Vimax cerita ngentot
Breaking News

Cerita Sex Om Pemuas Nafsu

Vimax Cerita Seks ABGQQ Bandar Q, Poker, Domino, dan Sakong Online Terpercaya
kumpulan cerita sex terbaru,cerita
sex 2016,cerita sex terbaru,cerita sex terupdate,cerita sex Om Ical, 47 tahun juga cukup dikenal akrab oleh Dita karena
dia sering bertandang di rumah sahabatnya ini. Pada penampilan luarnya Om Ical
bertampang simpatik dan malah kelihatan sebagai orang alim, tapi kenapa sampai
bisa berhubungan dengan Dita ini awalnya cukup konyol. Secara kebetulan
keduanya saling kepergok di sebuah hotel ketika masing-masing akan melakukan
perbuatan iseng. Om Ical saat itu sedang menggandeng seorang pelacur langganan
tetapnya dan Dita saat itu sedang digandeng dr.Hadi.
Keduanya jelas-jelas bertemu di sini sama-sama tidak bisa
mengelak. Tentu saja sama-sama kaget tapi masing-masing cepat bisa bersandiwara
pura-pura saling tak kenal.
Kelanjutan dari itu masing-masing sepakat bertemu di kesempatan
tersendiri untuk saling menjelaskan dan membela diri. Bahwa kalau Dita mengaku
hubungannya dengan dr.Hadi karena kena bujuk rayu diajak beriseng dan cuma
dengan laki-laki itu saja, sedang Om Ical mengaku bahwa dia terpaksa mencari
pelarian karena Tante Vera, istrinya, katanya sudah kurang bergairah
menjalankan kewajibannya sebagai istri di ranjang. Masuk akal bagi Dita karena
dilihatnya Tante Vera yang gemuk itu memang lebih sibuk di luar rumah mengurus
bisnis berliannya ketimbang mengurus suami dan keluarganya. Itu sebabnya Mifta,
salah satu anaknya juga jadi bebas dan liar di luaran.


Cerita Sex 2016
cerita dewasa 2016,cerita dewasa terupdate,cerita dewasa terbaru,cerita dewasa,cerita mesum 2016,cerita mesum terupdate,cerita mesum terbaru,cerita mesum,
Cerita Seks 2016
Dari pertemuan itu masing-masing nampak sama ketakutan kalau
rahasianya terbongkar di luaran. Dita takut hubungannya dengan dr.Hadi didengar
orang tuanya sedang Om Ical juga lebih takut lagi nama baiknya jadi rusak.
Berikutnya karena terlanjur sudah saling terbuka kartu masing-masing, keduanya
yang berusaha agar saling menutup mulut jangan membuka rahasia ini justru
menemukan cara tersendiri yaitu dengan membuat hubungan gelap satu sama lain.
Ide ini terlontar oleh Om Ical yang coba merayu Dita ternyata diterima baik
oleh Dita.
Singkat cerita kesepakatan pun tercapai, cuma ketika
menjelang janji bertemu di suatu tempat di mana Om Ical akan menjemput dan
membawa Dita ke sini, Dita meskipun melihat tidak ada salahnya mencoba iseng
dengan Om Ical tidak urung berdebar juga jantungnya. Tegang karena partner kali
ini hubungannya terkait dekat. Sekali meleset dan terbongkar bisa fatal urusan
malunya. Begitu juga waktu sudah semobil di sebelah Om Ical, sempat kikuk malu
dia dengan laki-laki yang ayah sahabatnya ini.
