang tentu ada sedih. Saat berakting apalagi film di gelar bioskop, serasa diperhatikan seluruh mata Indonesia, menikmati ketenaran. Tapi ketika tubuh harus jadi pemuas nafsu binatang seluruh kalangan, tak ubahnya pelacur jalanan. Menerima hinaan dan pelecehan diranjang. Hal itulah yang buat Vanya murung, jeritan hati artis. Mobil berhenti tepat di pintu utama Hotel. Seorang satpam tegap berdiri di lobby sigap mendekat, siap membuka pintu untuk sang tamu.

“Ada yang mau diomongin Neng ?” tanya Pak Poer memecah suasana, karena Vanya tak jua beranjak dari bangku yang di-dudukinya.

“Engga Pak, gapapa…”, senang diperhatikan, Vanya tersenyum manis.

(Mati gue, musti cari WC sama sabun nih !), Pak Poer ngeres dalam hati.

“Nanti Vanya miskol kalo udah selesai yah…” pesan Vanya sebelum menuju ruang pembantaiannya. Mobil melaju cari tempat parkir, sebelumnya mampir ke kamar mandi untuk urusan tadi.

# PETUNJUK SI PEMERKOSA

Di parkiran, pikiran Pak Poer melayang bertanya-tanya. Apa yang dilakukan majikan kecilnya ? selalu berpindah-pindah lokasi penginapan tiap malam. Memang dia pernah dengar bahwa beberapa artis merupakan simpanan, bahkan lucunya acting jalin hubungan dengan artis juga seperti halnya Yuni Shara, wanita simpanan anggota *** itu. Saat berita mulai santer terdengar, beberapa hari kemudian langsung heboh gandeng Raffi Ahmad, sebar gosip tutupi “bangkai”. Pak Poer menghibur diri dengan tv mini di mobil ngemil kacang, guna melupakan hal tersebut.

“Pemirsa, kejahatan curanmor melalui media hipnotis tengah merajalela dewasa ini. Kebanyakan korban adalah tukang ojek malam, atau biasa disebut ojek kalong….bla bla bla bla bla”, suara penyiar berita.

“Waduh, musti hati-hati jaman sekarang nih…motor di kampung bisa hilang !” ujar Pak Poer mengomentari siaran, tak sadar bahwa motor yang dimiliki hanya Vespa butut thn “80-an.

Dia berpikir sesuatu, setan masuk ke otak, lantas mampir ke kios jual koran dan majalah yang masih buka.

“Jarang-jarang kios koran buka sampe malem Kang ?”.

“Iya nih, tutupnya nanti bareng warung sebelah istri sayah”.

“Oh gitu, kebetulan…saya lagi nyari majalah Misteri, ada ?”.

“Ada ini…kebetulan panglaris, hak haak”. Pak Poer ikut tertawa jelek barengan, seraya menyerahkan 20 ribu dari dompet. Penjual kios menerima uang dan memberi kembalian. Transaksi usai, dia kembali ke parkiran.

Dengan khusyuk Pak Poer membaca majalah yang berisi sebagian ilmu hitam tersebut. Tertarik pada tawaran dukun dengan metode transfer ilmu sekali bayar, tak perlu susah bertapa, apalagi cari tumbal. Setelah menemukan dukun yang lokasinya dekat, ternama pula, dia berencana datang esok hari. Pas Vanya miskol minta dijemput.

Besoknya minggu waktu jalan ke mall, Pak Poer minta izin keluar. Vanya meng-izinkan karena tahu akan lama menghabiskan waktu dengan nonton, shopping, salon serta lunch. Pak Poer langsung ngacir ke tempat praktek dukun, masuk dalam daftar antrian. Waktu berlalu cepat, gilirannya tiba. Dia menyibak tirai, masuk ke sebuah kamar penuh kepulan asap kemenyan dan dinding berpajangan kepala tengkorak.Cerpen Sex

“Punten Mbah…”.

“Masuk Cu, ayo duduk !”.

“Nuhun Mbah, omong-omong…itu ayam mau diapain ?” tanya Pak Poer seraya duduk bersila di depan Mbah dukun.

“Mau dipake” !”.

“PAKEEEE ??!”.

“Pake makan ! masa iya di-Anal, emang Mbah Animal sex. Ngeres bener Cucu, Ah !”.

“Maaf Mbah, bukan bermaksud itu !. Anu…sebelumnya, Mbah kok manggil cucu ? kita kan seumuran ?”.

“Udah prosedur Cuu, nanti ijin Mbah dicabut sama PDI !”.

“PDI, Partai politik Mbah ?”.

“Bukan Cu bukan…PDI itu, Persatuan Dukun Indonesiah”.

“Oo, yaa…ya”, Pak Poer mengangguk.

“Sok Cu, ada perlu apa datang kemari ?”.

“Anu Mbah, itu…anu…anuu…”, Pak Poer malu mengutarakan maksud.

“Kenapa ? ada apa sama anu Cucu ? gatel-gatel apa susah bangun ?”.

“Jah, bukan Mbah…kalo itu sih saya ke Mak Erot bukan ke Mbah !”. (Sial, gue dituduh raja singa sama lemah syahwat !), batin Pak Poer.

“Lantas, hajat Cucuku kesini apa ?”.

“Anu Mbah, sayaa…sayaaa, nafsu sama majikan saya Mbah !”.

“Oh itu toh, classic…ga usah malu Cuu, udah banyak nyang minta “ntu. Disini makanan sehari-harii…”.

“Iya Mbah, lain kali saya ga tau malu”.

