Vimax cerita ngentot
Breaking News

Gairah Sex Yang Terpendam

Vimax Cerita Seks ABGQQ Bandar Q, Poker, Domino, dan Sakong Online Terpercaya
Beritaseks.com adalah blog dewasa yang berisi cerita telanjang 2016,cerita telanjang terupdate,cerita
telanjang terbaru,cerita telanjang,
Gunawan, seorang bujangan berumur 28 tahun yang saat ini
sedang kebingungan. Pasalnya, panggilan pekerjaan dari sebuah perusahaan dimana
dia melamar begitu mendadak. Dia bingung bagaimana harus mencari tempat tinggal
secepat ini. Perusahaan dimana dia melamar terletak di luar kota, jangka waktu
panggilan itu selama empat hari, dimana dia harus melakukan tes Wawancara.
Akhirnya dia memaksa berangkat besoknya, dengan tujuan
penginapanlah dimana dia harus tinggal. Dengan bekal yang cukup malah berlebih
mungkin, sampailah dia di penginapan dimana perusahaan yang dia lamar terletak
di kota itu juga.
Sudah dua hari ini dia tinggal di penginapan itu, selama ini
dia sudah mepersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan guna kelancaran dalam tes
Wawancara nanti. Sampai pada akhirnya, dia membaca di surat kabar, bahwa disitu
tertulis menerima kos-kosan atau tempat tinggal yang permanen. Kemudian dengan
bergegas dia mendatangi alamat tersebut. Sampai pada akhirnya, sampailah dia di
depan pintu rumah yang dimaksud itu.
Perlahan ia mengetuk pintu, tidak lama kemudian terdengar
suara kunci terbuka diikuti dengan seorang wanita tua yang muncul.
“Iya, ada perlu apa, Pak..?”
“Oh, begini.., tadi saya membaca surat kabar, disitu
tertulis bahwa di rumah ini menyediakan kamar untuk tempat tinggal.” sahut Gunawan
seketika.
“Oh, ya, memang benar, silakan masuk Pak, biar saya
memanggil nyonya dulu,” wanita tua itu mempersilakan Gunawan masuk.
“Hm.., baik, terima kasih.”
Sejenak kemudian Gunawan sudah duduk di kursi ruang tamu.
Terlihat sekali keadaan ruang tamu yang sejuk dan asri. Gunawan
memperhatikan sambil melamun. Tiba-tiba Gunawan dikejutkan oleh suara wanita
yang masuk ke ruang tamu.
“Selamat siang, ada yang perlu saya bantu..?”
Terhenyak Gunawan dibuatnya, di depan dia sekarang berdiri
seorang wanita yang boleh dikatakan belum terlalu tua, umurnya sekitar 40
tahunan, cantik, anggun dan berwibawa.
“Oh.., eh.. selamat siang,” Gunawan tergagap kemudian dia
melanjutkan, “Begini Bu..”
“Panggil saya Bu Nindya..,” tukas wanita itu menyahut.
“Hm.., o ya, Bu Nindya, tadi saya membaca surat kabar yang
tertulis bahwa disini ada kamar untuk disewakan.”
“Oh, ya. Hm.., siapa nama anda..?”
“Gunawan Bu,” sahut Gunawan seketika.
“Memang benar disini ada kamar disewakan, perlu diketahui
oleh Nak Gunawan bahwa di rumah ini hanya ada tiga orang, yaitu, saya, anak
saya yang masih SMA dan pembantu wanita yang tadi bicara sama Nak Gunawan, kami
memang menyediakan satu kamar kosong untuk disewakan, selain agar kamar itu
tidak kotor juga rumah ini biar tambah ramai penghuninya.”
dengan singkat namun langsung ke intinya Bu Nindya
menjelaskan semuanya.
“Hm, suami Ibu..?” tanya Gunawan singkat.
“Oh ya, saya dan suami saya sudah bercerai satu tahun yang
lalu,” jawab Bu Nindya singkat.
“Ooo, begitu ya, untuk biayanya, berapa sewanya..?” tanya Gunawan
kemudian.