Pasalnya Om Ical yang sebenarnya juga sama tegang karena
kali ini yang dibawa adalah teman dekat anak gadisnya, dia hampir tidak ada
suaranya dan pura-pura sibuk menyetir mobilnya sehingga Dita didiamkan begini
jadi salah tingkah menghadapinya.beritaseks.com Tapi waktu sudah masuk kamar sini
dan mengawali dengan duduk ngobrol dulu merapat di sofa, di situ mulai ke luar
keluwesan Om Ical dalam bercumbu. Dita pun mulai lincah seperti biasa pembawaannya
kalau sedang menghadapi dr.Hadi. Genit manja jinak-jinak merpati membuat si Om
tambah penasaran terangsang kepadanya. Waktu itu dengan mesra Om Ical
menawarkan makan pada Dita tapi ditolak karena masih merasa kenyang.
“Aku minta rokoknya Om.. Dita pengen ngerokok.” pinta Dita
sebagai alternatif tawaran Om Ical.
“Oh ngerokok juga? Iya ada, mari Om yang pasangin. Om nggak
tau kalo Dita juga ngerokok.”
“Cuma sekali-sekali aja, abis deg-degan pergi sama Om ke Sini.”
jelas Dita menunjukan kepolosannya.
“Kok sama, Om juga sempat tegang waktu bawa Dita di mobil
tadi, takut kalo ada yang ngeliat.”
Masing-masing sama mengakui apa yang dirasakan selama dalam
perjalanan. Dita mulai menggoda Om Ical.
“Masa udah tegang duluan, kan belum apa-apa Om?” godanya
dengan genit.
“Oo yang itu memang belum, tapi jantungnya yang tegang.”
jawab Om Ical setelah membakar sebatang rokok buat Dita yang sudah langsung
menjulurkan tangannya, tapi masih belum diberikan oleh Om Ical.
“Mana, katanya mau pasangin buat Dita?”
“Sebentar, sebelum ngerokok bibirnya Om musti cium dulu..”
Menutup kalimatnya Om Ical langsung menyerobot bibir Dita
memberinya satu ciuman bernafsu, dibiarkan saja oleh Dita hanya setelah itu dia
menggigit bibir malu-malu manja menyandarkan kepalanya di dada Om Ical sambil
menyelingi dengan merokok yang sudah diterimanya dari Om Ical. Melihat ini Om Ical
semakin berlanjut.
“Bajunya basah keringetan nih, Om bukain ya biar nggak
kusut?” katanya menawarkan tapi sambil tangannya yang memeluk dari belakang
mulai mencoba melepas kancing baju Dita.
Lagi-lagi Dita tidak menolak. Dengan gaya acuh tak acuh
sibuk mengisap rokoknya, dia membiarkan Om Ical bekerja sendiri malah dibantu
menegakkan duduknya agar kemejanya dapat diloloskan dari lengannya membuat dia
tinggal mengenakan kutang saja. Dita memang sudah terbiasa bertelanjang di
depan lelaki, jadi santai saja sikapnya. Tetapi ketika tangan Om Ical
menyambung membuka reitsleting belakang rok jeans-nya dan dari situ akan
meloloskan rok berikut celana dalamnya, baru sampai di pinggul Dita
menggelinjang manja.
“Ngg.. masak aku ditelanjangin sendiri, Om juga buka dulu
bajunya?”
“Iya, iya, Om juga buka baju Om..”
Segera Om Ical melucuti bajunya satu persatu sementara Dita
bergeser duduknya ke sebelah. Berhenti dengan hanya menyisakan celana dalamnya,
dia pun beralih untuk meneruskan usahanya melepas rok Dita. Sekarang baru
dituruti tapi juga sama menyisakan celana dalamnya. Tentu saja Om Ical mengerti
bahwa Dita masih malu-malu, dia tidak memaksa dan kembali menarik Dita
bersandar dalam pelukan di dadanya. Di situ dia mulai dengan mengecup pipi Dita
sambil mengusap-usap pinggang bergerak meremas lembut masing-masing pangkal
bawah susu si gadis yang masih tertutup kutangnya.
“Dita kurus ya Om?” tanya Dita sekedar menghilangkan salah
tingkah karena susunya mulai digerayangi Om Ical.