“Jadi, majikannya mau dipelet gitu ?”.

“Bukan Mbah, jangan…saya ga berniat menguasai dia sepenuhnya”.

“Lho, niat mesum kok setengah-setengah Cu ?”.

“Majikan saya masih ABG Mbah…bukan IRT”.

“Hohoo, pinter bener kamu cari korban Cu…tau aja kalo jepitan ABG lebih liat. Cantik, kaya raya lagi ya ?”.

“Iya Mbah, artis pula”.

“Ah nyang beneer ? bagi-bagi atuh Cu…”.

(Yeee, ga beres nih dukun. Pake minta bagian segala, salah pilih nih !), batin Pak Poer lagi. “Mbah aja-aja ada ah, hehehe…”.

“Canda Cu…kalo cuman artis sih, Mbah juga sering nyicip”.

“Yang bo”ong aeh betul Mbah ?”.

“Bener Cu, artis sekarang pan saingan…jadi banyak nyang kesini minta aji pelet buat sutradara, produser atau pejabat guna mempertahankan status. Biar dipake terus main pilem, atau ga melet anak pejabat buat dikawin…kaya Nia Ramadhani”.

“Berarti, Nia Ramadhani second-an Mbah dong ?”.

“Ya he-eh lah, masa ya He-eh dong…Mbok Ijah maen dingdong. Yo wis, Cucu jadi mau belajar ilmu apah ?”.

“Anu Mbah, saya lihat di tv ada yang bisa hipnotis tukang ojek…terus nyuri motornya gitu”.

“Oo, Itu Ilmu penunduk tepuk bahu !”.

“Apa Mbah ? susah amat namanya…”.

“ILMU PENUNDUK BAHU DITEPUK Ah, bolot kamu Cu !”.

“Abis panjang amat, kirain Mbah ngelawak”.

“Itu ilmu keramat Cu, sudah ada sejak jaman Gajah duduk” jelas Mbah dukun sok.

“Gajah Mada kali Mbah, Gajah duduk mah merek sarung !”.

“Iya “ntu maksud Mbah” sahut Mbah dukun ngeles.

“Terus kalo keramat memang kenapa Mbah ?”.

“Mahal Cu harganya…Mbah ragu Cucu sanggup membayar”.

“Sabaraha Mbah ?”.

“5 Juta Cuu…”.

“Eleuh-eleuh, mahal pisan…bisa diangsur ga ?”.

“Yah, jadi tukang kredit lagi deh”.

“Ada juga Mbah yang ngutang ?”.

“Banyak Cu, gapapa deh…ada yang kontan ada yang ngutang. Nyang penting dapet pelanggan, daripada lari ke dukun lain…sayang pan ?”.

“Gimana system belajar sama bayarnya Mbah ?”.

“Kalo belajar sih hari ini kelar sejam, cuma transfer ilmu. Kalo bayarnya ya dibagi aja 12, bunga fix 9 % setahun…ikut KPR Bank. Transfer ke rekening atas nama Mbah Joko ta’ u-u. No rekening tanya resepsionis depan, Mas Penyok…nyang mukenye berantakan kayak mobil abis tabrakan” terang Mbah dukun asal jeplak.

“DP 1 Juta dulu boleh Mbah ?”.

“Boleh Cu boleh, yang ga boleh itu gratisan. Mbah santet nanti kalo ga bayar. Uangnya di depan aja sama Penyok yak, dia ngerangkep kasir korup !”.

Ahirnya, Pak Poer pun ditransfer ilmu oleh Mbah dukun. Selama proses pindah ilmu itu, dia di-wajibkan melotot terus menerus, tatapan tersebut untuk si korban hanyut ke alam bawah sadar. Selesai itu, Mbah dukun mengajari mantra pengembali kesadaran. Lantas memanggil Penyok sebagai kelinci percobaaan.

***

“Pareng Ndoro, ada yang bisa dibanting aeh dibantu ?”.

“Minta jus nanas buat tamu kita”.

“Baik “Ndoro, “Ndoro juga mau ?”.

“Untuk tamu saja, Mbah takut keputihan”. (emang lu awewe…), batin Pak Poer.

Saat pemuda bernama Penyok itu berbalik, Pak Poer menepuk bahunya, kontan Penyok menoleh. Pak Poer menatap tajam, mata bertemu mata, Penyok hilang kesadaran.

“Trus Mbah ?”.

“Ya udah, mau Cucu apain itu si Penyok…suruh apa kek, telanjang kek !”.

“Waduh, makasih Mbah liat laki telanjang…Nenek-nenek aja ogah. Oya Penyok…kamu, sekarang…banci kaleng, ayo tirukan banci di tv !”.

“Matamuu…Aah, li-rikan matamu jreng-jreng jreng-jreng AAAAHH !”, Penyok bergaya banci seperti iklan jangan lebay plis.

Pak Poer dan Mbah dukun tertawa ngakak nonton aksi lebay Penyok. Sekiranya cukup, Pak Poer mengucap mantra pengembali kesadaran yang tak lain plesetan lagu dangdut Alam berjudul “Mbah dukun”, “Adalah Mbah dukun…seneng ewe-in pa-sien-nyah Hak.. hak.. haak !”, dilanjut tepuk tangan sekali, Penyok pun tersadar.

“Hah, lho…ngapain saya disini ? kok saya bisa ada disini ?”, Penyok seperti lupa ingatan. Pak Poer senyum-senyum sendiri mirip orgil, di kepalanya terbayang meniduri si cantik, Vanya Jones. Pamit merangkul Penyok layaknya sahabat.kisah sex

kisah sex 2016, kisah sex terbaru, kisah sex, kisah seks 2016, kisah seks terbaru, kisah seks, Gelora birahi berita seks

“Yuk Mas, saya mau bayar jasa dukun. Nuhun Mbah…”.