“Hm, begini, Nak Gunawan mau mengambil berapa bulan, biaya
sewa sebulannya tujuh puluh ribu rupiah,” jawab Bu Nindya menerangkan.
“Baiklah Bu Nindya, saya akan mengambil sewa untuk enam
bulan,” kata Gunawan.
“Oke, tunggu sebentar, Ibu akan mengambil kwitansinya.”
Akhirnya setelah mengemasi barang-barang di penginapan,
tinggallah Gunawan disitu dengan Bu Nindya, Ida anak Bu Nindya dan Bik Inah
pembantu Bu Nindya.
Sudah satu bulan ini Gunawan tinggal sambil menunggu
panggilan selanjutnya. Dan sudah satu bulan ini pula Gunawan punya keinginan
yang aneh terhadap Bu Nindya. Wanita yang anggun, cantik dan berwibawa yang
cukup lama hidup sendirian.beritaseks.com Gunawan tidak dapat membayangkan
bagaimana mungkin wanita yang masih kelihatan muda dari segi fisiknya itu dapat
betah hidup sendirian. Bagaimana Bu Nindya menyalurkan hasrat seksualnya. Ingin
sekali Gunawan bercinta dengan Bu Nindya. Apalagi sering Gunawan melihat Bu Nindya
memakai daster tipis yang menampilkan lekuk-lekuk tubuhnya yang masih kelihatan
kencang dan indah. Ingin sekali Gunawan menyentuhnya.
“Aku harus bisa mendapatkannya..!” gumam Gunawan suatu saat.
“Saya harus mencari cara,” gumamnya lagi.

Cerita Sex Terbaru
cerita panas 2016,cerita panas terupdate,cerita panas terbaru,cerita panas,cerita syur 2016,cerita syur terupdate,cerita syur terbaru,cerita syur,
Kisah Sex Terbaru
Sampai pada suatu saat, pada satu malam Minggu, rumah
kelihatan sepi, maklum saja, Ida anak Bu Nindya tidur di tempat neneknya, Bik Inah
balik ke kampung selama dua hari, katanya ada anaknya yang sakit. Tinggallah Gunawan
dan Bu Nindya sendirian di rumah. Tapi Gunawan sudah mempersiapkan cara
bagaimana melampiaskan hasratnya terhadap Bu Nindya. Lama Gunawan di kamar, jam
menunjukkan pukul delapan malam, dia melihat Bu Nindya menonton TV di ruang
tengah sendirian. Akhirnya setelah mantap, Gunawan pun keluar dari kamarnya
menuju ke ruang tengah.
“Selamat malam, Bu, boleh saya temani..?” sejenak Gunawan
berbasa-basi.
“Oh, silakan Nak Gunawan..,” mempersilakan Bu Nindya kepada Gunawan.
“Ngomong-ngomong, tidak keluar nih Nak Gunawan, malam Minggu
loh, masa di rumah terus, apa tidak bosan..?” tanya Bu Nindya kemudian.
“Ah, nggak Bu, lagian keluar kemana, biasanya juga malam
Minggu di rumah saja,” jawab Gunawan sekenanya.
Lama mereka berdua terdiam sambil menikmati acara TV.
“Oh, ya, Bu, boleh saya buatkan minum..?” tanya Gunawan
tiba-tiba.
“Lho, tidak usah Nak Gunawan, kok repot-repot..,”
“Ah, nggak apa-apa, sekali-kali saya yang buatkan minuman
untuk Ibu, masak Ibu dan Bik Inah saja yang selalu membuatkan minuman untuk
saya.”
“Hm.., boleh kalau begitu, Ibu ingin minum teh saja,” kata
Bu Nindya sambil tersenyum.
“Baiklah Bu, kalau begitu tunggu sebentar.” segera Gunawan
bergegas ke dapur.
Tidak lama kemudian Gunawan sudah kembali sambil membawa
nampan berisi dua teh dan sedikit makanan kecil di piring.
“Silakan Bu, diminum, mumpung masih hangat..!”
“Terima kasih, Nak Gunawan.”