“Ah nggak, malah bodimu bagus sekali Ta.” jawab Om Ical
memuji Dita apa adanya karena memang tubuh gadis ini betul-betul berlekuk indah
menggiurkan.
“Tapi Om kan senengnya sama yang mantep, yang hari itu Dita
liat ceweknya montok banget..”
“Iya tapi orangnya jelek, udah tua. Abisnya nggak ada lagi
sih? Maunya nyari yang cakep kayak Dita gini. Kalo ini baru asyik..” rayu Om Ical
sambil kali ini mencoba untuk membuka pengait bra Dita yang kebetulan terletak
di bagian depan.
“Om sih ngerayu. Buktinya belon apa-apa udah bilang asyik
duluan?”
“Justru karena yakin maka Om berani bilang gitu. Coba aja
pikir, ngapain Om sampe berani ngajak Dita padahal jelas-jelas udah tau temen
baiknya Mifta, ya nggak? Kalo bukan lantaran tau kapan lagi dapet asyik
ditemenin cewek secakep Dita, tentu Om nggak akan nekat gini. Udah lama Om
seneng ngeliat kamu Di.”
Dita kena dipuji rayuan yang memang masuk akal ini kontan
berDiar-Diar bangga di wajahnya. Perempuan kalau terbidik kelemahannya langsung
jadi murah hati, segera mandah saja dia membiarkan kutangnya dilepas sekaligus
memberikan kedua susu telanjangnya yang berukuran sedang membulat kenyal mulai
diremas tangan Om Ical.
“Emangnya, Om seneng sama Dita sejak kapan? Kayaknya sih Dita
liat biasa-biasa aja?”
“Dari Dita mulai dateng-dateng ke rumah Om udah ketarik sama
cantiknya, cuma masak musti pamer terang-terangan?
Tiap kali ngeliat rasanya gemeesss sama kamu..” bIcalanya
menyebut begitu sambil secara tidak sengaja memilin puting susu di tangannya
membuat si gadis lagi-lagi menggelinjang manja.
“Aaa.. gemes mau diapain Om?!”
“Gemes mau dipeluk-pelukin gini, dicium-ciumin gini, atau
juga diremes-remesin gini.. sshmmm..” jawab Om Ical dengan memperlihatkan
contoh cara dia mendekap erat, mengecup pipi dan meremas susu Dita.
“Terusnya apalagi?”
“Terusnya yang terakhir ininya.. Apa sih namaya ini?” tanya
canda Om Ical yang sebelah tangannya sudah diturunkan ke selangkangan
Dita, langsung meremas bukit vagina yang menggembung dan
merangsang itu.
“Itu bilangnya.. memek.” jawab Dita dengan menoleh ke
belakang sambil menggigit kecil bibir Om Ical. Bahasanya vulgar tapi Om Ical
malah senang mendengarnya.
“Iya, kalau memek Dita ini dimasukin Om punya, boleh kan?”
“Dimasukin apa Om..?”
“Ini, apa ya bilangnya?” tanya lagi Om Ical dengan mengambil
sebelah tangan Dita meletakkan di jendulan penisnya.
“Aaa.. ini kan bilangnya ******.. Dimasukin ini bahaya, kalo
hamil malah ketauan orang-orang Om?” Dita bergaya pura-pura takut tapi tangannya
malah meremas-remas jendulan penis itu.
“Jangan ambil bahayanya, ambil enaknya aja. Nanti Om beliin
pil pencegah hamilnya.”
“Tapinya sakit nggak?” tanya Dita sambil mematikan rokoknya
ke asbak.
“Kalo udah dicoba malah enak. Yuk kita pindah ke tempat tidur?”
Om Ical mengajak tapi sambil membopong Dita pindah ke tempat tidur untuk masuk
di babak permainan cinta.