“Monggo-monggo, silahken…”. Mbah juga tersenyum karena pelanggan puas, meskipun dia lemas.

Dari tempat praktek dukun cabul itu, Pak Poer tancap gas jemput Vanya di Mall tadi. Di perjalanan, dia membayangi Vanya bugil pasrah disodok dari belakang olehnya. Tertawa sendiri lupa kalau masih di jalan mobil melaju kencang.

“Ji hih…Ji hie heh heh…Ji hie heh heh heeeh heh heh, mati aku !”,

“Ckiiit !!!.” Mobil rem mendadak. Motor di depan hampir tertabrak, berhenti karena lampu merah. Pengendara Honda NSR 150 itu menoleh, marah dan memaki.

“Oi kampret, jangan ngelonjor kalo nyetir ! nabrak, gua kepret lu jadi tempe orek !”.

Jendela kaca mobil terbuka, kepala Pak Poer nongol.

“Maaf Om, maaf…ga lagi-lagi !”.

“Am-om-am-om, kapan gua kawin sama Tante lu !” omel si pengendara motor, kembali focus ke jalan.

***

Vanya terlihat berdiri di depan pintu keluar utama Mall, menanti kendaraan operasional ke-artisannya.

“Apartemen Kuningan, Tower 5 ya Pak !” suruh Vanya, kali ini ia duduk di bangku depan penumpang.

Mercy berplat nomer B 370 KU  itu pun melesat kencang. Menyusuri jalan HR. Rasuna Said, belok kiri setelah rumah sakit MMC sebelum Pasar Festival. Di perjalanan, Vanya sibuk dengan HP. Ia menekan tombol record video.

“Hai-hai…gua Vanya, artis yang lagi ngetop di Indonesia hehee. Ini supir gua…Pak Poer, Pak…nengok dunk !” rengek Vanya manja.

“Lagi nyetir Neng, nanti ketabrak ! Nah untung lampu merah”. Mobil berhenti, Pak Poer menoleh ke HP yang sedang mengarahnya dengan senyuman jelek. Vanya tertawa senang meng-abadikan itu, lalu kembali ber-narsis ria.

“Emang bisa ya Neng, HP buat ngerekam gitu ?”.

“Bisa duong, khan HP yang saya beliin juga bisa !”.

Pak Poer memasukan gigi di sela perbicangan, mobil kembali melaju.

“Bapak kira cuma bisa foto Neng”.

“Bisa kale…”. Pak Poer mengangguk-angguk, di otaknya timbul lagi sebuah ide jahat.

“Ckiit !,” mobil berhenti di muka Apartemen.

“Biasa ya Pak, nanti Vanya miskol”.

“Baik Neng…”.

Baru saja Vanya berbalik menghadap pintu mau keluar, bahu kanannya ditepuk. Refleks ia menoleh, BUZZZ…!!. Vanya hilang kesadaran, matanya menatap kosong, Pak Poer mengetes apakah Vanya sadar atau sudah kena hipnotis.

“Neng Vanya, ikut Bapak sebentar yuk ?”.

“Baik Pak !”, mendengar jawaban itu, mobil tancap gas ke parkiran apartemen yang sepi.

Dengan cekatan Pak Poer menon-aktif HP Vanya agar tak berdering, bisa membuyarkan hipnotis. Setelah mobil parkir dipojok, Pak Poer melempar pandangan kesamping. Seringai mesum tergores di wajah penuh lemaknya.

“Neng Vanya, ayo pindah ke belakang !”.

Vanya melakukan apa yang disuruh, patuh bagai boneka Barbie yang dimainkan sang pemilik.

“Buka seluruh pakaian Neng, dan kasihkan ke Bapak !”.

“Baik Pak !”.’

Vanya melepas pakaian satu demi satu dengan cepat. Pak Poer menarik turun reseleting, mengeluarkan titit, coli lihat Vanya bertelanjang dada. Putih…montok komen yang dapat terungkap, puting pink buatnya lengkap.

“Pelan-pelan atuh, Bapak kan mau nikmatin !” protes Pak Poer.

Vanya berhenti sejenak, lalu lanjut menelanjangi diri secara perlahan sesuai perintah. Kaki putih jenjang terpamer indah waktu Vanya meloloskan celana, Pak Poer mengocok makin cepat melihat pemandangan menggiurkan di depan mata. Nafasnya senin kamis di Bra yang sedang dihirup wanginya. Nafas itu mendadak mirip orang Asma, beritaseks.com tatkala Vanya menanggalkan celdam putih polos ber-pita-nya. PaK Poer mendekat, jongkok di depan Vanya persis yang sedang duduk telanjang mengundang.

“Buka lebar-lebar Neng, ayo !”. Vanya mengangguk, melingkarkan tangan ke belakang paha, menahan agar terkangkang lebar. Mata Pak Poer ingin loncat keluar dari tempat-nya, memandang penuh birahi. Hidungnya kembang kempis mengendus seperti kucing mencium bau daging.

“Wangi banget memeknya Neng, Mmm nyam-mm…cep-cep, Muach…Cuup, Aaaaaaah akhirnya kesampean ngemut dodol impian”.