Akhirnya setelah sekian lama terdiam lagi, terlihat Bu Nindya
sudah mulai mengantuk, tidak lama kemudian Bu Nindya sudah tertidur di kursi
dengan keadaan memakai daster tipis yang menampilkan lekuk-lekuk tubuh dan
payudaranya yang indah. Tersenyum Gunawan melihatnya.
“Akhirnya aku berhasil, ternyata obat tidur yang kubeli di
apotik siang tadi benar-benar manjur, obat ini akan bekerja untuk beberapa saat
kemudian,” gumam Gunawan penuh kemenangan.
“Beruntung sekali tadi Bu Nindya mau kubuatkan teh, sehingga
obat tidur itu dapat kucampur dengan teh yang diminum Bu Nindya,” gumamnya
sekali lagi.
Sejenak Gunawan memperhatikan Bu Nindya, tubuh yang pasrah
yang siap dipermainkan oleh lelaki manapun. Timbul gejolak kelelakian Gunawan
yang normal tatkala melihat tubuh indah yang tergolek lemah itu.
Diremas-remasnya dengan lembut payudara yang montok itu bergantian kanan kiri
sambil tangan yang satunya bergerilnya menyentuh paha sampai ke ujung paha.
Terdengar desahan perlahan dari mulut Bu Nindya, spontan Gunawan menarik kedua
tangannya.
“Mengapa harus gugup, Bu Nindya sudah terpengaruh obat tidur
itu sampai beberapa saat nanti,” gumam Gunawan dalam hati.
Akhirnya tanpa pikir panjang lagi, Gunawan kemudian
membopong tubuh Bu Nindya memasuki kamar Gunawan sendiri. Digeletakkan dengan
perlahan tubuh yang indah di atas tempat tidur, sesaat kemudian Gunawan sudah
mengunci kamar, lalu mengeluarkan tali yang memang sengaja dia simpan siang
tadi di laci mejanya.
Tidak lama kemudian Gunawan sudah mengikat kedua tangan Bu Nindya
di atas tempat tidur. Melihat keadaan tubuh Bu Nindya yang telentang itu, tidak
sabar Gunawan untuk melampiaskan hasratnya terhadap Bu Nindya.
“Malam ini aku akan menikmati tubuhmu yang indah itu Bu Nindya,”
kata Gunawan dalam hati.
Satu-persatu Gunawan melepaskan apa saja yang dipakai oleh
Bu Nindya. Perlahan-lahan, mulai dari daster, BH, kemudian celana dalam, sampai
akhirnya setelah semua terlepas, Gunawan menyingkirkannya ke lantai. Terlihat
sekali sekarang Bu Nindya sudah dalam keadaan polos, telanjang bulat tanpa
sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya. Diamati oleh Gunawan mulai dari
wajah yang cantik, payudara yang montok menyembul indah, perut yang ramping,
dan terakhir paha yang mulus dan putih dengan gundukan daging di pangkal paha
yang tertutup oleh rimbunnya rambut.
Sesaat kemudian Gunawan sudah menciumi tubuh Bu Nindya mulai
dari kaki, pelan-pelan naik ke paha, kemudian berlanjut ke perut dan terakhir
ciuman Gunawan mendarat di payudara Bu Nindya. Sesekali terdengar desahan kecil
dari mulut Bu Nindya,beritaseks.com tapi Gunawan tidak memperdulikannya.
Diciumi dan diremas-remas kedua payudara yang indah itu dengan mulut dan kedua
tangan Gunawan. Puting merah jambu yang menonjol indah itu juga tidak lepas
dari serangan-serangan Gunawan. Dikulum-kulum kedua puting itu dengan mulutnya
dengan perasaan dan gairah birahi yang sudah memuncak. Setelah puas Gunawan
melakukan itu semua, perlahan-lahan dia bangkit dari tempat tidur.
Satu-persatu Gunawan melepas pakaian yang melekat di
badannya, akhirnya keadaan Gunawan sudah tidak beda dengan keadaan Bu Nindya,
telanjang bulat, polos, tanpa ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya.
Terlihat kemaluan Gunawan yang sudah mengencang hebat siap dihunjamkan ke dalam
vagina Bu Nindya. Tersenyum Gunawan melihat rudalnya yang panjang dan besar,
bangga sekali dia mempunyai rudal dengan bentuk begitu.