Di Sini Dita mulai memasrahkan diri ketika tubuhnya mulai
digeluti kecup cium dan raba gemas yang menaikan birahi nafsunya. Dita sudah
pernah begini dengan dr.Hadi, caranya hampir sama dan dia senang digeluti
laki-laki yang sudah berumur seperti ini. Karena mereka bukan hanya lebih
pengalaman tapi juga lebih teliti jika mengecapi tubuh perempuan, apalagi gadis
remaja seperti dia. Asyik rasanya menggeliat-geliat, merengek-rengek manja
diserbu rangsangan bernafsu yang bertubi-tubi di sekujur tubuhnya.
“Ahahhggg.. gellii Omm.. Sshh.. iihh.. Om sakit gitu..
sssh.. hnggg..”
Mengerang antara geli dan perih tapi dengan tertawa-tawa
senang, yang begini justru memancing si Om makin menjadi-jadi. Om Ical yang
nampaknya baru kali ini bergelut dengan seorang gadis remaja cantik tentu saja
terangsang hebat, hanya saja dia sayang untuk terburu-buru dan masih senang
untuk mengecapi sepuas-puasnya tubuh mulus indah yang dagingnya masih padat
kencang ini. Dari semula saja dia sudah nekat melupakan bagaimana status
hubungannya dengan Dita apalagi setelah dilanda nafsu tinggi seperti ini. Anak
gadis teman baiknya dan sekaligus sahabat anaknya ini begitu merangsang
gairahnya membuat dia jadi terlupa segala-galanya.
Dita yang sudah memberi celana dalamnya diloloskan jadi
telanjang bulat sudah rata seputar tubuhnya dijilati dengan rakus. Diberi
bagian susunya dihisap saja sudah membuat Om Ical buntu dalam asyik. Sibuk
mulutnya menyedot berpindah-pindah diantara kedua puncak bukit yang membulat
kenyal lagi pas besarnya itu, lebih-lebih waktu Dita di bagian terakhir
memberikan vaginanya dikecapi mulutnya. Jangan bilang lagi, seperti ******
kelaparan dia menyosor menjilat dan menyedot celah merangsang itu sampai tidak
peduli tingkatan kesopanan lagi.
Sahabat anak gadisnya yang biasanya hormat sopan kalau
datang ke rumahnya, sekarang santai saja menjambak rambutnya atau mendekap
kepalanya mempermainkan seperti bola kalau sosoran mulut rakusnya membuat geli
yang terlalu menyengat.
“Ssshh.. aahnggg.. geliii.. Omm..” Om Ical seru memuasi rasa
mulutnya yang tentu saja membuat Dita terangsang tinggi dalam tuntutan
birahinya, tapi begitu pun jalan pelepasan yang diberikan si Om betul-betul
memuaskan sekali. Pada gilirannya Om Ical merasa cukup dan menyambung untuk
mengecap nikmatnya jepitan ketat vagina muda si gadis, di ranjanglah baru
terasa asyiknya penis ayah sahabatnya.
Sewaktu partama dimasuki, Dita masih memejamkan mata, dia
baru tersadar ketika batang itu sudah setengah terendam di vaginanya. Agak
ketat sedikit rasanya. Membuka mata melirik ke bawah, dia langsung bisa
mengira-ngira seberapa besar batang itu. “Aahshh..” dia mengerang dengan
gemetar kerinduan nafsunya hanya saja tangannya mengerem pinggul Om Ical agar
tidak sekaligus tancap masuk. Meskipun tidak diutarakan Dita lewat kata-kata
tapi Om Ical mengerti maksudnya. Dia meredam sedikit emosinya dan menusuk
sambil membor penisnya lebih kalem.
Di situ batang penis ditahan terendam sebentar untuk membawa
dulu tubuhnya turun menghimpit Dita lalu dari situ dia berlanjut membor sambil
mulai memompa pelan naik turun pantatnya. Untuk beberapa saat masuknya batang
diterima Dita masih agak tegang, tapi ketika terasa mulai licin dan sudah mulai
bisa menyesuaikan dengan ukuran Om Ical. Dia pun mulai meresapi nikmatnya
batang Om Ical.