Selesai ocehan, Pak Poer melanjuti jilatan di bibir vagina, naik-turun-naik bagai tukang bangunan mengayun kuasnya. Vanya mendesis desah dibuat lidah kesat itu, lantaran menggelitik dan mencelup bagian terdalam liang. Pinggul indahnya terangkat, buat wajah Pak Poer si pengemut kian terbenam. Adegan itu di-abadikan di HP, kamera di-focus ke prosesi jilmek. Hingga terlihat detail vagina yang di tumbuhi bulu-bulu halus tipis, menandakan bahwa Vanya masih remaja dan beruntunglah pria yang mencicipinya. Tak tahan dengan geliat tubuh polos Vanya, Pak Poer berlutut di jok. Mendekatkan penis gemuknya yang menyembul dari lubang reseleting celana ke vagina Vanya. Vanya sama sekali tidak protes maupun berontak karena masih di bawah pengaruh hipnotis.

“Tuntun peler Bapak, ayo !” suruh Pak Poer, merasa kerepotan karena tangan satunya memegang HP rekam adegan.

Tangan Vanya meraih batang gemuk menjijikkan di depannya, batang itu berkedut disentuh tangan selembut sutra. Pak Poer merentang bibir kemaluan dengan sisa tangan. Batangnya berusaha menerobos masuk, sulit karena ukuran XL ke vagina yang size-nya SS. Pak Poer melumuri kepala penis dengan ludah, agar penetrasi berjalan lancar. Dua lenguhan pun terdengar, hasil dari vagina yang terbelah. Pak Poer memberikan HP ke Vanya agar ia yang mengshot persetubuhan. Kedua tangan gempalnya kini bebas menangkap betis untuk direntang sejauh mungkin seperti huruf V. Sementara Vanya megap-megap mem-focus pelebaran liangnya sendiri. Hanya bisa mengiba melalui tatapan yang bermakna agar penis jangan dipaksa masuk semua karena tubuh serasa dibelah dua. Vanya meringis meski di bawah pengaruh hipnotis, Pak Poer bernafsu terus menjejalkan penis. Ia merasa penuh saat seluruh batang menancap ketat, wajah orang tua itu langsung “bego !” keenakan.

“Ooooohh…liat ! Memek, artis, emang…bedah !” celotehnya.

Tanpa memberi kesempatan bagi Vanya untuk menyesuaikan diri lebih lama, Pak Poer bergerak brutal mencari ejakulasi. Desahan Vanya seirama dengan hentakan-hentakan di tubuh mungilnya. Pak Poer turun dari berlutut, berdiri tegak di lantai mobil. Kepalanya tidak terantuk atap karena tinggi badan semampai (se-meter tak sampai). Dengan posisi ini, pantat Vanya terangkat. Telapak tangan Vanya menggebrak-gebrak jok, memelas pada kenikmatan yang dihantar melalui sodokan. beritaseks.com Liang berlendir meramaikan penetrasi berbunyi kecipak. Pinggul Vanya bergoyang menyambut sodokan, mengaduk liangnya sendiri. Pria setua Pak Poer tak tahan melihat keindahan liuk tubuh dihadapannya, ditambah jepitan legit memek yang mengocok batang. Wajah mereka berdua kian memerah, menanti ledakan di bagian bawah. Pak Poer lebih dulu kalah, angkat tangan pada memek enak Vanya. Dia menggemeratakan giginya dan menggeram bagai kerbau jantan, CROOT !!. Vanya merasa ngilu di liang, akibat sperma yang menembak kencang. Ia menyusul orgasme selang berapa detik, beritaseks.com  tubuhnya menggigil, menggigit jari telunjuk di tangan yang merengkuh HP. Tubuh mereka merapat menikmati klimaks, peluh bercucuran melekat jadi satu.

Pak Poer mencabut penis setelah dirasa tak ada lagi mani yang keluar. Senyum penuh kepuasan tergores di wajahnya. Merebut kembali HP untuk memfocus vagina yang porak poranda belepotan sperma, terakhir meng-shot wajah sayu kemayu Vanya. Sekiranya cukup, ia memerintah Vanya untuk kembali berpakaian. Dia pun berbuat sama, lalu pindah ke depan. Mengemudikan mobil kembali ke muka Apartemen, meng-aktifkan HP Vanya dan membaca mantra pengembali kesadaran. Bola mata Vanya yang tadinya kaku bagai boneka, kini mulai bergeser. Ia merasa aneh pada keadaan tubuh, linu… dan berkeringat ? lantas meregang…

“Hem.Aaaaaah, lho ? ngapain saya disini ? kok Vanya bisa ada disini Pak ?” tanya Vanya setelah kesadaran berangsur pulih. Pak Poer tersenyum tanpa dosa dan berkata.

“Neng kan minta dianter kesini, Kuningan Tower…lupa ya ketiduran ?”.

“Kuningan…? Kuning”, TINUUTT !! HP menyala, ada sebuah SMS pending karena tadi HPnya mati.

Mata Vanya terbelalak membaca pesan,

“Vanya lu dimana ? Pak Irsyad udah nunggu dari tadi ! mau kena penalty ?”, begitu isi pesan berupa ancaman itu. Vanya panik buru-buru keluar mobil. Pak Poer tertawa menang di dalam mobil menuju parkiran, yang pasti dia puas merasakan vagina Vanya meski baru sekali.

Vanya menekan tombol di pintu lift seperti orang ling-lung. Disela kepanikan, ia merasa ada sesuatu di selangkangan yang buatnya tak nyaman, sesuatu berupa cairan. Ia berfikir, apakah mens di luar jadwal ? Mungkin saja sebagai wanita mengalami hal itu. Lantas ia mampir ke kamar mandi untuk cek “n ricek.