Perlahan-lahan Gunawan kembali naik ke tempat tidur dengan
posisi telungkup menindih tubuh Bu Nindya yang telanjang itu, kemudian dia
memegang rudalnya dan pelan-pelan memasukkannya ke dalam vagina Bu Nindya. Gunawan
merasakan vagina yang masih rapat karena sudah setahun tidak pernah tersentuh
oleh laki-laki. Akhirnya setelah sekian lama, rudal Gunawan sudah masuk
semuanya ke dalam vagina Bu Nindya.
Ketika Gunawan menghunjamkan rudalnya ke dalam vagina Bu Nindya
sampai masuk semua, terdengar rintihan kecil Bu Nindya,
“Ah.., ah.., ah..!”
Tapi Gunawan tidak menghiraukannya, dia lalu menggerakkan
kedua pantatnya maju munjur dengan teratur, pelan-pelan tapi pasti.
“Slep.., slep.., slep..,” terdengar setiap kali ketika Gunawan
melakukan aktivitasnya itu, diikuti dengan bunyi tempat tidur yang
berderit-derit.
“Uh.., oh.., uh.., oh..,” sesekali Gunawan mengeluh kecil,
sambil tangannya terus meremas-remas kedua payudara Bu Nindya yang montok itu.
Lama Gunawan melakukan aktivitasnya itu, dirasakannya betapa
masih kencangnya dan rapatnya vagina Bu Nindya. Akhirnya Gunawan merasakan
tubuhnya mengejang hebat, merapatkan rudalnya semakin dalam ke vagina Bu Nindya.
“Ser.., ser.., ser..,” Gunawan merasakan cairan yang keluar
dari ujung kemaluannya mengalir ke dalam vagina Bu Nindya.
“Oh.. ah.. oh.. Bu Nindya.., oh..!” terdengar keluhan
panjang dari mulut Gunawan.
Setelah itu Gunawan merasakan tubuhnya yang lelah sekali,
kemudian dia membaringkan tubuhnya di samping tubuh Bu Nindya dengan posisi
memeluk tubuh Bu Nindya yang telah dinikmatinya itu.
Lama Gunawan dalam posisi itu sampai pada akhirnya dia
dikejutkan oleh gerakan tubuh Bu Nindya yang sudah mulai siuman. Secara reflek,
Gunawan bangkit dari tempat tidurnya menuju ke arah saklar lampu dan
mematikannya. Tertegun Gunawan berdiri di samping tempat tidur dalam kamar yang
sudah dalam keadaan gelap gulita itu. Sesaat kemudian terdengar suara Bu Nindya.
“Oh, dimana aku, mengapa gelap sekali..?”
Sebentar kemudian suasana menjadi hening.
“Dan, mengapa tanganku diikat, dan, oh.., tubuhku juga
telanjang, kemana pakaianku, apa yang terjadi..?” terdengar suara Bu Nindya
pelan dan serak.
Suasana hening agak lama. Gunawan tidak tahu apa yang harus
dilakukannya. Dia diam saja.
Terdengar lagi suara Bu Nindya mengeluh, “Oh.., tolonglah
aku..! Apa yang terjadi padaku, mengapa aku bisa dalam keadaan begini, siapa
yang melakukan ini terhadapku..?” keluh Bu Nindya.
Akhirnya timbul kejantanan dalam diri Gunawan, bagaimanapun
setelah apa yang dia lakukan terhadap Bu Nindya, Gunawan harus berterus terang
mengatakannya semuanya.
“Ini saya..,” gumam Gunawan lirih.
“Siapa, kamukah Yodi..? Mengapa kamu kembali lagi padaku..?”
sahut Bu Nindya agak keras.
“Bukan, ini saya Bu.., Gunawan..,” Gunawan berterus terang.
“Gunawan..!” kaget Bu Nindya mendengarnya.
“Apa yang kamu lakukan padaku, Gunawan..? Bicaralah..!
Mengapa saya kamu perlakukan seperti ini..?” tanya Bu Nindya kemudian.