“Wihhh.. ennaak sekalii!” begitu ketat dan begitu mantap
gesekannya membuat Dita langsung terbuai dengan nikmat sanggama yang baru
dibukanya dengan batang kenikmatan Om Ical. Saking asyiknya kedua tangan dan
kakinya naik mencapit tubuh Om Ical seolah-olah menjaga agar kenikmatan ini
tidak dicabut lepas sementara dia sendiri mulai ikut aktif mengimbangi kocokan
penis dengan putaran vaginanya yang mengocok.
Disambut kehangatan begini Om Ical tambah bersemangat
memompa, semakin lebih terangsang dia karena Dita meskipun tidak bersuara tapi
gayanya hangat meliuk-liuk setengah histeris. Bergerak terus dengan tangan
menggaruk kepala Om Ical, kakinya yang membelit tidak ubahnya bagai akan
memanjat tubuh si Om.beritaseks.com Kelihatan repot sekali gerak sanggamanya
yang seperti tidak bisa diam itu, apalagi ketika menjelang sampai ke puncak
permainan, tambah tidak beraturan Dita menggeliat-geliat. Sementara itu si Om
yang sudah serius tegang juga hampir mencapai ejakulaDiya.
Beberapa saat kemudian keduanya tiba dalam orgasme secara
bersamaan. Dita yang mulai duluan dengan memperketat belitannya.
“Aduuhh.. ayyuhh.. Omm.. shh.. ahgh.. iyya.. duhh.. aahhh..
hgh.. aaahh.. aeh.. ahduhh.. sshhh Om.. hheehh.. mmhg.. ayoh.. Di..” saling
bertimpa kedua suara masing-masing mengajak untuk melepas seluruh kepuasan
dengan sentakan-sentakan erotis. Sama-sama mendapatkan kenikmatan dan kepuasan
dalam jumpa pertama ini, sehingga ketika mereda keduanya pun menutup dengan
saling mengecup mesra, gemas-gemas sayang tanda senangnya.
Begitu nafas mulai tenang, Dita memberi isyarat menolak
tubuh Om Ical meminta lepas, tapi sementara si Om berguling terlentang di
sebelah, dia sudah mengejar, memeluk dengan memegang batangnya dan merebahkan
kepalanya di dada Om Ical. Meremas-remas gemas sambil memandangi batang yang
masih mengkilap lengket itu.
“Bandel nihh.. maen nyodok aja?” komentar Dita sambil
menarik penis Om Ical.
“Abis kamunya juga bikin penasaran aja sih?” balas Om Ical
dengan tangannya merangkul leher bermain lagi di susu Dita.
“Om seneng ya sama aku?”
“Oo.. jelas suka sekali Sayaang.. Abis, kamu memang cantik,
memeknya juga enak sekali..” kali ini dagu Dita diangkat, bibirnya digigit
gemas oleh Om Ical.
Dita langsung berDiar bangga dengan pujian itu. Itu
pembukaan hubungan gelap mereka yang sejak itu berlangsung secara
sembunyi-sembunyi dengan jadwal rutin karena masing-masing seperti merasa
ketagihan satu sama lain. Om Ical jelas senang dengan teman kencan yang cantik
menggiurkan ini. Permainan selalu memilih tempat di sini di luar kota tapi
sekali pernah Dita mendapat pengalaman yang unik serta konyol di rumah Om Ical
sendiri.
Suatu hari Tante Vera sedang berbisnis ke luar kota ketika Dita
datang bertandang siang itu untuk menemui Mifta.beritaseks.com Kedua gadis itu
memang membuat janji akan jalan-jalan ke mall sore nanti tapi karena waktunya
masih jauh, Mifta mempergunakannya untuk keluar rumah sebentar. Om Ical yang
membuka pintu dan dia sendiri ketika melihat ada peluang yang baik langsung
memanfaatkannya, karena begitu Dita masuk sudah disambut dengan telunjuk di
bibir memaksudkan agar Dita tidak bersuara. Dita sempat heran tapi ketika
digandeng ke kamar Om Ical dia kaget juga, segera mengerti tujuannya.