(Sperma ?!. Sperma siapa…?), arti pandangan mata Vanya ke vaginanya.

Sedang ia merasa belum bersetubuh, dari tadi seharian di jalan sama Pak Poer. Tapi…? kok bisa…?. Bingung dan paniknya terpotong panggilan masuk HP.

“Iya Mbak maaf…aku lagi di kamar mandi sakit peruut, maaf !”, Vanya meneteskan air mata karena orang yang menelponnya seakan tak mau mengerti, terus merocos dengan kata-kata menyakitkan hati. Vanya melipat HP setelah omelan reda, buru-buru meraih sabun kewanitaan untuk bilas bersih vagina. Lalu pergi ke kamar dimana ada pejabat yang sudah mem-bookingnya.

# MORE AND MORE

Pak Poer ketagihan, pulang dari situ kembali mengerjai Vanya tahu majikan tak ada di rumah pergi keluar negeri. Setelah mobil masuk garasi, pembantu balik ke kamar, bahu Vanya ditepuk sebelum masuk kamar, langsung digarap di tempat. Untuk yang kedua kali Vanya terbangun dengan mani belepotan di memek. Kali ini parahnya di kamar sendiri, sprei acak-acakan, aroma persetubuhan menyengat. Ia semakin bertanda tanya, tak mengerti apa yang terjadi. Seandainya Vanya tahu, tadi ia ditindih supirnya sendiri. Ditumbuk gila-gilaan, dikentot habis-habisan secara brutal dan membabi buta. Sedikit demi sedikit, Vanya curiga dengan Pak Poer, satu-satunya pria di rumah. Sayang tak punya bukti cukup untuk menuding. Pak Poer tertawa gila di belakang, tahu Vanya curiga namun tak bisa tunjuk hidung. Meski tak menjamin bukti dapat menolong, masih ada hal lain. Pak Poer semakin lancang mengerjai Vanya. Suatu ketika Vanya lagi nonton tv di ruang tamu.

Pembantu belanja, ortunya pergi bisnis keluar kota. Pak Poer menghampiri ikut nonton duduk bersimpuh di lantai. Saat Vanya hendak balik ke kamar, ia beraksi kembali dengan hipnotis. Pakaian Vanya dilucuti hingga bugil, mengajak ber-doggy style di sofa, lampiaskan seluruh nafsu yang ada. Sampai puas muncrat, barulah dia mengucap mantra dan keluar mematai lewat jendela. Vanya kembali bingung, lagi dan lagi terbangun bugil dengan tubuh mandi keringat dan vagina menganga penuh sperma, tawa Pak Poer pun membahana di belakang Vanya.

***

Di kamar, Vanya merenungi semua keanehan yang terjadi. Ia yakin bahwa Pak Poer-lah dalang kejahatan seks, pemilik sperma yang selalu menggenangi kewanitaannya. Setiap kejadian pasti ada dia, dan terjadi saat rumah sepi atau berduaan dimanapun. Vanya memutar otak, bagaimana cara agar masalah terpecahkan. Ia pun menyiapkan sebuah alat, perangkat untuk merekam. Pergi berendam air hangat di bath tub sejenak untuk hilangkan noda dan penat tubuh, lantas turun ke bawah memancing tertuduh. Mata Vanya terbelalak, kaget melihat pria tua yang dicarinya sedang menghirup celdam yang tak lain adalah miliknya. Tadi memang saat ia lari ke kamar tanpa celdam, tapi… bagaimana bisa ada di Pak Poer ?.

“Pak, jangan Pak ! kesiniin itu !” pinta Vanya malu, pipi merona melihat celdam miliknya dicium orang.

“Oo, ini punya Neng Vanya yah ?”, tua bangka itu sengaja bertanya dengan mimik mesum.

“Bu-bukan…punya..Mamah…”.

“Oo, punya Nyonya…saya kira punya siapa, kok baunya kenal hehe”, Pak Poer lancang, berkata itu sambil menatap sekitar kemaluan Vanya.

“Ngaco ah Pak…”, Vanya membalik badan, jalan cepat ke kamarnya di atas.

Tepat di depan pintu kamar, Pak Poer memulai aksi tepuk bahu. Seperti biasa, Vanya menoleh dan terhipnotis. Merasa Vanya telah kena, dengan santai melucuti celana pendek ketat berikut celdamnya. Ia menempelkan hidung peseknya ke vagina Vanya.

“Hhmmhhh…nah kan apa Bapak bilang, baunya kenal Ji hie heh heh. Hmmhh Cuup cup Nyam.emmMuach…leeph, Shrrrp !”. Pak Poer langsung menjilat rakus memek Vanya, dilanjut dengan standing penetration.Cerpen Sex

Vanya disandarkan ke pintu kamar, digenjot berhadap-hadapan. Hingga bunyi grasak grusuk pintu terdengar rusuh. Terutama saat menyodok keras, suara benturan antara pantat Vanya dengan pintu

“Plok-plok-plok-plok !”, terdengar menggairahkan bagai musik di telinga. Memberikan efek positif bagi Pak Poer semakin kesurupan ngentot. Kenikmatan pun harus berakhir ketika mani tersembur keluar. Pak Poer menjejalkan penis dalam-dalam sampai Vanya mencakar pundaknya, Vanya kelojotan liang sempitnya dipaksa menelan batang gemuk yang lagi enak muncrat-muncrat cairan kental. Pak Poer menikmati itu sambil menatap wajah cantik Indo Vanya, menambah lezat ejakulasinya.