Kemudian Gunawan bercerita mulai dari awal sampai akhir,
bagaimana mula-mula dia tertarik pada Bu Nindya, sampai pada keheranannya
bagaimana juga Bu Nindya dapat hidup sendiri selama setahun tanpa ada laki-laki
yang dapat memuaskan hasrat birahi Bu Nindya. Juga tidak lupa Gunawan
menceritakan semua yang dia lakukan terhadap Bu Nindya selama Bu Nindya tidak
sadar karena pengaruh obat tidur. Tertegun Bu Nindya mendengar semua perkataan Gunawan.
Lama mereka terdiam, tapi terdengar Bu Nindya bicara lagi.
“Gunawan.., Gunawan.., Ibu memang menginginkan laki-laki
yang bisa memuaskan hasrat birahi Ibu, tapi bukan begini caranya, mengapa kamu
tidak berterus-terang pada Ibu sejak dulu, kalaupun kamu berterus terang
meminta kepada Ibu, pasti Ibu akan memberikannya kepadamu, karena Ibu juga
merasakan bagaimana tidak enaknya hidup sendiri tanpa laki-laki.”
“Terus terang saya malu Bu, saya malu kalau Ibu menolak
saya.”
“Tapi setidaknya kan, berterus terang itu lebih sopan dan
terhormat daripada harus memperlakukan Ibu seperti ini.”
“Saya tahu Bu, saya salah, saya siap menerima sanksi apapun,
saya siap diusir dari rumah ini atau apa saja.”
“Oh, tidak Gunawan, bagaimanapun kamu telah melakukannya
semua terhadap ku. Sekarang aku tidak lagi terpengaruh oleh obat tidur itu
lagi, aku ingin kamu melakukannya lagi terhadap ku apa yang kamu perbuat tadi,
Ibu juga menginginkannya Gunawan tidak hanya kamu saja.”
“Benar Bu..?” tanya Gunawan kaget.
“Benar Gunawan, sekarang nyalakanlah lampunya, biar Ibu bisa
melihatmu seutuhnya,” pinta Bu Nindya kemudian.
Tanpa pikir panjang lagi, Gunawan segera menyalakan lampu
yang sejak tadi padam. Sekarang terlihatlah kedua tubuh mereka yang sama-sama
polos, dan telanjang bulat dengan posisi Bu Nindya terikat tangannya.
“Oh Gunawan, tubuhmu begitu atletis. Kemarilah, nikmatilah
tubuh ku, Ibu menginginkannya Gunawan..! Ibu ingin kamu memuaskan hasrat birahi
yang selama ini aku pendam, aku ingin malam ini benar-benar terpuaskan.”
Perlahan Gunawan mendekati Bu Nindya, diperhatikan wajah
yang tambah cantik itu karena memang kondisi Bu Nindya yang sudah tersadar,
beda dengan tadi ketika Bu Nindya masih tidak sadarkan diri. Diusap-usapnya
dengan lembut tubuh Bu Nindya yang polos dan indah itu, mulai dari paha, perut,
sampai payudara. Terdengar suara Bu Nindya menggelinjang keenakan.Beritaseks
“Terus.., Wan.., ah.. terus..!” terlihat tubuh Bu Nindya
bergerak-gerak dengan lembut mengikuti sentuhan tangan Gunawan.
“Tapi, Wan, aku tak ingin dalam keadaan begini, aku ingin
kamu melepas tali pengikat tangan ku, biar aku bisa menyentuh tubuhmu juga..!”
pinta Ibu Nindya memelas.
“Baiklah Bu.”
Sedetik kemudian Gunawan sudah melepaskan ikatan tali di
tangan Bu Nindya. Setelah itu Gunawan duduk di pinggir tempat tidur sambil
kedua tangannya terus mengusap-usap dan meremas-remas perut dan payudara Bu Nindya.
“Nah, begini kan enak..,” kata Bu Nindya.
Sesaat kemudian ganti tangan Bu Nindya yang meremas-remas
dan menarik maju mundur kemaluan Gunawan, tidak lama kemudian kemaluan Gunawan
yang diremas-remas oleh Bu Nindya mulai mengencang dan mengeras.beritaseks.com
Benar-benar hebat si Gunawan ini, dimana tadi kemaluannya sudah terpakai
sekarang mengeras lagi. Benar-benar hyper dia.