“Iddihh Om nekat.. nanti ketauan Om.. Mifta memangnya ke
mana?” katanya tapi dengan nada berbisik panik.
“Sst tenang aja.. Kita aman, Mifta lagi pergi sebentar,
Tante lagi keluar kota sedang Hari lagi tidur..” jelas Om Ical. Hari adalah
adik laki-laki Mifta yang duduk di kelas III SMP. Masih ada seorang lagi adik Mifta
bernama Hendi yang duduk di kelas I SMA tapi dia tinggal dengan neneknya di
Malang.
“Iya tapi gimana kalo Mifta dateng Om?”
“Kan nggak ada yang tau kalau Dita udah di sini. Mereka
nggak bakalan berani masuk kamar Om. Acaramu kan Om denger masih nanti malem,
kita bikin sebentar di sini yaa?”
“Tapi Om.?”
“Udahlah di sini aja dulu, Om mau ke luar sebentar. Tuch
denger, kayaknya Hari udah bangun. Nih, Om tebus waktumu untuk jajan-jajan sama
Mifta nanti,” kata Om Ical langsung memotong protes Dita dengan mengulurkan
sejumlah uang yang cepat diambilnya dari dompetnya untuk membujuk Dita.
Setelah itu segera dia keluar kamar meninggalkan Dita yang
karena merasa sudah terjebak terpaksa tidak berani keluar takut kepergok Hari.
Melirik uang yang digenggamnya sepeninggal Om Ical, hati Dita menjadi lunak
lagi karena si Om memang pintar mengambil hati dan selalu royal memberi jumlah
yang cukup menghibur. Meskipun begitu dia menguping dari balik pintu
mendengarkan situasi di luar dengan hati berdebar tegang.
“Pak, barusan kayaknya ada yang dateng kedengeran pintu
kebuka?” terdengar suara Hari menanyai ayahnya.
“Ah nggak ada siapa-siapa kok, barusan memang Bapak yang
buka pintu.”
Baru saja sampai percakapan ini, tiba-tiba terdengar suara
motor Mifta memasuki pekarangan. Tidak lama kemudian dia masuk ke rumah dan
terdengar menanyai adiknya.
“Har, barusan Mbak Dita Singgah ke sini nggak?”
“Nggak tau, aku juga baru bangun..”
“Oh ya? Padahal Mbak Mifta Singgah barusan ke rumahnya,
Mamahnya bilangnya ke sini?”
“Ya mungkin aja Dita tadi ke sini tapi ngira kamu nggak ada,
jadi pergi ke tempat lain dulu.” kali ini Om Ical ikut menimbrung pembIcalaan.
“Iya tapi aku ada janji sama dia nanti sore-sorean. ”
“Oo.. kalo gitu paling-paling sebentar juga ke Sini.” putus Om
Ical menghibur anaknya.
Hening sebentar dan tidak lama kemudian terdengar suara Om Ical
memesan kedua anaknya agar jangan ada tamu atau telepon yang mengganggunya
karena dia beralasan agak tidak enak badan dan akan tidur siang. Sesaat setelah
itu dia pun masuk disambut Dita yang bersembunyi di balik pintu langsung
mencubit gemas lengannya tapi tidak bersuara, geli dengan sandiwara yang
barusan didengarnya.
Om Ical tersenyum dan menggayut pinggang Dita,
menggandengnya ke tempat tidur. Dita menurut karena tahu kalau menolak maka Om Ical
akan membujuknya terus, daripada berlama-lama lebih baik memberi saja agar
waktunya lebih cepat selesai. Langsung diikutinya ajakan Om Ical untuk membuka baju,
hanya saja masih bingung jika permainan telah usai.