# OVER AND OVER AGAIN

Puas dan berhenti sampai situ ? tentu tidak bagi penyuka vagina gadis muda macam Pak Poer, pria berumur tanpa Istri. Ia menggiring Vanya masuk ke dalam. Memerintahkan Vanya nungging di pinggir ranjang, lalu menampari pantatnya hingga pantat putih salju itu bilur-bilur kemerahan. Plaak !!, Plaakk !!, Plakk !!, Plak !!. Penis kembali konak, Pak Poer segera menempatkan diri di belakang men-doggy Vanya. Adegan itu terekam, di-record oleh laptop yang dinyalakan Vanya sebelumnya. Laptop yang ada di meja rias tepat disamping mereka. Setelah menggarap dan keluar sebanyak 2 kali lagi, baru Pak Poer puas. Meninggalkan Vanya yang nungging di pinggir ranjang dengan memek penuh peju. Tamparan kecil di pantat sebagai salam perpisahan bagi Vanya yang mengatakan bahwa memeknya enak. Di pintu, Pak Poer mengucap mantra sebelum berlalu pergi. Vanya tersadar dalam keadaan nungging, telanjang bulat serta vagina penuh sperma.

Ia bangun melihat keadaan diri, (Ada apa dengan diri ini…? Apa yang baru saja terjadi ?), batinnya, seraya menggeleng kepala. (TIDAAAAAAAAAKKK…!!!).

***

Vanya keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri tak lama. Pikirannya terus ter-ngiang-ngiang pada keganjilan yang terjadi di rumah, khususnya pada dirinya. Ia melihat laptop masih menyala saat mengeringkan rambut. Waktu menggoyang mouse, ternyata record masih berjalan, dan ada peringatan bahwa free space tinggal sedikit. Vanya cepat-cepat menyetop, lalu memutar apa yang direkam karena lupa. BRAAK !!, Hair dryer jatuh terlepas. Vanya melihat dirinya disetubuhi supirnya, Pak Poer. Ia menonton adegan demi adegan dengan rasa tak percaya. Melihat dirinya patuh, menikmati tubuhnya dimasuki berulang kali. Ditindih, digendong, disodok dengan berbagai macam gaya dan cara yang parahnya di kamar tidur pribadi.

(Ga Mungkin…!!! GA MUNGKIIIIIIIIIIIIIIINNN !!!), Vanya berteriak dalam hati seraya menggeleng kepala dan menjambak rambutnya.

***

Masih memakai kimono duduk di tempat tidur. Vanya berteriak, “Pak Khoiiir…sini !”, panggilnya ber-nada keras.

“Ya Neng…” sahut Pak Poer, bergegas menaiki anak tangga. Sesampainya, dia melihat wajah Vanya seperti ingin membahas masalah diantara mereka. Pak Poer hanya tertawa dalam hati karena sudah siap.

“Ada apa Neng ?”.

“Niih, lihat baik-baik !” bentak Vanya, memutar hasil rekaman di laptop.

Pak Poer sedikit terperanjat melihatnya, tak menduga Vanya cukup pintar menyiapkan rekaman di kala tak sadar. Namun ia kembali tenang, malah tertawa lebar kemudian.

“Kenapa ketawa ? Bapak tahu ga apa yang Bapak lakukan ? Bapak udah ngecewain saya, terlebih melanggar hukum…bisa saya tuntut tahu ! Apalagi kalau Papi Mami tahu…bisa abis Bapak !” ujar Vanya ketus.

“Makanya kan Bapak bilang waktu itu, kancut tempo hari kaya kenal bau memeknya, ga salah dong Ji hie heh heh”.

“Bapak ga waras ya ? jadi selama ini saya disupiri sama orang gila !”.

“Tepatnya tergila-gila sama memek Neng Ji hie heh heh, lagi Neng juga suka kok Bapak ewe…tuh lihat aja di video” sahut Pak Poer mengejek, pipi Vanya sempat merona disela kemarahan, karena hal tersebut memang benar adanya.

“Awas aku telpon Mami…” ancam Vanya.

“Sok aja Neng, sekalian kasih tahu ini juga”, Pak Poer mengeluarkan HP-nya dari saku baju.

“Apa maksud Bapak ?”. Pak Poer menekan sebuah tombol dan memperlihatkan layar ke Vanya.

“Non, ngapain sih…suka ke hotel atau Apartemen pindah-pindah tiap malem ?”, suara Pak Poer di HP, Vanya melihat di layar Pak Poer mengajak dirinya bicara padahal ia sedang memejamkan mata seperti orang tidur.

“Vanya dan banyak teman artis, harus melayani nafsu pejabat yang booking, karena…ada perjanjian tertulis dengan Manajemen artis kalau Vanya mau eksis di dunia acting”, Vanya kaget setengah mati mendengar dan melihat ia bicara seperti itu dengan mata terpejam.

Jantung berdegup keras, ia tak menyangka hal ini terjadi, dan bagaimana Pak Poer bisa membuatnya buka mulut. Tambahan Pak Poer memutar beberapa adegan yang hanya terlihat Vanya dan sebuah penis, tanpa terlihat wajah si pria, sebuah aib untuk dirinya. Tenggorokan Vanya terasa kering tak mampu berucap kata. Klik !, Pak Poer mematikan rekaman, mendekati Vanya dengan senyum mesum penuh kemenangan, Vanya beringsut mundur di kasur.

“Naah, kalo rekaman Neng ga mau Bapak sebar ke masyarakat luas…yah, Bapak sebagai supir cuma minta pengertian Neng selaku majikan untuk memanjakan ini Ji hie heh heh”, Pak Poer membuka reseleting dan menunjukkan penisnya.