“Oh.., Gunawan, kemaluanmu begitu keras dan kencang, begitu
panjang dan besar, ingin Ibu memasukkannya ke dalam vagina ku.”
kata Bu Nindya lirih sambil terus mempermainkan kemaluan Gunawan
yang sudah membesar itu.
Diperlakukan sedemikian rupa, Gunawan hanya dapat
mendesah-desah menahan keenakan.
“Bu Nindya, oh Bu Nindya, terus Bu Nindya..!” pinta Gunawan
memelas.
Semakin hebat permainan seks yang mereka lakukan berdua,
semakin hot, terdengar desahan-desahan dan rintihan-rintihan kecil yang keluar
dari mulut mereka berdua.
“Oh Gunawan, naiklah ke atas tempat tidur, naiklah ke atas
tubuhku, luapkan hasratmu, puaskan diriku, berikanlah kenikmatanmu pada Ibu..!
Ibu sudah tak tahan lagi, ibu sudah tak sabar lagi..” desis Bu Nindya memelas
dan memohon.
Sesaat kemudian Gunawan sudah naik ke atas tempat tidur,
langsung menindih tubuh Bu Nindya yang telanjang itu, sambil terus menciumi dan
meremas-remas payudara Bu Nindya yang indah itu.
“Oh, ah, oh, ah.., Gunawan oh..!” tidak ada kata yang lain
yang dapat diucapkan Bu Nindya yang selain merintih dan mendesah-desah, begitu
juga dengan Gunawan yang hanya dapat mendesis dan mendesah, sambil
menggosok-gosokkan kemaluannya di atas permukaan vagina Bu Nindya. Reflek Bu Nindya
memeluk erat-erat tubuh Gunawan sambil sesekali mengusap-usap punggung Gunawan.
Sampai suatu ketika, tangan Bu Nindya memegang kemaluan Gunawan
dan memasukkannya ke dalam vaginanya. Pelan dan pasti Gunawan mulai memasukkan
kemaluannya ke dalam vagina Bu Nindya, sambil kedua kakinya bergerak menggeser
kedua kaki Bu Nindya agar merenggang dan tidak merapat, lalu menjepit kedua
kaki Bu Nindya dengan kedua kakinya untuk terus telentang. Akhirnya setelah
sekian lama berusaha, karena memang tadi Gunawan sudah memasukkan kemaluannya
ke dalam vagina Bu Nindya, sekarang agak gampang Gunawan menembusnya, Gunawan
sudah berhasil memasukkan seluruh batang kemaluannya ke dalam vagina Bu Nindya.
Kemudian dengan reflek Gunawan menggerakkan kedua pantatnya
maju mundur teru-menerus sambil menghunjamkan kemaluannya ke dalam vagina Bu Nindya.
“Slep.., slep.., slep..,” terdengar ketika Gunawan melakukan
aktivitasnya itu.
Terlihat tubuh Bu Nindya bergerak menggelinjang keenakan
sambil terus menggoyang-goyangkan pantatnya mengikuti irama gerakan pantat Gunawan.
“Ah.., ah.., oh.. Gunawan.., jangan lepaskan, teruskan,
teruskan, jangan berhenti Gunawan, oh.., oh..!” terdengar rintihan dan desahan
nafas Bu Nindya yang keenakan. Lama Gunawan melakukan aktivirasnya itu, menarik
dan memasukkan kemaluannya terus-menerus ke dalam vagina Bu Nindya. Sambil
mulutnya terus menciumi dan mengulum kedua puting payudara Bu Nindya.
“Oh.., ah.. Bu Nindya, oh.., kamu memang cantik Bu Nindya,
akan kulakukan apa saja untuk bisa memuaskan hasrat birahimu, ih.., oh..!”
desis Gunawan keenakan.
“Oh.., Gunawan.., bahagiakanlah Ibu malam ini dan
seterusnya, oh Gunawan.., Ibu sudah tak tahan lagi, oh.., ah..!”