“Tapi nanti aku ke luar dari Sininya gimana Om..?” tanyanya
sambil menyampirkan celana dalamnya sebagai kain penutup terakhirnya yang
dilepas.
“Gampang, Om pura-pura aja nyuruh mereka berdua keluar beli
makanan, di situ Dita bisa aman keluar dari Sini.”
“Ngg.. Om bisa aja akalnya..” Dita sedikit lega.
“Om kalo mikirin yang itu sih gampang. Sekarang yang Om
pikirin justru ngeluarin isinya barang ini yang enak gimana caranya.” timpal Om
Ical seraya mendekatkan tubuhnya yang sudah sama bertelanjang bulat dan
mengambil tangan Dita untuk diletakkan di batang penisnya yang masih
menggantung lemas.
Dita malu-malu manja tapi tangannya langsung menangkap
batang itu, menarik-narik, melocoknya dengan genggaman kedua tangannya sambil
memandangi benda itu.
“Yang enak tuh kayak apa sih?” godanya mulai bersikap
manja-manja genit.
“Yang enaknya.. ya jelas pake ini Di.” jawab Om Ical balas
menjulurkan tangannya meremas selangkangan Dita.
“Iddihh si OOm.. pengennya yang itu aja?” Dita pura-pura
jual mahal.
“Abisnya barang enak, jelas kepengen Di..” kata Om Ical
sambil mulai mengajak Dita berciuman.
Dita memang memberi bibirnya tapi dia masih kelihatan
setengah hati untuk balas melumat hangat, terlebih ketika akan diajak naik
tempat tidur dia seperti merasa berat.
“Nggak enak ah Om, sungkan aku itu tempat tidurnya Tante..”
katanya mengutarakan perasaannya yang tidak enak untuk bermain cinta di tempat
tidur keluarga itu. Om Ical rupanya bisa mengerti perasaan Dita, dia tidak
memaksa tapi menoleh sekeliling sebentar dan cepat saja menemukan cara yang
lain.
“Ya udah kalo gitu kita bikin sambil berdiri aja. Sini Om
yang atur, ya?” katanya sambil membawa Dita ke arah kaki tempat tidur dan
menyandarkan tubuh Dita di palang-palang besi tempat tidur itu.
Om Ical memakai tempat tidur mahal tapi model kuno yang
terbuat dari besi lengkap dengan tiang-tiang penyangga kelambunya. Di situ
pantat Dita disandarkan di pagar bawah tempat tidur yang tingginya pas
menyangga pantatnya, sedang kedua tangannya diatur Om Ical melingkar di
sepanjang besi melintang di antara dua tiang kelambu bagian kaki tempat tidur
yang tingginya setinggi punggung, sedemikian rupa sehingga tubuhnya tersandar
menggelantung di besi melintang itu hampir pada masing-masing ketiak Dita.
Suatu posisi yang unik untuk bersanggama dalam gaya berdiri karena setelah itu Om
Ical mengambil dua ikat pinggang terbuat dari kain, lalu mengikat masing-masing
lengan Dita pada besi melintang itu.
Dita menurut saja memandangi geli sambil menunggu apa yang
selanjutnya akan dilakukan Om Ical. Berikutnya barulah Om Ical mulai merangsang
dengan menciumi dan menggerayangi sekujur tubuh Dita dari mulai atas hingga ke
bawah. Berawal mengerjai kedua susu Dita dengan remasan dan kecap mulutnya dan
kemudian berakhir mengkonsentrasikan permainan mulut itu di selangkangannya,
membuat Dita yang semula setengah hati mulai naik terangsang. Malah terasa
cepat karena posisi kedua tangannya tidak bisa ikut membalas ini menimbulkan
daya rangsang yang luar biasa. Apalagi ketika mulut Om Ical mulai memberi rasa
geli-geli enak di vagina yang tidak bisa ditolak kepalanya kalau geli terlalu
menyengat.