Vanya menggeleng kepala karena sudah ada di ujung sisi ranjang, “Jangan Pak Khoiiir, jangaaan…” iba Vanya, saat Pak Poer naik ke tempat tidur makin mendekat.

“Pok amek – amek, belalang kupu-kupu…Bapak dapet memek, Neng Vanya dapet peju, Ji hih, ji hih, ji hie heh heh heeeeh…heh heh heh heh”.

“JANGAAAAAAAAAAAAAAANNNN !!!”.

Mulai detik itu, Vanya pasrah ditiduri Pak Poer, asal rahasia menjadi artis tenar tidak bocor. Hari itu bagai neraka bagi Vanya, dimana dia dientot gila-gilaan dalam keadaan sadar sampai pingsan. Terbangun, memeknya serasa bega (lebar), waktu dilihat penuh cairan putih kental dimana ada Pak Poer tertidur pulas berwajah puas disisinya. Hubungan seks paksaan itu berlanjut hingga detik ini, tak heran Vanya diam tak melawan saat Pak Poer sang supir mempecundanginya. Menjadi budak seks akibat kejahatan ilmu hipnotis, HYPNOTIZED !.

“NNGGHH…NNGGHH…PAK KHOIIIIIIIR.AAAAAAAAHHHH…!”. Vanya orgasme oleh permainan mulut Pak Poer.

Pinggulnya terangkat dan tubuh mengejat-ngejat, mata mendelik sisakan putih dengan pangkal paha mengapit kepala penyeruput vaginanya, Pak Poer. Ia tertawa cekikikan meski rambut keriting tak terurusnya dijambak Vanya keras, rasa bangga mengalahkan rasa sakit. Dijilatinya semua cairan yang dicurahkan vagina. Klakson mobil dibelakang terdengar ruih karena lampu beralih hijau. Vanya yang sedang menikmati orgasme tak ambil peduli, apalagi Pak Poer. Dua mobil yang antri dibelakang terpaksa menyalib sambil gerutu, mereka berjalan pelan membuka kaca jendela untuk memaki,

“Ijo Oi, kalo mau ngentot jangan di jalan !”, teriak salah seorang pengemudi. Vanya menutupi wajahnya agar tak terlihat.

“Ji hie heh heh, memek Neng Vanya emang enak pisaan…udah wangi, manis lagi” celoteh Pak Poer seraya menjilat sisa-sisa cairan surga Vanya di jarinya, sama sekali mengacuhi protes pengendara mobil lainnya.

Mobil kembali melaju perlahan masuk ke sebuah tol. Vanya hanya mampu menatap sayu saat Pak Poer menarik turun reseleting, menunjukkan batang gemuknya yang sudah siap ke tahap berikut.

“Ayo Neng diisep-isep yang enak, anggep aja es mambo” kata Pak Poer dengan seringai mesum, menuntun kepala Vanya menuju penis.

Hidung mencium aroma tak sedap dari situ. Vanya terpaksa memberikan oral seks meski mual dirasa. Penis Pak Poer berkedut-kedut, enak dimanja mulut Vanya. Jari tangannya menelusup ke dalam rok, mengobok-obok body berkulit mulus. Pemain film Bukan Cinta Biasa itu berdehem disela sepongan, menikmati gerayangan jari-jari gemuk.

“Ooh…cukup Neng, cukup…ntar keburu keluar, ayo naik kesini !”, Pak Poer menunjuk penisnya.

Dengan nafas menderu karena terpancing nafsu, Vanya menurut. Tanpa malu lagi bahkan menuntun penis memasuki kewanitaannya. Pak Poer melepas pegangan setir, merentang lebar bibir vagina. Tangan Vanya sebelah merangkul leher, sebelah mengarahkan penis.

Blees…!, Vanya merintih nikmat, liangnya terasa penuh.

Nafas Pak Poer pun bagai orang tersedak, sesak nafas lantaran jepitan vagina super liat. Untung saat itu kendaraan yang melintas sedikit, jadi tak ada yang memperhatikan kalau mobil berjalan ajrut-ajrutan. Pak Poer meremas pantat Vanya dan menekannya ke bawah. Batang penis pun semakin dalam tertanam, makin keraslah desahan Vanya berikut lenguhannya. Jalan mobil zig zag waktu penis menancap ketat, karena supir sedang sibuk meresapi kenikmatan dengan liur berhamburan menjijikkan.

“Ayo Neeeng.gh…digoyangkh !”.

Vanya melingkarkan tangan kebelakang leher Pak Poer, mengangkat pantatnya tinggi-tinggi. Jepitan vagina beralih dari pangkal ke leher penis dengan susah payah lantaran penis gemuk. Sesampainya di atas, Vanya menumbuk ke bawah buat vaginanya kembali tersumpal batang gemuk dan mengerang.

“AANNGHH…!”.erangan itu tidak satu atau dua kali, melainkan berulang kali.

Vanya itu terjebak dalam lingkaran birahi supir pribadi. Sesekali Vanya menjerit histeris luapkan emosi, menumbukan vagina dalam-dalam. Wajah amburadul Pak Poer tersenyum bahagia, hingusnya meleler. Vanya tak sadar, bahwa yang ia lakukan adalah menjebolkan liangnya sendiri.

“Neeng, enggh…nengok…kebelakang !”, Vanya tak mengerti apa maksud tua bangka itu, dengan sisa tenaga ia memalingkan wajah sayunya.

AAAARGH !!!, gerbang tol terlihat.