Semakin cepat gerakan Gunawan menarik dan memasukkan
kemaluannya ke dalam vagina Bu Nindya, semakin hebat pula goyangan pantat Bu Nindya
mengikuti irama permainan Gunawan, sambil tubuhnya terus menggelinjang
bergerak-gerak tidak beraturan.
Semakin panas permainan seks mereka berdua, sampai akhirnya
Bu Nindya merintih, “Oh.., ah.., Gunawan.., Ibu sudah tak tahan lagi, Ibu sudah
tak kuat lagi, Ibu mau keluar, oh Gunawan.., kamu memang perkasa..!”
“Keluarkan Bu..! Keluarkanlah..! Puaskan diri Ibu..! Puaskan
hasrat Ibu sampai ke puncaknya..!” desis Gunawan menimpali.
“Mari kita keluarkan bersama-sama Bu Nindya..! Oh, aku juga
sudah tak tahan lagi,” desis Gunawan kemudian.
Setelah berkata begitu, Gunawan menambah genjotannya
terhadap Bu Nindya, terus-menerus tanpa henti, semakin cepat, semakin panas,
terlihat sekali kedua tubuh yang basah oleh keringat dan telanjang itu menyatu
begitu serasi dengan posisi tubuh Gunawan menindih tubuh Bu Nindya.
Sampai akhirnya Gunawan merasakan tubuhnya mengejang hebat,
begitu pula dengan tubuh Bu Nindya.Beritaseks Keduanya saling merapatkan
tubuhnya masing-masing lebih dalam, seakan-akan tidak ada yang memisahkannya.
“Ser.., ser.., ser..!” terasa keluar cairan kenikmatan
keluar dari ujung kemaluan Gunawan mengalir ke dalam vagina Bu
Nindya, begitu nikmat seakan-akan seperti terbang ke langit
ke tujuh, begitu pula dengan tubuh Bu Nindya seakan-akan melayang-layang tanpa
henti di udara menikmati kepuasan yang diberikan oleh Gunawan.
Sampai akhirnya mereka berdua berhenti karena merasa
kelelahan yang amat sangat setelah bercinta begitu hebat.
Sejenak kemudian, masih dengan posisi yang saling menindih,
terpancar senyum kepuasan dari mulut Bu Nindya.
“Gunawan, terima kasih atas apa yang telah kau berikan pada
Ibu..,” kata Bu Nindya sambil tangannya mengelus-elus rambut Gunawan.
“Sama-sama Bu, aku juga puas karena sudah membuat Ibu
berhasil memuaskan hasrat birahi Ibu,”
sahut Gunawan dengan posisi menyandarkan kepalanya di atas
dada Bu Nindya. Suasana yang begitu mesra.
“Selama disini, mulai malam ini dan seterusnya, Ibu ingin
kamu selalu memberi kepuasan birahi Ibu..!” pinta Ibu Nindya.
“Saya berjanji Bu, saya akan selalu memberikan yang terbaik
bagi Ibu..,” kata Gunawan kemudian.
“Ah, kamu bisa saja Wan,” tersungging senyum di bibir Bu Nindya.
“Tapi, ngomong-ngomong bagaimana dengan Ida dan Bik Inah..?”
tanya Gunawan.
“Lho, kita kan bisa mencari waktu yang tepat. Disaat Ida
berangkat sekolah juga bisa, dan Bik Inah di dapur. Di saat keduanya tidur pun
kita bisa melakukannya. Pokoknya setiap saat dan setiap waktu..!” jawab Bu Nindya
manja sambil tangannya mengusap-usap punggung Gunawan.
Sejenak Gunawan memandang wajah Bu Nindya, sesaat kemudian
keduanya sama-sama tertawa kecil. Akhirnya apa yang mereka pendam berdua
terlampiaskan sudah. Sambil dengan keadaan yang masih telanjang dan posisi
saling merangkul mesra, mereka akhirnya tertidur kelelahan.

cerita bokep
2016,cerita bokep terupdate,cerita bokep terbaru,cerita bokep, cerita ngentot
2016,cerita ngentot terupdate,cerita ngentot terbaru,cerita ngentot,
Cerita Dewasa Bandar Domino, Poker Online, Domino QQ, Domino Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.