Begitu tengah sedang asyik-asyiknya permainan pembukaan ini,
di teras depan Mifta terdengar mengalunkan suaranya berduet mengiringi Hari
dalam permainan gitarnya. Konyol memang buat Mifta, sahabat yang sedang
ditunggu-tunggu untuk janji pergi bersama, ternyata sudah sejak tadi ada di
dalam kamar rumahnya sendiri, sedang meliuk-liuk keenakan saat vaginanya
dikerjai mulut ayahnya, malah sudah tidak tahan rangsangan gelinya yang
menuntut untuk lebih terpuaskan lewat garukan mantap penis ayah Mifta sendiri.
“Ayyohh Om.. janggan lama-lama.. masukkin dulu Om punnyaa..”
bahkan rintih Dita sudah meminta Om Ical segera mulai bersenggama. Om Ical
tidak menunggu lebih lama. Dia segera bangun dan membawa penisnya yang setengah
menegang menempel di celah vagina Dita.
Membasahi dulu dengan ludahnya, menggosok-gosokan ujung
kepala bulatnya di klitoris Dita agar menjadi lebih kencang lagi,beritaseks.com
baru setelah itu mulai diusahakan masuk ke dalam lubang vagina di depannya. Dita
menyambut seolah tidak sabaran, menjinjitkan kakinya untuk mengangkangkan
pahanya selebar yang bisa dilakukannya tanpa bisa membantu dengan tangannya.
Dia terpaksa menunggu Om Ical bekerja sendiri menguakkan
bibir vagina dengan jari-jarinya agar bisa menyesapkan kepala penisnya terjepit
lebih dahulu, baru kemudian ditekan membor masuk. Meningkat kemudian lagu-lagu
cinta Mifta yang berduet dengan Hari mengalun romantis, ini senada dengan Dita
yang saat itu juga sedang merintih lirih, mengalunkan tembang nikmat ketika
vaginanya mulai disodok dan digesek ke luar masuk penis tegang Om Ical.
“Ngghh.. OOmm.. Sssh.. hhshh.. ngghdduuh.. sshsmm.. hdduhh Omm..
ennakk.. sshhh.. mmmh.. heehhs.. adduhh..” mengaduh-aduh rintih suaranya tapi
bukan kesakitan melainkan sedang larut dalam nikmat.
Kalau tadi Dita masih setengah hati untuk melayani nafsu Om Ical,
sekarang dia juga ikut merasa keenakan, karena bermain dalam variasi posisi
berdiri ini terasa santai dan mengasyikan sekali baginya. Tidak repot menahan
tubuhnya tetap berdiri karena bisa menggelantung dengan kedua lengannya, sambil
menerima tambahan enak tangan Om Ical yang meremas-remas kedua susunya,
memilin-milin geli putingnya, dia juga bisa ikut mengimbangi sodokan penis ini
dengan kocokan vaginanya.

Malah tidak berlama-lama lagi, ketika Om Ical sudah serius
tegang akan tiba dipuncaknya Dita pun mengisyaratkan tiba secara bersamaan.
“Aduuhh.. Omm.. ayoo.. sshh.. duh Dita mau keluarr.. sssh.. hhgh.. OOmm..”
desah Dita tertahan. “Aduhhssh.. Iya ayoo Di.. Om juga sama-samaa.. aahghh..”
segera mengejang Dita menyentak-nyentak ketika orgasme sinikuti Om Ical tiba di
ejakulasinya. Cerita Dewasa ini pun usai dengan kepuasan sebagaimana biasa yang
didapati keduanya setiap mengakhiri jumpa cinta mereka.

cerita seks 2016,cerita seks terupdate,cerita seks
terbaru,cerita seks,cerita ngentot 2016,cerita ngentot terupdate,cerita ngentot
terbaru,cerita ngentot,
Cerita Dewasa Bandar Domino, Poker Online, Domino QQ, Domino Online

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

.