Vanya mengamuk brutal, takut adegannya kelihatan orang. Ia mengangkat pantat tinggi-tinggi, penis hampir terlepas. Pak Poer meremas dan menekan pantat Vanya ke bawah, penis pun kembali tertanam. ZLEB !.

“NNG.AAAAAHHH !! desah Vanya keras. Ia mencakar pundak Pak Poer, berpegangan hendak bangun mencoba kabur untuk yang kedua kali. “Mau kemana, Oookh !”, lenguh Pak Poer, waktu penis berdiameter lebarnya kembali terselimut vagina Vanya yang legit nan sempit. Lidah Vanya terjulur keluar, larangan itu malah berbuah kenikmatan terhadapnya.

“Lepas..AAAAHH…Sssh”. Adegan itu terus terepetisi, liur dan ingus Pak Poer semakin meleler tak karuan. Vanya tak punya pilihan, pos penjaga sudah terlihat meski mobil melaju pelan. Ia mengangkat pantat lebih tinggi dari sebelum-sebelumnya, lalu dengan gerak cepat menumbuk ke bawah. Vanya melakukan itu berulang kali seraya berteriak histeris, berlaku seperti pelacur memuaskan pelanggan. Naik turun dengan gencar agar sperma keluar. Pak Poer menyeringai di sela lenguhan berat, hajatnya buat Vanya mengerti akan tugas sebagai budak seks berhasil, ia sukses memutar balik keadaan. Majikan kecilnya menjadi budak, dia yang kacung menjadi tuan.

“CEPET PAAK…CEPET MUNCRATIN, HEH-HEH…INI VAGINA VANYA PAK, VANYA KASIIH ! VAGI.AAAAANGH…CEPET-CEPET-MUNCRAT, CEPEEEEET !!”. Vanya meracau lantaran kalut bukan main, kepalanya sesekali menoleh kebelakang, ingin tahu seberapa jauh lagi jarak mobil ke pintu tol. Penis Pak Poer sudah demikian mengkilap akibat lendir cinta yang tercurah dari liang vagina.

“IYAH-IYAAAH, YES…YESH…AAAAHHH…HHH !!”, Vanya orgasme dan berhenti sejenak, lupa pada kewajiban. Bukan itu yang harus dia cari dan tuju, ejakulasi Pak Poer agar terlepas dari derita birahi. Ia kembali panik dan menumbuk lagi saat terdengar bunyi pedal gas diinjak Pak Poer, yang sebenarnya hanya untuk menakut-nakuti Vanya.

Aroma persetubuhan semakin tajam tercium hidung, wajah satu merem melek keenakan serasa terbang ke nirwana, yang satunya panik bukan main. Beberapa kali penis meleset keluar karena licinnya liang. Namun Vanya cekatan menggenggam batang tersebut, dan kembali melesakkan ke vaginanya, tentu teriring lenguhan nikmat mereka berdua.

Vanya panik, jarak kini hanya tinggal 9 meter..7 meter..5 meter,

“KE.. LU.. AR…KE.. LU..AAARH !” Vanya menumbuk dalam di setiap kata, terkandung harapan ejakulasi pemerkosanya.

“HENNGKH !!!”. Pak Poer me-rem kendaraan sambil menggeram.

CROOOOOTTT !!! CROT, CROOTT !!!, meledaklah sperma. CROT CROOOTTT !!.

Pinggul Vanya melekat ketat beradu dengan pinggul Pak Poer, goyang berputar-putar mengaduk liangnya sendiri dan mendesah seksi.

“HEEEEHHH…HEEEHHHH !”. Goyangan itu berhenti saat penis mengeluarkan tetes mani yang terakhir. Perlahan Vanya menoleh karena mendengar suara jendela mobil berderit, disamping ingin tahu keadaan dan dimana posisi mobil, apakah jauh atau dekat dengan pos pintu tol.

“Kyaaaa…!”, Vanya memalingkan wajah cepat-cepat, ia mencakar dan memukul-mukul lengan Pak Poer meski masih lemas. Panik lantaran sempat bertukar pandang dengan pemuda tampan penjaga pintu tol, yang rupanya Pak Poer membuka jendela tadi untuk mengembalikan kartu plus bayar uang tol.

“Kenapa Mas…?” tanya Pak Poer dengan wajah tak berdosa kepada si penjaga tol.

“A-anu…ga-ga boleh khan…du-duduk berdua…di depan ?”.

“Oo, ini…anak saya lagi sakit, jadi lagi manja-manjanya *Plak !* Ji hie heh heh” jelas Pak Poer sambil mengusap rambut Vanya serasa anak, dan menampar kecil pantatnya.

Si penjaga tol hanya mengangguk dengan wajah tak percaya. Mana mungkin anak gadis berkulit putih salju serta rambut pirang kemerahan bagai orang Eropa, punya Ayah buruk rupa gemuk tak terawat ? Apalagi tadi dia sempat melihat si anak gadis cantik bagai dewi turun dari khayangan. Hil ya mustahal. Mobil berjalan, melibas debu-debu yang beterbangan, hilang dalam gelap dan keheningan malam. Gelapnya kehidupan artis di balik topeng ketenaran, sembunyi dalam kemunafikan. Behind the Mask of Celebrity…

Sekelumit cerita fiktif yang diangkat untuk kesenangan semata…. bila ada kesamaan nama tokoh hanya kebetulan semata…

cerita dewasa 2016, cerita dewasa terbaru, cerita dewasa, cerita mesum 2016, cerita mesum terbaru, cerita mesum,

cerita sex terbaru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.